Home » Dan at The Movies » CALL OF HEROES (危城) (2016)

CALL OF HEROES (危城) (2016)

CALL OF HEROES (危城): A CROSS OF KUROSAWA, SERGIO LEONE AND CHANG CHEH IN A META CLASSIC WESTERN

Sutradara: Benny Chan

Produksi: Universe Entertainment, Bona Film Group, Sun Entertainment Culture, iQiyi Motion Pictures, Long Motion Pictures, Alpha Pictures Investment (Beijing) Company, Zhile Culture Media, Beijing Jumbo Pictures Investment, Zhejiang Guanjian Films, 2016

call-of-heroes

Entah disengaja atau tidak, keputusan programmer bioskop kita merilis ‘Call of Heroes’ secara back-to-back dengan ‘The Magnificent Seven’ versi baru adalah treatment spesial. ‘Call of Heroes’ memang terasa sekali merupakan rendition dari film koboi klasik yang aslinya merupakan remake dari ‘Seven Samurai’-nya Akira Kurosawa. Namun lebih dari sekedar itu, film ini adalah sebuah meta dari banyak western klasik yang memang jadi template buat film-film kung fu era ’70 ke ’80-an. Pay closer attention, terlebih untuk penggemar genre western akan dengan mudah menemukan ada homage ke ‘Rio Bravo’ hingga ‘High Noon’ di dalamnya.

Yang membuatnya jadi tambah spesial, sutradara dan penulis skrip Benny Chan yang dalam karir panjang-produktifnya sejak ‘A Moment of Romance’ (1990) ke ‘The White Storm’ (2013), yang memang gemar sekali mencampuradukkan template film luar ke karya-karyanya, kini menginjeksikan signature dari tiga sutradara lintas kultural ke ‘Call of Heroes’. Ada Akira Kurosawa sebagai template utamanya dengan treatment spaghetti western yang memadukan genre war dan western dalam cakupan era setting-nya, namun kini ditambah dengan classic wuxia di atas ensemble play ala Chang Cheh buat penekanan kulturnya. Ada banyak film martial arts/wuxia yang menggunakan template sama, namun apa yang diramunya dalam ‘Call of Heroes’ berdiri di atas dasar homage yang sangat kental. Like one of a kind, ini jarang-jarang.

Mengambil set di era warlord – militia Cina di awal 1900-an saat Jendral Cao Ying menyerang Stone City, sebagian penduduknya, termasuk guru sekolah Bai Ling (Zhang Shuying) beserta anak-anak didiknya mengungsi ke sebuah kota kecil bernama Pucheng. Pemimpin kota, Sheriff Yang Kenan (Sean Lau), istrinya Chow So-so (Yuan Quan) bersama brigade kecilnya menerima mereka dengan baik bersama kedatangan pengembara – swordsman misterius Ma Fung (Eddie Peng) yang tertarik dengan Bai Ling setelah menyelamatkannya di sebuah warung. Namun justru muncul masalah lain saat seorang pejabat psikopat Cho Siu-lun (Louis Koo) menyatroni Pucheng dan melakukan pembunuhan keji. Menawan Cho Siu-lun untuk dieksekusi, barulah mereka mengetahui bahwa Siu-lun adalah putra Cao Ying saat kolonel Zhang Yi (Jacky Wu Jing) dan batalionnya datang dengan sebuah ancaman. Melepaskan Siu-lun dengan ancaman waktu sehari untuk meluluhlantakkan Pucheng dan seluruh penghuninya. Yang Kenan pun harus menentukan sikap di tengah ketakutan seluruh warga yang saling terpecah.

call_of_heroes1

Hal paling menarik selain perpaduan template serta signature lintas kultural itu adalah penempatan ensemble cast-nya. Benny Chan dengan berani menempatkan Sean Lau yang meski bukan baru sekali ini berkiprah di film-film aksi namun merupakan aktor watak yang terkenal dengan kemampuan akting ke komando utamanya, sementara Louis Koo bertransformasi menjadi spoiled psychopath dengan method acting dan Eddie Peng buat memerankan sidekick dengan treatmentcenter of the show’ di balik paras coverboy-nya. Menokohkan Ma Fung sebagai lone swordsman, pemabuk yang membiarkan kudanya menentukan arah pengembaraannya  dengan referensi kental ke karakter Kikuchiyo-nya Toshiro Mifune di ‘Seven Samurai’, di tengah-tengah mereka ada action icon Wu Jing yang juga diberi character arc cukup besar ke sempalan twist-nya.

