Home » Dan at The Movies » INFERNO (2016)

INFERNO (2016)

INFERNO: MORE BOURNE / BOND THAN LANGDON

Sutradara: Ron Howard

Produksi: Columbia Pictures, Imagine Entertainment, LStar Capital, 2016

inferno

Perlu 7 tahun bagi sutradara Ron Howard untuk menyambung serial petualangan Robert Langdon (masih diperankan Tom Hanks), karakter fiksi dari novel karya Dan Brown yang diawali ‘The Da Vinci Code’ yang penuh kontroversi; seorang profesor ikonologi dan kriptologi yang bermain selayaknya Indiana Jones dengan misi ala James Bond dalam petualangan-petualangan lintas Eropanya. Melewati novel ‘The Lost Symbol’ yang banyak diharapkan fans-nya, Howard lebih memilih langsung ke novel ke-4, ‘Inferno’ yang dalam banyak hal mungkin seperti ingin menghindari pakem yang terus sama. Tapi jelas, ini punya resiko.

Dengan hint historiknya kali ini ke puisi Dante, ‘Inferno’ dibuka dengan terbangunnya Langdon di sebuah RS dalam keadaan amnesia setelah prolog yang melibatkan milyuner ahli genetik Bertrand Zobrist (Ben Foster) dalam sebuah insiden. Dibantu oleh dr. Sienna Brooks (Felicity Jones) yang kemudian menyelamatkan Langdon dari serangan sekelompok pembunuh, dari sebuah organisasi rahasia hingga agen-agen fiktif ala SWAT dari WHO, mereka pun berusaha menerjemahkan petunjuk yang ditinggalkan Zobrist, yang ternyata mengarah ke rencana gila Zobrist buat memusnahkan populasi dunia lewat serangan virus mematikan.

Melebarkan ancamannya terhadap dunia lebih dari part historic art yang kental, skrip dari David Koepp kini membawa Langdon dalam lintas lebih luas lagi dari Florence, Venice ke Istanbul hingga semakin terlihat seperti perpaduan antara James Bond yang harus menyelamatkan dunia dengan Jason Bourne yang sibuk menata kembali ingatannya yang hilang di balik intrik kriptikal yang dilakukan pihak-pihak misterius, yang meskipun tetap ada, tapi terpinggirkan oleh cat and mouse chase yang lebih bombastik dalam tampilan aksi. Howard dan Koepp lebih memilih mengubah beberapa pakem novelnya untuk tendensi ini, termasuk memberikan romance sparks dan love interest bagi Langdon lewat salah seorang karakternya,

Walau begitu, pilihan female sidekick yang diperankan Felicity Jones cukup memberi dayatarik lebih pada keseluruhan tampilannya. Karir Jones yang luarbiasa menanjak belakangan ini dengan keikutsertaannya di banyak film-film dan franchise besar termasuk the upcomingStar Wars: Rogue One’ memang sangat beralasan di balik tampilannya yang kuat. Selain itu ada supporting cast yang bagus dari Omar Sy, Sidse Babett Knudsen dari versi TV ‘Westworld’, aktris aksi Rumania Ana Ularu, penampilan singkat Ben Foster hingga aktor India Irrfan Khan yang saling berseberangan di tengah intrik dengan sepenggal twist menuju pengujungnya.

Dari sisi itu, ‘Inferno’ tetap menawarkan paket yang sama seperti dua pendahulunya, terutama dari sisi production values kelas blockbuster beserta seru-seruannya. Hanya saja, terdengar kurang seperti petualangan Langdon sebelumnya, setup yang jelas lebih kompleks dengan konflik utama ancaman mematikan tadi sayangnya tak cukup terbayar dengan proses-proses yang ada di tengah-tengahnya, yang lebih terkesan serba digampangkan ketimbang sebuah cryptical puzzle solid yang sama kompleks buat dipecahkan di tengah aksi petualangannya.

Signature petualangan Langdon masih muncul dari teka-teki simbol hingga kriptik di balik karya seni historis Dante, juga lewat sinematografi langganan Ron Howard; Salvatore Totino. Tapi tanpa bisa menjadi bagian terdepan seperti yang ada di dua film sebelumnya, pameran action hingga ke klimaksnya pun tak pernah jadi benar-benar maksimal dengan karakter-karakter yang terus berlari dan berkejaran di sepanjang film. Ini jelas tak jelek, namun mungkin Howard dan seluruh timnya harus mengakui bahwa ‘Inferno’, biarpun bekerja dengan baik sebagai big scale blockbuster, merupakan instalmen terlemah dari tiga film adaptasi novel Dan Brown miliknya. (dan)