Home » Dan at The Movies » AE DIL HAI MUSHKIL (2016)

AE DIL HAI MUSHKIL (2016)

AE DIL HAI MUSHKIL: AN UNCONVENTIONAL TALE OF UNREQUITED LOVE, KARAN JOHAR’S WAY

Sutradara: Karan Johar

Produksi: Dharma Productions, Fox Star Studios, 2016

adhm2

There are reasons why Karan Johar‘s is a Karan Johar‘s. Menjadi salah satu penerus digdaya sinema India dari ayah – Yash Johar dan paman – Yash Chopra, 2 raksasa terbesar sinema Bollywood – lewat ‘Kuch Kuch Hota Hai‘ yang luarbiasa fenomenal sekaligus mengembalikan sinema mereka ke singgasana paling terhormat dalam skup industri komersil, Karan tak lantas sekedar mengadopsi gaya konvensional dalam garis legacy itu.

Instead, mostly as writer or director, ia membawa sensitivitas beda yang membuat gambaran sinema Bollywood jadi sangat update dan naik kelas dalam skup internasional. Pretty faces, beauty looks, lavish sets – juga berkembang ke pola jualan sinema Asia yang memanfaatkan lokasi syuting luar negaranya dengan eksotisme beda, itu mungkin masih biasa. Tapi lihat cara Karan meracik semua di atas plot yang tak pernah jadi pretensius bersama hal-hal konvensional bersama kekuatan pilihan lagu sebagai identitas yang mendefinisikan Bollywood.

Ketika sebagian yang lain mulai berusaha mengeliminasi lagu dan tarian, sementara yang lain hanya menggunakannya selaku tradisi dan penghias, sebagai pendongeng sejati, lewat kedalaman lirik – melodi hingga staging musical scenes, Karan justru menjadikannya satu kekuatan. Ia tetap menjual mimpi, tapi di atas sebuah sense and sensibility berbeda yang terkadang menyentuh ranah kontroversial tapi bukan juga segamblang arthouse ala Mira Nair, making all of his films an instant classic, up there on Bollywood movie bibles.

Bukan jadi film Bollywood pertama yang bermain di ranah unrequited love, ‘Ae Dil Hai Mushkil‘ mengisahkan millionaire boy – turns – famous rockstar Ayan Sanger (Ranbir Kapoor) dan free-spirited girl Alizeh Khan (Anushka Sharma) yang terombang-ambing antara perasaan di atas prinsip keduanya yang bertolak-belakang. Putus dari satu pasangan ke pasangan lain (diperankan Lisa Haydon, Imran Abbas, Aishwarya Rai Bachchan dan Fawad Khan), plotnya tak lantas berkembang jadi sebuah ‘When Harry Met Sally‘-esque.

Dari lanskap London, Paris, Vienna hingga Lucknow, Uttar Pradesh, yang dieksploitasi secara panoramik oleh award winning DoP Anil Mehta (‘Lagaan’, ‘Hum Dil de Chuke Sanam’, ‘Kabhi Alvida Naa Kehna’) sebagai latar yang muncul secantik paras dan kostum mewah para pemerannya, Karan tetap setia mengusung makna yang ada pada judul pilihannya – tentang pilihan-pilihan hati yang kadang irrasional, complicated dalam lingkup ‘friendzone‘ tapi juga sekaligus realistis dan selalu ada di sekeliling kita.

Di situ, bersama penata dialog (departemen yang hanya ada di Bollywood) Niranjan Iyengar, Karan kali ini membangun storytelling-nya dengan elemen beda. Ada tribute ke sinema Bollywood oldies lewat song trivias dari ’60s classic ‘An Evening in Paris‘ – film yang diperankan great uncle-nya, Shammi Kapoor hingga funny musical scene rendition dari ’80s hitsChandni‘-nya Yash Chopra sebagai selebrasi karya generasi keluarga sekaligus ayah Ranbirthe famous Rishi Kapoor from his family dynasty, ke meta karya-karya Karan sendiri; dari ‘Kuch Kuch Hota Hai‘, ‘Kal Ho Naa Ho‘ ke ‘Kabhi Alvida Naa Kehna‘ plus cameo salah seorang muse actor-nya yang di-kredit spesial dengan titleI Love You‘. Membaur dengan elemen-elemen itu, Karan juga menyelipkan mocking-nya terhadap Bollywood movie cliches yang mungkin disalahartikan sebagian orang sebagai tired twist.

But look deeper dan lihat bagaimana Karan mengemas beberapa plot turnover paling klise dalam banyak melodrama cinta, dari airport scene ke selipan-selipan penyakit, yang justru ia gunakan sebagai layer buat menekan lagi konklusinya lebih dalam, sementara approach-nya ke elemen-elemen dewasa menyangkut explicit sexual suggestions – sesuatu yang selalu masih dipandang tabu dalam sinema mereka, lewat gestur hingga dialog sekali pun, sama sekali tak terasa murahan dan belum tentu bisa hadir se-classy ini di tangan sineas lain.

Lagi-lagi, sensitivitas yang dimilikinya, memang menggaris batas beda mengapa karyanya jadi salah satu yang selalu ditunggu banyak orang dan menempati slot termahal perilisan film-film India di perayaan hari-hari besar, termasuk dalam soal pemilihan cast untuk menerjemahkan bentukan karakter-karakternya yang unik dan punya pendalaman lebih. Film-film Karan selalu dibentuknya dengan karakter-karakter yang sekilas berpikir tak rasional demi cinta, sementara benturan rasionalitasnya justru muncul dari barisan supporting characters-nya. Ranbir – semakin memantapkan sensitive leading man image-nya menyamai sang ayah di deretan Bollywood classic romance, dan Anushka bermain dengan baik menerjemahkan lovey-dovey chemistry mereka, sementara bersama Aishwarya Rai di lapis teratasnya – yang kali ini di-plot dengan elegan sesuai usianya, bergantian menjadi scene-stealer dengan supporting cast  lain ke cameo terpentingnya.

Though overall, keberhasilan ‘Ae Dil Hai Mushkil’ mempresentasikan Karan Johars matchless ways in telling stories – mostly a romance yang selalu membuat pemirsanya terombang-ambing dalam perasaan, lagi-lagi, adalah kemampuannya menciptakan momentum; sesuatu yang membuat para pemirsanya mau balik lagi dan lagi untuk merasakan feel dan heart experience-nya lewat alunan musik dan lagu. Lewat lagu-lagu komposisi Pritam – in Bollywood music trends nowadays, yang begitu cepat melekat ke hati para pemirsanya;  theme songAe Dil Hai Mushkil’, raungan rock di ‘Bulleya’ dan sangeet (wedding ceremony) feel di ‘Channa Mereya’, meansMy Moon’/’Light of My Soul’ yang punya makna lirik terdalam buat penyampaian keseluruhan konklusinya, ‘Ae Dil Hai Mushkil’ adalah kesuksesan Karan Johar menciptakan momentum. Kapabilitas lebih yang menggaris batas jelas mengapa di tangannya, sebuah tema selalu bisa tampil secara tak biasa. (dan)

danieldokter

danieldokter

Daniel Irawan adalah pemilik situs ini.
danieldokter

Latest posts by danieldokter (see all)