Home » Dan at The Movies » THE MAGNIFICENT SEVEN (2016)

THE MAGNIFICENT SEVEN (2016)

THE MAGNIFICENT SEVEN: RATHER A SHAME TO THE ORIGINAL WESTERN CLASSIC

Sutradara: Antoine Fuqua

Produksi: MGM, Columbia Pictures, Village Roadshow Pictures, 2016

Hollywood agaknya sedang gemar-gemarnya mendaur ulang produk-produk lama mereka, tanpa peduli efeknya malah sering merusak nilai klasiknya. Di tengah resiko itu, ‘The Magnificent Seven’ yang punya nilai sakral bagi penggemar genre western atau sering disebut koboi di sini, untungnya, punya deretan cast yang menjanjikan seperti film aslinya. Disutradarai Antoine Fuqua yang juga sudah teruji di sejumlah film-film aksi – bahkan ‘Training Day’ yang berstatus award winning, ini jelas sebuah nilai tambah bersama ide baru menyusun ansambelnya dengan prinsip diversity yang sedang jadi trend di Hollywood – dari Indian ke koboi Asia.

Memindahkan setting-nya dari sebuah desa Meksiko ke kota fiktif bernama Rose Creek yang tengah diteror oleh industrialis pendulang emas Bartholomew Bogue (Peter Saarsgard), Emma Cullen (Haley Bennett) yang baru saja kehilangan suaminya, Matthew (Matt Bomer) di tangan Bogue lantas menyewa Sam Chisolm (Denzel Washington), seorang bounty hunter untuk membalas dendam. Chisolm yang menerima tawaran itu atas sebuah rahasia masa lalu dengan cepat mengumpulkan pasukannya – ada penjudi Josh Farraday (Chris Pratt), penembak ulung Goodnight Robicheaux (Ethan Hawke) dan asistennya Billy Rocks (Lee Byung-hun), buronan Meksiko Vasquez (Manuel Garcia-Rulfo), pelacak jejak Jack Horne (Vincent D’Onofrio) dan Indian Comanche Red Harvest (Martin Sensmeier). Bersama Emma dan Teddy Q (Luke Grimes), mereka pun merancang perlawanan terhadap Bogue dan begundal-begundalnya.

3

Skrip yang ditulis Nic Pizzolatto dari serial TV ‘True Detective’ dan Richard Wenk memang tak mengadaptasi mentah-mentah film aslinya yang juga merupakan adaptasi karya klasik Akira Kurosawa ‘Seven Samurai’ namun dipandang punya status klasik sama baiknya sekaligus jadi trendsetter ensemble action 7 karakter hingga sekarang. Begitupun, ide menyatukan karakter multiras ke dalamnya membuatnya terasa cukup fresh. Belum lagi scoring klasik Elmer Bernstein yang belakangan diakuisisi Marlboro, di sini digubah ulang oleh alm. James Horner dengan kreatif bersama Simon Franglen yang menyelesaikan komposisi Horner yang belum selesai. Versi aslinya pun ikut muncul sebagai penutup.

Namun sayangnya, Pizzolatto dan Wenk tak cukup dalam mengeksplorasi interaksi karakter-karakter tadi dengan penduduk kampung yang mereka lindungi se-detil apa yang dilakukan penulis William Roberts dalam film asli besutan John Sturges itu. Terlalu asyik menyemat adegan-adegan aksi bercampur komedi hingga melupakan bangunan chemistry-nya, ia melupakan faktor dan detil penting yang membuat mengapa ketujuh karakter itu jadi luarbiasa menarik di versi aslinya.

2

Dan yang terparah, Fuqua malah merusak semua dengan ending ceroboh tanpa justifikasi layak – serta terkesan rasis untuk tujuan awalnya yang antirasis – buat menghabisi karakternya satu-persatu. Sudah begitu, Peter Saarsgard sebagai villain, walau sudah dibantu oleh supporting part Cam Gigandet dan Jonathan Joss yang jatuh jadi karakter tambahan tanpa manfaat apa-apa, sama sekali tak sebanding dengan apa yang dilakukan Eli Wallach di versi orisinilnya.

Akhirnya, bukan saja kehilangan emosi, bangunan awal yang seharusnya bisa jadi lebih menarik itu malah hancur luluh-lantak, terburu-buru, sok asyik melucu di sana-sini serta keluar jalur dengan twist-twist klise yang entah datang dari mana hanya buat memberi kredit lebih buat aktor favorit Fuqua Denzel Washington – dan sepenggal ide diversity-antirasis yang malah jadi luarbiasa rasis. This could be good with enough respect to the original, but ruined by the clumsy and reckless ending. Walau bolehjadi seru dengan adegan-adegan aksinya, dari sisi penting lain dalam sebuah remake karya klasik, lagi-lagi, rather a shame to the original western classic.