Home » Dan at The Movies » HEADSHOT (2016)

HEADSHOT (2016)

HEADSHOT: A MIXED CUP OF BONE-CRUNCHING ACTION AND PULP ROMANCE

Sutradara: Timo Tjahjanto & Kimo Stamboel

Produksi: Screenplay Infinite Films, Surya Citra Media, Amuse Entertainment, Nikkatsu Corp, XYZ Films, 2016

headshot

Walau sudah menorehkan prestasi internasional yang juga sangat monumental, membawa nama Indonesia ke sinema dunia lebih dari film-film arthouse di ranah festival, ‘The Raid’ dan ‘The Raid 2’ ternyata masih belum mampu membuat genre action di sinema kita menjamur. Entah memang masalah bujet atau tak mampu menyaingi effort yang dibawa Gareth Evans, hanya ada paling satu dua judul yang tergolong lumayan.

The Mo Brothers; Timo Tjahjanto dan Kimo Stamboel; duo sutradara yang masih berada dalam convo itu; walaupun lebih ke genre cinema berbeda dari ‘Rumah Dara (Macabre)’ dan ‘Killers’, kini mencoba mendobrak kembali genre-nya lewat ‘Headshot’. Namun ada yang terlihat sangat spesial. Membawa kolaborasi Infinite Framework Studios dan Screenplay Production yang hampir 180 derajat bertolak-belakang lewat sebuah fusi baru bernama Screenplay Infinite, mereka mencoba menyatukan visi mendasar keduanya. Fantastic genre dan pulp romance ala Screenplay (‘The Magic Hour’, ‘London Love Story’, ‘ILY from 38.000 ft‘ dan seabrek FTV bernada sama) itu digabungkan ke dalam sebuah gore and bloody action fest. Nanti dulu soal acknowledgement-nya di banyak festival dunia hingga awarding lokal. Seperti apa jadinya penggabungan ini, itu yang lebih menarik buat dibicarakan.

Terdampar di sebuah pantai dengan keadaan koma dan amnesia, lelaki misterius yang dipanggil Ishmael (Iko Uwais) oleh seorang dokter muda, Ailin (Chelsea Islan) yang merawatnya, perlahan mulai mencoba mengumpulkan serpihan masa lalunya di bawah teror tak terduga dari sekumpulan pembunuh bayaran.

Premis itu memang terdengar sangat simpel dan bukan lagi hal baru di ranah genre-nya. Namun penggabungan style Screenplay bersama gory fest signature Mo Brothers yang digagas Timo yang menulis sendiri skripnya-lah yang menggaris batas beda hingga ‘Headshot’ terlihat lebih fresh menggelar kolaborasi yang ada di dalamnya. Ia tak lantas menahan skrip di bagian-bagian roman picisannya untuk sedikit pun terasa lebih pintar kecuali sedikit homage ke ‘Moby Dick‘ yang mungkin lepas dari perhatian sebagian orang. Dialog-dialog cheesy; sebagian seperti skrip internasional yang diterjemahkan bebas ke bahasa kita, yang juga diucapkan dengan akting seadanya kecuali dari para supporting characters-nya dibiarkan; seperti disengaja untuk mengalir membentuk satu kesatuan baru.

Selagi banyak film action yang meminggirkan kepentingan plot namun jatuh ke B-class, atau justru membaur dengan benar dan lebih ‘nyeni’ sebagai sebuah extreme love story, ‘Headshot’ sama sekali tak berada pada ranah yang sama. Tetap ada batasan beda di mana Timo – Kimo beserta krunya terlihat sekali memanfaatkan kapasitas bujetnya terutama dalam tampilan keseluruhan untuk membuat ‘Headshot’ tetap ada di A-class international actioners.

