Home » Dan at The Movies » FANTASTIC BEASTS AND WHERE TO FIND THEM (2016)

FANTASTIC BEASTS AND WHERE TO FIND THEM (2016)

FANTASTIC BEASTS AND WHERE TO FIND THEM: A LAVISH, SPLENDID AND DAZZLING HARRY POTTER’S EXPANDING UNIVERSE

Sutradara: David Yates

Produksi: Heyday Films, Warner Bros. Pictures, 2016

fantastic-beasts

Walau belum berlanjut, para penggemar ‘Harry Potter’ agaknya tak perlu khawatir karena Warner Bros. dan J.K. Rowling, sang kreator, sudah menyiapkan spinoff-nya dengan karakter-karakter dari timeline berbeda dan elemen-elemen yang jelas sudah sangat mereka kenal. Diangkat dari buku berjudul sama dalam line up wizarding world-nya yang kini menempatkan Rowling langsung ke penulisan skripnya, ini bisa dipastikan akan berlanjut menjadi side-franchise selagi menunggu kemungkinan kelanjutan kisah tokoh novel fenomenal itu.

Berkisah 70 tahun sebelum kisah awal ‘Harry Potter’, ‘Fantastic Beasts’ mengisahkan Newt Scamander (Eddie Redmayne), penyihir lulusan Hogwarts yang berkunjung ke New York untuk menyelamatkan salah satu makhluk dunia sihir yang dikumpulkannya ke penangkaran rahasia dalam sebuah suitcase. Misi itu menjadi kacau dengan keterlibatan No-Maj (sebutan AS untuk Muggle) Jacob Kowalski (Dan Fogler) secara tak sengaja di tengah situasi yang menempatkan kementrian sihir AS, MACUSA dalam eksposur publik dan perlawanan dari perkumpulan anti sihir NSPS yang dipimpin Mary Lou Barebone (Samantha Morton) bersama anak-anak didiknya di balik maksud tersembunyi dari salah satu petinggi kementrian Percival Graves (Colin Farrell). Sementara Tina Goldstein (Katherine Waterston), mantan agen MACUSA yang mencoba membuktikan diri, bersama adiknya, Queenie (Alison Sudol) yang awalnya mencoba menangkap Scamander malah akhirnya bergabung untuk melawan kekuatan jahat yang sewaktu-waktu bisa memulai perang besar di antara mereka.

Walau punya atmosfer yang tak terlalu jauh beda, ‘Fantastic Beasts’ dibesut dengan imajinasi tinggi, juga luarbiasa liar, oleh sutradara David Yates (juga menangani Harry Potter sejak ‘The Order of the Phoenix’) dengan batasan tone cukup berbeda ke franchise aslinya. Ini sebenarnya lebih mirip seperti dua film Harry Potter pertama besutan Chris Columbus – yang lebih memfokuskan diri ke tampilan creatures dan acts of magic, menonjolkan sisi fun namun sama sekali tak se-childish itu. Namun sebagai spinoff, resikonya ada di komposisi karakternya; di mana Scamander sebagai lead-nya sebenarnya lebih mirip Ron Weasley ketimbang Harry Potter, sementara bentukan buddy feel-nya dengan Kowalski yang diperankan Dan Fogler juga lebih terfokus ke tampilan komedi, namun berada di atas intrik dunia sihir yang cukup menyentuh ranah gelap dalam sebuah fantasy tale.

Namun dukungan cast yang tepat dari Redmayne yang memaksimalkan physical acting talent-nya untuk memerankan Scamander yang awkward dan introvert di balik sebuah trauma masa lalu yang belum lagi dibuka secara keseluruhan, Ezra Miller, Katherine Waterston, Carmen Ejogo, Ron PerlmanColin Farrell ke Jon Voight dan penyanyi Alison Sudol yang bernama panggung Fine Frenzy sebagai salah satu scene stealer terkuat bersama Dan Fogler, bisa mengatasi resiko itu dengan baik berikut satu kejutan yang sudah berseliweran di sosmed di pengujungnya. Lantas efek visual hingga 3D yang terasa bak sebuah wahana raksasa plus scoring James Newton Howard yang tetap memasukkan elemen musik tema bikinan John Williams semakin memperkuat atmosfer petualangannya di tengah desain produksi sangat mewah sebagai blockbuster menjelang akhir tahun.

Lagi, sebuah adaptasi novel, apalagi yang punya fanbase sebesar Harry Potter, jelas akan hadir dengan resepsi sangat beragam berdasar interpretasi visual pembacanya masing-masing. Tapi apapun ceritanya, tanpa bisa terbantahkan, kesuksesan luarbiasa franchise layar lebar Harry Potter yang sebagian besar terletak di tangan Yates sudah menunjukkan resepsinya secara universal. Sebagian mungkin tak menyangka pergerakan instalmennya menuju pendewasaan karakter Harry Potter di novelnya – yang sudah dimulai Alfonso Cuaron di ‘The Prisoner of Azkaban’ berlanjut ke kiprah Yates di film-film sesudahnya yang lebih bernuansa muram bisa mencapai balance yang beda dengan ‘Fantastic Beasts’ sebagai spinoff-nya.

Begitu pula dengan skrip yang ditangani langsung oleh J.K. Rowling. Sisi penceritaan yang punya begitu banyak subplot dalam novelnya tentu punya sisi berbeda kala dipindahkan ke layar lebar, namun apa yang dilakukannya dalam ‘Fantastic Beasts’ – walau terasa punya template film-film superhero, agaknya sudah bekerja dengan sangat baik dalam sisi pengenalan karakter-karakter baru berikut bangunan universe-nya sebagai spinoff yang tak kalah menarik berikut fokusnya pada hal yang disemat menjadi judulnya. Bahwa Rowling tetap mempertahankan beberapa sisi penceritaan yang senada dengan franchise utamanya dengan trivial hints ke benang merahnya di sana-sini, tapi tak canggung kala harus bercerita ke ranah baru ‘Fantastic Beasts’ sebagai sebuah spinoff. Detil-detil expanding universe-nya mungkin hampir bisa menyamai apa yang dilakukan George Lucas dalam ‘Star Wars’, dan semua visual itu bisa diterjemahkan dengan sangat filmis oleh David Yates.

Jika setelah dua film pertamanya ‘Harry Potter’ menyelami ranah serba gelap serta rumit seperti berada di departemen musik klasik, Yates membawa ‘Fantastic Beasts’ dengan improvisasi ciamik seolah mendengarkan alunan musik jazz yang fun dan playful. Lavish, splendid and also dazzling, tanpa kehilangan kedalaman penceritaan di universe franchise-nya, ini bukan saja mengobati kerinduan (sebagian besar) fans-nya, tapi juga salah satu blockbuster dengan tampilan termegah tahun ini. (dan)

danieldokter

Daniel Irawan adalah pemilik situs ini.
danieldokter