Home » Dan at The Movies » DEAR ZINDAGI (2016)

DEAR ZINDAGI (2016)

DEAR ZINDAGI: A SOULFUL LOVE LETTER TO LIFE

Sutradara: Gauri Shinde

Produksi: Red Chillies Entertainment, Dharma Productions, Hope Productions, 2016

dear-zindagi

There’s something about Hindi cinema these days. Merambah ranah kontemporer film-filmnya, ia tak lantas beralih menjadi arthouse obscure yang tak ramah bagi penonton. Tetap menjaga batasan tanpa melupakan kultur mengapa Bollywood adalah Bollywood, Karan Johar adalah salah satu pionirnya. Benar bahwa ia memulai mendobrak industri yang bagai mati suri dengan film-film berkualitas rendah masih dengan gaya klasik di ‘Kuch Kuch Hota Hai’, tetapi makin ke sini, ia menggaris batas beda di film-filmnya. Dan ia membawa pengaruhnya ke sineas-sineas muda sekaligus talenta-talenta baru di bidang produksi untuk berkolaborasi menciptakan sesuatu yang beda.

Menggandeng Red Chillies Entertainment yang didirikan Shah Rukh Khan, salah satu muse terbesarnya bersama istrinya Gauri Khan, ia menggandeng Gauri Shinde, generasi baru women filmmaker Bollywood yang sebelumnya menelurkan ‘English Vinglish’ – yang membawa kembali diva sinema ’80an asal Tamil, Sri Devi, sebagai karya debutnya. Shinde yang sudah meletakkan fondasi kuat soal feminisme dan emansipasi gender dalam film itu sejauh ini memang merupakan author yang selalu menulis dan memproduseri sendiri filmnya. ‘Dear Zindagi’ sendiri kabarnya merupakan sebuah ‘labor of love’ bagi Shinde yang kali ini berkontemplasi soal hidup; menuangkan pandangan-pandangan kesetaraan gender yang walaupun mungkin melawan arus kultur konvensional sosial berikut film-film komersil mereka, tapi ada di pergerakan yang sama dalam sinema kontemporernya.

Berprofesi sebagai seorang DoP, Kaira (Alia Bhatt) adalah seorang free-spirited girl yang tak pernah menganggap serius soal cinta. Tapi saat Raghuvendra (Kunal Kapoor), seorang produser/sutradara yang terus mengejarnya malah bertunangan dengan mantannya, ia kembali ke kampung halamannya di Goa yang selama ini ia hindari. Di sana, atas tekanan-tekanan yang membuatnya sulit tidur – termasuk niat perjodohan dari kedua orangtuanya, ia mulai berkonsultasi dengan Dr. Jehangir ‘Jug’ Khan (Shah Rukh Khan), psikiater eksentrik yang menarik perhatiannya di sebuah acara. Perlahan, trauma-trauma masa lalu yang membentuknya menjadi Kaira yang sekarang mulai terbuka satu-persatu bersama sesi terapi yang berkembang menjadi rasa suka terhadap Dr. Khan berikut perkenalan barunya dengan Rumi (Ali Zafar), musisi yang dijumpainya di Goa.

Kekuatan terbesar ‘Dear Zindagi’ hampir sepenuhnya memang berada di tangan Alia Bhatt sebagai penggerak utama filmnya. Berkembang dari debutnya di ‘Student of the Year’-nya Karan Johar setelah sempat menjadi aktris cilik dalam ‘Sangharsh’ ke transformasi tak biasa di ‘Udta Punjabi’, Alia menunjukkan bahwa ia memang bukan sekedar produk nepotisme dari keluarga produser / sutradara / scriptwriter Mahesh Bhatt. Skrip yang meletakkan hampir semua dialog-dialog kontemplatif yang ditulis sendiri oleh Shinde ke karakternya di-handle Alia dengan rentang emosi yang sangat beragam dengan luarbiasa baiknya. Ia bermain begitu lepas, juga emosional di momen-momen yang membutuhkan itu, tapi tak sekalipun keluar batas menjadi overacting baik dalam gestur, intonasi dan ekspresi.

Sementara di ujung lainnya ada disposisi kuat dari Shah Rukh Khan. Mengaku perannya lebih merupakan extended cameo ketimbang supporting actor, Shah Rukh memerankan Dr. Jehangir Khan tetap dengan suave persona-nya namun di tangan Gauri Shinde tak sekalipun jadi over seperti rata-rata filmnya yang lain. Kualitas keaktorannya ditunjukkan Shah Rukh dengan batasannya sebagai sebuah disposisi tanpa pernah mencoba sekalipun menyaingi porsi Alia Bhatt sebagai sentralnya. Bagi superstar sekelas Shah Rukh, yang bukan pula tampil hanya dalam satu scene, ini tentu bukan hal yang mudah. Ia membangun chemistry luarbiasa kuat dengan Alia dalam momen-momen terkuat yang ada dalam ‘Dear Zindagi’; membuat pemirsa pria-nya bahkan mungkin bermimpi menjadi seorang psikiater eksentrik sementara yang wanita sebagai pasiennya.

Style Gauri Shinde mungkin membuat flow penceritaan ‘Dear Zindagi’ terasa sedikit beda sebagai arthouse ala Bollywood tadi, namun menuju babak ketiganya, Shinde bisa membuat semua eksposisinya sejak awal menjadi begitu relevan menuju konklusi yang meluluhlantakkan hati para pemirsanya soal keluarga dan pilihan-pilihan masa lalu yang membentuk masa depan. Pesannya bisajadi sangat biasa dalam mengajarkan pemirsanya tak gentar menghadapi hidup, tapi sama sekali tak terasa verbal dalam penyampaiannya.

Heartbreaking yet also beautifully moving bersama latar Goa yang selalu membentuk atmosfer beda di film-film Bollywood yang berlokasi di sana dengan distinct culture-nya; dari set, sinematografi Laxman Utekar hingga musik garapan Amit Trivedi sebagai bagian yang selalu padu di film-film mereka, Shinde pun tak melupakan justifikasi terhadap karakter-karakter sampingan termasuk Dr. Khan yang diperankan Shah Rukh bahkan Aditya Roy Kapur yang tampil sekilas namun penting dalam balutan konklusi itu. Ditambah selipan kehebatan Bollywood mengemas introduksi budayanya lewat alegori cerdas soal ‘kursi’ sebagai bahasa yang jarang mereka gunakan ketimbang ‘chair’, semua terjaga di batasan yang tak lantas jatuh menjadi overdramatized, merengek-rengek ataupun straightly menyemat ending yang menyelesaikan segalanya dengan klise.

Like a soulful love letter to life, ‘Dear Zindagi’ hadir sepuitis judul dan tampilan posternya. Ia boleh jadi bermain di ranah dramatisasi yang tak sepenuhnya baru dalam sebuah produk sinema kontemporer Bollywood, tapi punya elemen sangat kaya sekaligus bisa berbicara lantang soal banyak hal dari emansipasi gender, keluarga, cinta, persahabatan, trauma, tradisi bahkan parenting – dan secara keseluruhan, hidup. Ini lagi-lagi menambah deretan film-film terbaik Bollywood dalam pencapaian terbesar mereka di tahun ini, dan itu luarbiasa. (dan)

danieldokter

danieldokter

Daniel Irawan adalah pemilik situs ini.
danieldokter