Home » Dan at The Movies » HACKSAW RIDGE (2016)

HACKSAW RIDGE (2016)

HACKSAW RIDGE: A MIRACULOUS TRUE STORY OF UNCOMMON VALOR

Sutradara: Mel Gibson

Produksi: Cross Creek Pictures, IM Global, Demarest Films, Argent Pictures, Pandemonium Films, Permut Presentations, AI Film, Vendian Pictures, Kylin Pictures, Summit Entertainment, Icon Film, 2016

hacksaw-ridge

Lebih dari aktor, Mel Gibson adalah seorang auteur dalam karya-karya penyutradaraannya; ‘Bravehart’, ‘The Passion of the Christ’ dan ‘Apocalypto‘. Lama absen dari layar lebar dan sesekali bermain dalam produksi yang lebih ke B-class low budget, ia kembali ke kursi sutradara dalam ‘Hacksaw Ridge’ yang mengangkat kisah nyata seorang tim medis PD II peraih medali kehormatan, Desmond Doss. Ada banyak kisah nyata dengan latar sama, tapi yang membuat Doss menjadi spesial adalah ia menolak untuk mengangkat senjata selama ikut dalam pasukannya, tak menembakkan satu pun peluru, tapi berjasa menyelamatkan banyak orang.

Tumbuh besar di keluarga relijius, Desmond Doss (Andrew Garfield) yang hidup bersama ayah-ibunya Tom & Bertha (Hugo Weaving & Rachel Griffiths) di perbukitan Lynchburg, Virginia, terdorong untuk bergabung bersama pasukan perang di PD II. Namun menjalankan kepercayaannya, Doss menolak untuk mengangkat senjata sehingga dicap sebagai pembangkang yang bukan hanya kerap di-bully oleh atasan dan rekan-rekannya, tapi juga diperadilankan secara militer dan dipenjarakan. Susah payah akhirnya Tom mendatangi atasan Doss yang masih atasannya saat PD I untuk meminta keringanan, hingga akhirnya Doss membuktikan dedikasinya saat pasukannya harus menguasai daerah tebing di Okinawa yang dikenal dengan nama ‘Hacksaw Ridge’, menyelamatkan lebih dari 75 nyawa rekannya tanpa sekalipun mengangkat senjata.

Walaupun bernuansa relijius dan seringkali terasa preachy lewat pesan-pesan luarbiasa verbal – paling tidak dari banyak pengadeganannya, moral yang disampaikan ‘Hacksaw Ridge’ adalah pesan humanis yang sangat universal. Bahwa terkadang ada kegilaan yang kita jumpai di balik keteguhan seseorang memegang prinsip dan kepercayaannya. Doss, diperankan dengan emosi akting luarbiasa oleh Garfield, memilih berjuang untuk menyelamatkan nyawa ketimbang membunuh sesamanya, tanpa peduli resiko apapun yang dilaluinya.

Uniknya, Gibson – dengan signature yang kembali menempatkannya ke respek tertinggi sebagai seorang filmmaker, membentuk ‘Hacksaw Ridge’ nyaris tanpa kompromi, membenturkan kesadisan visual untuk penekanan realisasinya terhadap ambience relijius tadi, dari sekuens perang ke elemen-elemen medis yang tertata dengan akurasi cermat dalam latarnya, tapi tak lantas meninggalkan faktor ‘pop’ yang bahkan menyentuh gambaran-gambaran komikal yang sangat komunikatif terhadap pemirsanya.

Dukungan dari aktor-aktor lebih senior seperti Vince Vaughn, Sam Worthington, Luke Bracey, Teresa Palmer, Hugo Weaving dan Rachel Griffiths – sebagian di antaranya ada di kelas award nominees, juga membuat ansambelnya semakin solid di balik sinematografi cantik dari Simon Duggan dan penyuntingan John Gilbert. Scoring dari Rupert Gregson-Williams yang muncul cukup majestis juga tak pernah menahan penekanan emosinya. Wujudnya tetap sebuah film perang yang seru serta sadis luarbiasa dalam kelas blockbuster, namun ia menjadi begitu spesial di batasan manusiawi pesan-pesan yang sangat menggugah perasaan.

Di tangan sineas lain, ‘Hacksaw Ridge’ mungkin bisa terjebak ke film rohani dengan elemen-elemen verbal yang bertaburan sepanjang filmnya. Ini memang tak bisa dihindari dari penggambaran Doss yang membawa alkitab ke mana-mana bahkan tak rela meninggalkannya dalam keadaan apapun, dan banyak lagi kecenderungan penceritaan yang preachy, tapi Gibson memang memolesnya bagai sebuah keajaiban selayak kisah nyata Desmond Doss sendiri. Bahwa penggambaran-penggambaran over the top secara filmis dari skrip Andrew Knight dan Robert Schenkkan bisa divisualisasikan Gibson tanpa sekalipun terasa mengganggu, tapi sebaliknya, makin menguatkan semua sisi penyampaiannya.

Di tangannya, semua elemen-elemen itu bekerja dengan blend luarbiasa ke gambaran realita perang yang ditampilkan dengan kesadisan eksplisit. Biar sangat terasa sebagai siraman rohani ala Gibson, ‘Hacksaw Ridge’ tetap membuat kita tak bisa berkata tidak selain tergugah lewat quote jagoan yang selalu jadi inspirasi Doss saat berada di antara hidup dan mati menyelamatkan rekan-rekannya, ‘Please Lord, help me get one more’, hingga ke sekuens ending di mana Gibson menampilkan penggalan wawancara dengan tokoh-tokoh aslinya. Dengan caranya, Gibson meyakinkan kita bahwa dunia memang terkadang memerlukan manusia-manusia seperti Doss untuk membuat kita sadar akan nilai-nilai kemanusiaan dalam keadaan se-terpuruk apapun. Gore yet heartfelta miraculous true story of uncommon valor that works overall just like one. (dan)

danieldokter

Daniel Irawan adalah pemilik situs ini.
danieldokter

Latest posts by danieldokter (see all)