Home » Dan at The Movies » CAPTAIN FANTASTIC (2016)

CAPTAIN FANTASTIC (2016)

CAPTAIN FANTASTIC: A TUG AT THE HEARTSTRINGS

Sutradara: Matt Ross

Produksi: Electric City Entertainment, ShivHans Pictures, Bleecker Street, 2016

captain-fantastic

Di tengah hingar-bingar blockbuster Hollywood, sesekali kita disuguhi film-film dengan skup jauh lebih kecil, namun bukan berarti tak punya kekuatan sama. Sarat akan nilai-nilai yang diusungnya dengan benar, not the at-your-face ones, juga memicu pemikiran tanpa harus mengorbankan sisi emosional demi dayatarik sebuah tontonan. Indie, bukan berarti harus kehilangan emosi.

Sebagai salah satu seleksi Un Certain Regard Cannes dari kiprah awalnya di Sundance tahun ini yang rata-rata jadi ajang kompetisi film indie yang mengedepankan konsep, ‘Captain Fantastic’ boleh jadi punya judul bombastis dan sedikit misleading. Tapi ia jelas bukan ada dalam genre superhero. Malah, premisnya tergolong aneh dengan karakter-karakter tak kalah aneh yang mungkin dibentuk jauh dari pola tipikal film-film sejenis, juga sekilas sangat beresiko dalam batasan penilaian moral serta empati pemirsanya.

capfanta1

Berbeda dari keluarga biasa, Ben & Leslie Cash (Viggo Mortensen & Trin Miller) mengasuh ke-5 anak mereka yang dinamai secara tak lazim; Bodevan (George MacKay), Kielyr (Samantha Isler), Vespyr (Annalise Basso), Rellian (Nicholas Hamilton), Zaja (Shree Crooks) dan Nai (Charlie Shotwell) agar tak punya duanya di tengah hutan Pacific Northwest. Jauh dari teknologi bahkan sekolah, anak-anak ini diajarkan hidup beradaptasi di tengah rimba seperti Tarzan tapi dengan bacaan-bacaan sejarah dunia hingga paham politik dan sejarah lintas negara. Namun ketika Leslie harus menjalani terapi kejiwaan hingga berakhir bunuh diri, Ben terpaksa memboyong mereka ke masyarakat umum buat menghormati wasiat terakhir Leslie. Ini tentu tak mudah, apalagi mertua Ben (Frank Langella) sejak lama berseberangan dengannya. Di situ lantas interaksi mereka saling diuji untuk melihat balik semua konsekuensi yang ada, juga buat melanjutkan hidup masing-masing ke depan.

Lihat betapa aneh dan kompleksnya premis itu. Faktor yang potensial menjadi flaws; bahwa karakter utamanya akan sulit mendapat empati atas pilihan ‘back to nature’ yang biarpun beralasan tapi aneh serta otoriter tanpa mempedulikan batasan tentang apa yang dibutuhkan anak dan apa yang seharusnya diperoleh anak. Tapi sutradara dan penulis Matt Ross yang selama ini berkarir sebagai aktor dan baru membesut satu karya indie28 Hotel Rooms’ memang dengan cermat mempertentangkan konsep-konsep edukasi anak ke tengah premis road trip di atas nilai-nilai keluarga yang dimunculkan lewat ‘twist and turn’ tak terduga.

capfanta2

Membiarkannya mengalir di bagian-bagian awal seakan membuat pemirsanya menjadi juri dalam sistem peradilan negaranya, tanpa sekalipun berusaha memanipulasi rasa agar keanehan-keanehan tadi menjadi lebih lovable, penceritaannya pun tak pernah menjadi kelewat linear membawa penontonnya menelusuri interaksi tiap karakter lewat penggal demi penggal informasi yang disemat ke tengah-tengah ide yang sangat potensial memicu perdebatan sosial antara alam dan teknologi. Bahwa tak ada karakter hitam putih di sini, tapi hampir seluruhnya hanya bangunan sebab dan akibat dalam kaitan konsekuensi.

Tapi semakin penceritaan itu bergulir, ‘Captain Fantastic’ memang menunjukkan keberhasilan Ross menarik tiap benang dari hati terdasar kisahnya. Di tengah keabu-abuan yang digelarnya, ia membawa kita, pemirsanya untuk mempertanyakan konsep-konsep yang selama ini kita yakini dalam hubungan-hubungan terdalam dari sebuah keluarga – dari pilihan edukasi sampai konsep integrasi. Membuat nafas tercekat dengan mata berkaca-kaca tapi tetap di tengah senyuman hangat. Semua pendukungnya bermain luarbiasa bagus dalam penelusuran emosi terutama Viggo Mortensen sebagai pentolan terdepannya. Di balik sosoknya yang gahar, Mortensen tetap bisa menokohkan seorang ayah yang terombang-ambing di tengah keteguhan sikap dan kasih sayang terhadap anak-anaknya dengan luarbiasa.

Sebagai anak-anak Ben dan Leslie, George MacKay sebagai Bodevan dan Nicholas Hamilton sebagai Rellian tampil paling menonjol menokohkan karakter masing-masing. Satu adalah remaja puber yang baru mengenal ketertarikan lawan jenis setelah belasan tahun bergelut seperti Tarzan di tengah hutan, dan satunya lagi sebagai kontras yang dibenturkan ke pilihan-pilihan otoriter orangtuanya. At many times, walau konflik-konflik ini tak bisa menghindar dari gambaran agak komikal, lewat skripnya, Ross tetap menahan turnover dan aftermath bentukan karakter-karakter itu sambil sesekali memuat kejutan di bagian masing-masing.

capfanta3

Selebihnya masih ada supporting cast yang bagus dari Kathryn Hahn, Steve Zahn dan Frank Langella, dan sisi teknis dari sinematografi Stéphane Fontaine serta scoring Alex Somers berikut pilihan soundtrack-nya juga membentuk blend yang sangat baik ke tengah penceritaannya. Lihat bagaimana sekuens ‘Sweet Child O’Minehippie-version-nya mengalir menuju konklusi akhir bersama unexpected twist dari drama bercampur road trip ke sisi teen adventure yang tetap ditahan dengan halus tapi punya impact tak main-main.

Ini memang tak pernah jadi sebesar blockbuster penuh aksi, tapi jangan tanya sehebat apa ia bisa menyelami hati dengan gaung yang akan bertahan lama setelah kita selesai menonton dan menyerap apa yang hendak disampaikan oleh Matt Ross. Like a tug at the heartstrings, ia fantastis tanpa harus jadi bombastis. (dan)

danieldokter

Daniel Irawan adalah pemilik situs ini.
danieldokter

Latest posts by danieldokter (see all)