Home » Events » THE ASIAN THREE-FOLD MIRROR PROJECT: REFLECTIONS; HARMONI ASIA DI PROYEK KOLABORASI TIFF DAN THE JAPAN FOUNDATION ASIA CENTER

THE ASIAN THREE-FOLD MIRROR PROJECT: REFLECTIONS; HARMONI ASIA DI PROYEK KOLABORASI TIFF DAN THE JAPAN FOUNDATION ASIA CENTER

tiff-reflections

Kerjasama antara Tokyo International Film Festival (TIFF/TIFFJP) dengan The Japan Foundation Asia Center semakin berkembang dengan kolaborasi keduanya di proyek film yang mereka namakan ‘The Asian Three-Fold Mirror Project’. Sebagai film joint production pertama yang akan terus berlanjut dalam tahapan pertama hingga Tokyo Olympics & Paralympics 2020, film omnibus yang mereka beri judul ‘Reflections’ ini diisi oleh tiga sutradara Asia; Brillante Ma Mendoza dari Filipina, Isao Yukisada dari Jepang dan Sotho Kulikar dari Kamboja; yang sebelumnya sudah merayakan kemenangannya di TIFF edisi ke-27 lewat ‘The Last Reel’.

Bersama para aktornya, tiga sutradara Asia dengan status acclaimed ini menggelar konferensi pers menjelang penayangan perdana filmnya di TIFF tahun ini. Dalam konferensi pers itu, mereka mendiskusikan tantangan-tantangan yang dihadapi dalam pembuatan proyek kolaborasi ini; karya yang memotret visi mereka memandang Asia lewat kacamata masing-masing.

Melewati proses pemilihan ketiga sutradara ini, seperti yang dikatakan salah satu programmer TIFF, Kenji Ishizaka, ada banyak kriteria yang mereka pertimbangkan hingga proses finalnya. Titik utama sasarannya adalah gambaran karakter-karakter Asia yang beragam beserta latar masing-masing negara di balik keberadaan Jepang sebagai koneksi, juga sosiokultur seolah sebuah three-fold mirror dengan satu ujung akhir bernama Asia.

Diproduseri Takeo Hisamatsu, ‘Reflections’ diharapkan akan menciptakan pengertian serta empati mendalam terhadap identitas bangsa Asia melalui sinema sebagai medium utamanya.

tiff-reflections-mendoza

Baik Mendoza, Yukisada dan Kulikar mengaku bahwa ada penemuan baru dalam hasil pencapaian masing-masing karya. Bagi Mendoza, syuting pertama kali di luar negaranya untuk segmen yang diberinya judul ‘Shinuma Dead Horse’, berkisah tentang seorang pekerja ilegal (diperankan aktor veteran Filipina Lou Veloso) yang dideportasi dari Jepang dan kembali ke Filipina, membawanya mengekplorasi alam baru di tengah salju Hokkaido berikut semua tantangannya.

Sementara bagi Yukisada yang melakukan syuting di Malaysia untuk memotret kehidupan seorang mantan serdadu Jepang (diperankan aktor veteran Jepang Masahiko Tsugawa) yang tinggal di sana bersama tiga orang pengurus rumah tangga (dua di antaranya diperankan aktris Sharifah Amani dan komedian Sherry Al-Hadad) dalam segmen berjudul ‘Pigeon’ menghadapi situasi baru dalam menyatukan dua budaya.

Ini juga yang dirasakan oleh Sotho Kulikar, sutradara wanita Kamboja yang ikut bermain bersama aktor Jepang Masaya Kato dalam segmen berjudul ‘Beyond the Bridge’ dalam kisah cinta berlatar jembatan persahabatan Kamboja – Jepang. Bahwa membuat film dengan latar benturan dua budaya membawanya ke sebuah penemuan baru dalam karirnya, termasuk ikut berakting.

