Home » Dan at The Movies » A MONSTER CALLS (2016)

A MONSTER CALLS (2016)

A MONSTER CALLS: A BEAUTIFUL ODE OF LETTING GO

Sutradara: J.A. Bayona

Produksi: Apaches Entertainment, Telecinco Cinema, Peliculas La Trini, Participant Media, River Road Entertainment, Focus Features, 2016

a-monster-calls

Dari banyak Spaniards filmmakers yang memang seringkali punya inovasi lebih dalam menggarap sebuah karya, Juan Antonio Bayona (J.A. Bayona) lagi menambah list-nya. Dari horor ‘The Orphanage’ yang masih sering dipandang mengikuti seniornya, Guillermo del Toro, ia menunjukkan bagaimana sebuah disaster theme bisa punya impact luarbiasa kuat soal keluarga melebihi film-film yang bicara tentang bencana sama dalam ‘The Impossible’. Ini memang spesial. Bahwa mereka tak sepenuhnya orisinil dalam genre atau tema, tapi selalu bisa melangkah ke pendekatan unik yang membuat karyanya jadi berbeda. Tak heran kalau setelah ‘A Monster Calls’ yang dari perjalanannya ke festival-festival mendapat rave reviews dari kritikus, Bayona sudah siap diserahi kursi sutradara di franchiseJurassic Park’.

A Monster Calls’ pun dari sisi tema dan dasar storytelling-nya bukanlah sesuatu yang benar-benar orisinil. Sinema Rusia sudah pernah dua kali membuat pendekatan fantasi yang sama dalam dasar dunia realistis sebagai sebuah drama. Satunya ‘Branded’ yang bicara soal keruntuhan ekonomi dengan metafora monster-disaster, dan satunya, yang jauh lebih kuat namun mungkin belum terlalu banyak diakses di luar negaranya, ‘August Eighth’ (2012). Sama-sama menjadi tribute dan obituary ke sosok ibu di balik pesan penting soal coming of age, keduanya menggunakan storytelling metafor ke ranah fantasi dari sisi pemikiran seorang anak dalam mengatasi tekanan-tekanan yang mereka alami. Kedua film itu bagus luarbiasa, tetapi ‘A Monster Calls’ memang jauh lebih dalam mengeksplorasi tiap simbolnya, apalagi tanpa pendekatan fantasi itu, ia bisa kapan saja terjebak menjadi sebuah eksploitasi disease dan suffering porn biasa.

Conor O’ Malley (diperankan dengan sangat, sangat bagus oleh Lewis MacDougall dari ‘Pan’-nya Joe Wright) adalah anak dengan sejuta masalah. Tumbuh besar tanpa sosok ayah (Toby Kebbell) sejak kecil, ia juga kerap menjadi sasaran bully oleh rekan-rekan sekolahnya yang diprakarsai Harry (James Melville) tanpa bisa melawan. Tapi problem terbesarnya adalah satu-satunya tempatnya mengadu, sang ibu (Felicity Jones), justru tengah berjuang dengan penyakit terminalnya. Menempatkan Conor di tengah hubungan dengan neneknya (Sigourney Weaver), perempuan keras yang dianggapnya makhluk paling cerewet selama ini, dalam kemarahannya Conor akhirnya bertemu dengan sesosok monster dari pohon kuno, Yew Tree (Liam Neeson) yang datang padanya secara misterius memaksa Conor untuk mendengarkan tiga ceritanya.

Daya tarik utama dalam ‘A Monster Calls’ bagi banyak lapisan penonton memang harus diakui ada pada pendekatannya sebagai sebuah fantasi. Menggunakan voice tone spesial Liam Neeson di balik sosok monster pohon yang lagi-lagi tak sepenuhnya baru karena sudah ada ‘Groot’-nya Vin Diesel yang fenomenal dari ‘Guardians of the Galaxy’ bahkan antiheroThe Swamp Thing’ maupun salah satu karakter di ‘The Lord of the Rings’ – namun ada di feel yang beda dengan rongga-rongga bercahaya merah menyala kala ia tengah marah, juga mengingatkan kisah-kisah persahabatan seorang anak dengan sosok monster/raksasa yang baru saja muncul dalam ‘The BFG’, hebatnya, ‘A Monster Calls’ bisa lepas dari semua template itu.

Tapi sebenarnya inti kekuatan ‘A Monster Calls’ bukan hanya ada di visual – meski kerja DoP Óscar Faura ini tampil luarbiasa cantik, proporsional dan menyatu dengan layer-layer storytelling-nya, dan keberadaannya sekilas sebagai genre fantasi. Skrip Patrick Ness, penulis novel yang menjadi source-nya jelas bagus tapi memang faktor terkuatnya adalah penyutradaraan J.A. Bayona lewat tiap layer storytelling tadi. Bahwa semua simbol, dari yang pemilihan paling mendasar soal Yew Tree yang memang merupakan tumbuhan akar yang sejak dulu digunakan secara tradisional dalam pengobatan kanker – hingga simbol-simbol keterkungkungan yang tergambar lewat excerpt filmKing Kong’ klasik, memang bekerja membentuk koneksi-koneksi storytelling-nya.

And above all, bersama powerhouse acts dari segelintir karakternya, dari Lewis MacDougall, Felicity Jones yang tampil berbeda menanggalkan beauty attributes-nya ke Sigourney Weaver dan voice act Liam Neeson, bahkan Toby Kebbell yang tak mendapat porsi terlalu banyak serta penampilan singkat Geraldine Chaplin, plus scoring sama cantiknya dari Fernando Velázquez, hal paling spesial dalam ‘A Monster Calls’ memang adalah percikan emosi yang ditampilkan lewat semua elemen coming of age dan mother tribute itu. Meski berpijak di ranah fantasi, dramatisasi penuh dengan pendekatan manusiawi. Tak ada hitam putih di sini, tapi dalam setiap pengadeganan konflik-konfliknya dalam batas manapun – pertengkaran hingga kehancuran, satu yang terbaca dari akting mereka, adalah cinta.

Thus, ‘A Monster Calls’ adalah sebuah ode yang teramat sangat menyentuh buat orang-orang yang pernah ada di titik yang sama saat kehilangan orang-orang yang mereka cintai. Bayona memang menghancurkan kita pelan-pelan lewat guliran rekonstruksi yang dibalutnya dengan metafora fantasi, tapi di ujung terjauhnya, seperti apa yang dilakukan film Jepang ‘Be With You (Ima, Ai Ni Yukimasu)’ dan ‘Interstellar’, In the most heartful and thoughtful ways, ia mengajarkan kita yang pernah menghadapi saat-saat yang sama untuk pelan-pelan bisa melihat balik dengan kekuatan berbeda buat melepas semuanya dengan ikhlas. Ini jelas tak bisa dicapai semua filmmaker yang ada. A kind of film that help you make it through. A really, really, really beautiful ode of letting go. Luarbiasa. (dan)

danieldokter

Daniel Irawan adalah pemilik situs ini.
danieldokter