Skrip yang ditulis Benny Chan bersama Doug Wong, Tam Wai-ching, Tim Tong dan Chien I-chueh menempatkan karakter-karakter utama beserta tambahannya dengan cermat pula. Tak pernah secara dangkal meletakkan motif-motif konfliknya, mereka dengan cerdas memuat alegori-alegori keadilan dan integritas ke tengah-tengah konflik persahabatan serta pengkhianatan dalam plot-nya. Sementara Sammo Hung sebagai action director yang juga muncul sebagai cameo menghadirkan adegan-adegan aksi inventif dari koreografi, set, properti hingga ke artileri yang digunakan. Dari cambuk yang menjadi senjata andalan Kenan – lewat penampilan penuh aksi Sean Lau yang belum pernah mencapai batas ini, ke props-props tambahan buat mendukung adegan aksinya seperti tumpukan kendi di salah satu klimaks terbaiknya, juga dalam adegan pertarungan di atas jembatan dengan kayu-kayu bertonggak tajam di sepanjang sisinya.

call_of_heroes2

Koreografi martial arts-nya pun jagoan. Tetap ada bantuan teknis, stunt hingga CGI yang taktis seperti usaha menyemat sebuah meta ke dalam set sempit ala film-film studio Shaw Brothers, namun gelaran adegan aksi dan pertarungannya digagas di atas keindahan gerakan yang sangat mengingatkan kita ke film-film wuxia klasik besutan Chang Cheh sebagai salah satu master-nya dulu. Setiap setup-nya yang digagas dengan cermat, membuat tiap pukulan yang dihadirkan ke tengah-tengah gelaran aksi itu terasa sangat hard hitting sekaligus heart pounding ke empati pemirsa yang juga dibangun dengan penuh perhitungan. Kita bisa begitu peduli ke karakter-karakternya, dari karakter utama ke side characters yang dihadirkan secara berbalik terhadap referensinya ke ‘The Magnificent Seven’. Ensemble-nya dimulai dari banyak menuju tujuh karakter jagoan utama mendekati pengujungnya.

Selebihnya adalah sinematografi cantik yang dipenuhi money shots dari DoP Pakie Chan, menangkap sisi koreografinya dengan sempurna di tengah color palette yang juga penuh homage ke paduan mishmash dan meta-narrative-nya, dan scoring Wong Kin-wai yang seringkali mengadopsi orkestrasi ala Ennio Morricone dalam penekanannya ke signature film-film Sergio Leone. Komposisi itu tak tampil secara banci ke semua adegan tapi tahu dimana ia harus diam dan bergerak memancing emosi pemirsanya ke tiap puncak konflik serta adegan aksinya. Di situ pula, judul yang menjadi alternatif dari titel awalnya, ‘Deadly Reclaim’ – jadi punya makna yang sangat dalam terhadap setiap alegorinya.

Evoking every feel ofThe Magnificent Seven’ jauh lebih dari apa yang dilakukan Antoine Fuqua dengan sugesti antirasis yang justru jatuh luarbiasa rasis dalam remake barunya, ‘Call of Heroes’ adalah sebuah cerminan penuh respek dari setiap paduan referensi yang dimuat seorang filmmaker dalam merefleksikan karyanya. Not only being one of this year’s best features, ini juga jadi salah satu pencapaian terbaik Benny Chan dalam karirnya. A cross of Kurosawa, Sergio Leone and Chang Cheh in a Meta Classic Western jelas bukan sesuatu yang mudah, dan ‘Call of Heroes’ berhasil hampir di tiap titik eksekusinya. Luarbiasa.

danieldokter

danieldokter

Daniel Irawan adalah pemilik situs ini.
danieldokter