Aktor Lou Veloso ikut memberikan komentar atas pengalamannya membuat ‘Dead Horse’. Syuting di lokasi penuh salju Hokkaido benar-benar terasa sulit selain style Mendoza yang membuat film tanpa bergantung pada skrip dan kerap memberinya treatment yang belum bisa diperkirakannya dalam jalinan cerita film yang akan diperankannya. Sempat mengalami ‘swollen foot’ akibat cuaca dingin dan berinteraksi dengan kuda-kuda Hokkaido yang dirasanya berukuran sangat besar, Veloso mengatakan bahwa ia merasakan usaha Jepang untuk mendekatkan diri kepada saudara-saudaranya di Asia termasuk Filipina, Malaysia, Vietnam, Kamboja atau Indonesia; bahwa kedamaian di antara negara-negara itu membuat kita bisa belajar terus dari ragam budaya masing-masing.

Dalam mengerjakan ‘Pigeon’, sutradara Isao Yukisada merasa ia jauh lebih leluasa merasakan teamwork saat syuting di Malaysia ketimbang di negaranya sendiri. Refleksi terhadap atmosfer itu juga tergambar di dalam filmnya, bahwa ketegangan di balik karakter aktor Masahiko Tsugawa selalu bisa dicairkan oleh karakter yang diperankan Sharifah Amani, begitu juga dengan para kru-nya.

tiff-reflections-sharifah

Sharifah Amani kemudian berkomentar bersama Masahiko menceritakan pengalaman mereka. Sempat menangis karena profesionalisme Masahiko menyelami perannya, Sharifah akhirnya menyadari Masahiko memiliki komitmen besar untuk menampilkan method acting yang belum pernah didapatnya dari koloborasi dengan aktor lain. Masahiko Tsugawa yang akhirnya menyadari hal ini dari Yukisada dan meminta maaf pada Sharifah menambahkan bahwa industri film negaranya terkadang tidak dipandang sebagai bagian dari industri Asia, karena itu sangat perlu untuk memahami masing-masing kultur di luar ekonomi dan budaya, dan semakin banyaknya kolaborasi akan selalu menguntungkan bagi kedua belah pihak.

Mengenai ‘Beyond the Bridge’, Sotho Kulikar menjelaskan bahwa ia mengalami kesulitan saat harus syuting di Jepang dalam segmen yang menjembatani tiga dekade 60-an, 70-an dan 90-an ini. Membesut sebuah segmen lovestory antara aktor Masaya Kato dan penari kamboja Chumvan Sodhachivy yang ikut hadir dalam konferensi pers tersebut, di balik latar gejolak dua negara atas keberadaan Khmer Merah, proses-proses yang dilalui Sotho sungguh tidak gampang.

tiff-reflections-sotho

Aktor Masaya Kato ikut menekankan hal ini, namun merasa bahwa ‘Beyond the Bridge’ ikut memperluas pengetahuannya soal sejarah dan hubungan kedua negara. Human interactions, bagi Masaya Kato adalah hal terpenting dalam proyek-proyek kolaborasi, dan ia bangga bisa bekerjasama dengan Sotho. Bagi Chumvan sendiri, yang biasanya berprofesi sebagai penari, bermain dalam ‘Beyond the Bridge’ memberikan pengalaman baru baginya.

Panel kemudian ditutup dengan pernyataan Yukisada yang mengatakan bahwa tak ada satupun dari mereka seperti apa akhirnya bentuk proyek kolaborasi ini, namun hasil yang mereka capai, bagi Yukisada adalah sesuatu yang fantastis. Ia mengharapkan lebih banyak lagi kolaborasi antar negara dengan talenta-talentanya yang beragam dalam menciptakan sebuah film dengan standar global, paling tidak bagi Asia sambil ikut membuka mata audiens luar yang ikut menyaksikannya.

Proyek kolaborasi TIFF dengan the Japan Foundation Asia Center ini akan berlanjut di tahun-tahun berikutnya dengan sineas-sineas serta aktor berbeda menuju Olimpiade Tokyo 2020 nanti.

 

danieldokter

danieldokter

Daniel Irawan adalah pemilik situs ini.
danieldokter

Latest posts by danieldokter (see all)