Sebagian memang harus diakui tertuang dengan baik, namun sayangnya secara keseluruhan, fusi itu belum lagi terasa benar-benar menyatu di beberapa bagiannya. Ada effort yang sangat admirable, tapi juga terasa tak benar-benar maksimal dalam sejumlah aspek. Put aside those script or acting problems yang memang tak perlu dipersoalkan dan kelihatan by purpose, ‘Headshot’ masih memiliki beberapa kekurangan untuk menahannya benar-benar jadi sesuatu yang sepenuhnya groundbreaking.

Salah satunya adalah camera work dari Yunus Pasolang yang kerap terasa disoriented dalam action staging, walau menonjol dalam merekam studio set-nya yang digarap lewat desain produksi apik. Koreografi aksi dari tim Iko Uwais jelas tak perlu dipertanyakan; namun sayang tak banyak menawarkan sesuatu yang benar-benar baru termasuk satu part adopsi dari trend knife fight yang digagas ‘The Man From Nowhere’ – yang muncul dalam durasi tak jauh berbeda dari apa yang mereka tampilkan lewat trailer-nya selain juga tak bisa benar-benar tertangkap lewat angle-angle shots dan hand-held style yang kadang terasa monoton. Selain itu, beberapa detil juga gagal ditampilkan dengan baik dengan adanya medical blunders – walau ini tak jadi masalah ke kebanyakan pemirsa awam dan tetap bisa berlindung di balik eksistensinya dalam genre fantasi. Efek visual dari Andi Novianto bekerja dengan baik, tapi beberapa aspek tata rias dari Kumalasari Tanara kadang terlihat tak benar-benar konsisten.

Tetap menemukan momentum-momentum terbaiknya lewat fighting scenes Iko vs. Very Tri Yulisman, duo Zack LeeDavid Hendrawan, atlit wushu peraih medali emas PON atau Julie Estelle yang lagi menunjukkan effort hebat beraksi dalam sweet violence action scenes-nya, plus penampilan singkat Epy Kusnandar – yang juga sangat disokong oleh tata suara dari Fajar Yuskemal (juga membesut scoring-nya) bersama M. Ichsan Rachmaditta dengan baik, penempatan Sunny Pang sebagai main villain di final showdown sedikit terasa menurunkan adrenalinepumped up-nya. Tak ada yang salah dengan Sunny Pang dalam kapasitas aktingnya, namun ia memang lebih ‘aktor’ ketimbang fighter yang bisa dibentuk sebagai lawan Iko Uwais, by gesture and physically, secara seimbang. Sama sekali tak jelek, namun tak bisa membuat pacuan adrenalin itu benar-benar memuncak pada klimaksnya. Salah satu adegan paling jagoan justru muncul bukan dari action scenes-nya, yang menampilkan method acting jempolan dari T. Rifnu Wikana dalam penampilan singkatnya. Sejumlah support lain dari Ario Bayu, Yayu AW Unru atau aktor Malaysia Bront Palarae juga turut mewarnai kemeriahan ensemble-nya.

Begitupun, ‘Headshot’ tentu bukan sebuah karya yang mengecewakan, dan bukan pula sepenuhnya berada dalam kotak, yang meski sulit dihindari, sebenarnya tak adil buat dibanding-bandingkan dengan ‘The Raid’. Menampilkan racikan yang tetap terasa fresh dari banyak elemen termasuk tampilan dan physical effort Chelsea Islan yang tak pernah kita saksikan sebelumnya – lebih dari sekedar nilai jual, juga Julie Estelle yang rasanya kian layak memperoleh porsinya sendiri sebagai female action lead, dan – ini tak main-main – menunjukkan sisi halus Mo Brothers bermain-main di ranah roman picisan tanpa sepenuhnya meninggalkan signature mereka, ‘Headshot’ tetap merupakan sebuah effort hebat yang layak dihargai lebih, dan ini yang terpenting. As a mixed cup of bone-crunching action and pulp romance, bahwa tak hanya tampil beda, mudah-mudahan ini mendorong sineas lain untuk meramaikan sinema kita dengan inovasi-inovasi lain di genre-nya. (dan)

danieldokter

danieldokter

Daniel Irawan adalah pemilik situs ini.
danieldokter