Home » Events » REFLEKSI BUDAYA DAN FILM INDONESIA DI CROSSCUT ASIA TOKYO INTERNATIONAL FILM FESTIVAL 2016

REFLEKSI BUDAYA DAN FILM INDONESIA DI CROSSCUT ASIA TOKYO INTERNATIONAL FILM FESTIVAL 2016

0001

Tokyo International Film Festival (TIFF/TIFFJP) bukan baru sekali ini menyorot film Indonesia. ‘Daun di Atas Bantal’, karya Garin Nugroho sudah pernah meraih Special Jury Prize di edisi festivalnya di tahun 1998. Setelah itu, di edisi ke-24 tahun 2011 ada ‘The Mirror Never Lies’ dari Kamila Andini, putri Garin Nugroho – yang berhasil meraih penghargaan Toyota Earth Grand Prix dan Special Mention dalam kategori Winds of Asia – Middle East.

Di tahun 2012, salah satu segmen spesial ‘Indonesian Express’ juga memutar 7 film karya Garin (‘Soegija’ dan ‘Mata Tertutup’), Riri Riza (‘Atambua 39C’, ‘Laskar Pelangi’ dan ‘Sang Pemimpi’) dan Edwin (‘Babi Buta yang Ingin Terbang’ dan ‘Postcard from the Zoo’).

Di tahun-tahun berikutnya, film-film seperti ‘What They Don’t Talk When They Talk About Love’ karya Mouly Surya masuk ke dalam segmen non kompetisi ‘World Focus’ 2013 diikuti ‘Selamat Pagi, Malam’ dari Lucky Kuswandi untuk segmen kompetisi ‘Asian Future’ 2014 serta ‘Mencari Hilal’ (Ismail Basbeth) dan ‘Guru Bangsa Tjokroaminoto’ (Garin Nugroho) di TIFF ke-28 di tahun 2015, masing-masing di segmen Asian Future dan World Focus.

Namun tahun ini ada yang lebih spesial. Dalam hitungan lebih lagi, 10 film Indonesia karya sineas-sineas ternama kita akan mengisi segmen ‘Crosscut Asia’ di TIFF ke-29. Crosscut Asia merupakan sebuah program tahunan pertukaran budaya melalui film yang digelar TIFF dalam kerjasama mereka bersama The Japan Foundation Asia Center tiga tahun belakangan ini.

Menyorot film Indonesia sebagai fokusnya setelah perhelatan pertama Crosscut Asia meletakkan fokus ke sinema Thailand lewat subjudul ‘Thai Fascinating’ dan tahun berikutnya Filipina dalam ‘The Heat of Phillipine Cinema’ yang menghadirkan film-film karya Brillante Mendoza dan sejumlah sineas lain, kategori non-kompetisi dalam tujuan pertukaran film guna meningkatkan interaksi budaya Jepang dengan sejumlah negara di Asia ini juga secara lebih spesifik bertujuan mendorong pertukaran pekerja kreatif dalam membangun jaringan pekerja film profesional di negara-negara Asia selain tentunya ikut mempromosikan konten budaya mereka lewat film.

Di bawah bandrol ‘Colorful Indonesia’ menurut humas TIFF yang diwakili Hideko Saito, pilihan terhadap Indonesia tahun ini mendorong mereka buat belajar lebih buat mengenal Indonesia dan budaya-budaya yang direfleksikan melalui film-filmnya. Selain itu, Hideko juga menyebutkan bahwa akses publik Jepang untuk bisa menikmati film-film Indonesia selama ini juga masih cukup jarang dan terbatas hanya di festival-festival internasional saja.

Dalam press release resmi segmen ‘Crosscut Asia: Colorful Indonesia’ tahun ini, pihak TIFF juga menyorot eksistensi Indonesia sebagai salah satu negara Islam toleran dengan potensi diversitas budaya yang kaya dari 10.000 kepulauan dan produk-produk kreatif yang beragam. Masing-masing produk kreatif ini pun tidak hanya datang dari pusat industri perfilmannya di Jakarta, tapi dari banyak derah lainnya. Di antara nama-nama seperti Christine Hakim dan Garin Nugroho yang sudah lebih dikenal oleh publik Jepang, mereka juga menyadari bahwa sineas-sineas hebat seperti Riri Riza berasal dari Makassar dan Ifa Isfansyah dari Yogyakarta.

Crosscut Asia: Colorful Indonesia’ akan memilih beberapa nama untuk mempertontonkan karya mereka ke depan publik Jepang tahun ini, dari film layar lebar ke film pendek yang sudah memiliki prestasi ke festival-festival dengan skup film internasional lainnya. Didasari diversifikasi kebudayaan dalam refleksi karya-karya mereka, ada nama-nama seperti Teddy Soeriaatmadja, Kamila Andini, Angga Dwimas Sasongko, Edwin, Riri Riza dan Ifa Isfansyah.

0002

Film-film tersebut di antaranya adalah ‘Lovely Man’ dari Teddy Soeriaatmadja yang membuahkan Piala Citra FFI 2012 untuk aktor terbaik Donny Damara dan juga meraih Film Terbaik dalam Piala Maya 2012, ‘Filosofi Kopi’ karya Angga Dwimas Sasongko yang merangkum keberadaan Indonesia sebagai salah satu tuan rumah produk kopi dunia, ‘Someone’s Wife in the Boat of Someone’s Husband’ karya Edwin yang dibintangi oleh Nicholas Saputra & Mariana Renata, ‘Sendiri Diana Sendiri (Following Diana)’ karya Kamila Andini yang dibintangi Raihaanun & Tanta Ginting, dan sejumlah lain yang akan diumumkan di pengujung bulan ini bersama lineup lengkap TIFF ke-29.

Ada ‘Catatan Dodol Calon Dokter’ karya Ifa Isfansyah juga yang merupakan produksi pertama rumah produksi Korea terkenal, CJ E&M untuk Indonesia dalam treatment World/Asian Premiere. Dibintangi Adipati Dolken, Tika Bravani dan aktor senior Adi Kurdi, film yang diangkat dari novel komedi best seller karya Ferdiriva Hamzah ini akan menyorot kehidupan peserta pendidikan kedokteran di Indonesia.

Dibuka oleh film Stephen Frears, ‘Florence Foster Jenkins‘ dibintangi oleh Meryl Streep dan Hugh Grant yang kehadirannya akan menjadi highlight festival tahun ini, TIFF ke-29 akan berlangsung dari tanggal 25 Oktober hingga 3 November mendatang di tengah-tengah keramaian kawasan Roppongi Hills, Tokyo, serta beberapa lokasi lain perhelatannya.

Daniel Irawan

danieldokter

danieldokter

Daniel Irawan adalah pemilik situs ini.
danieldokter

Latest posts by danieldokter (see all)