Home » Dan at The Movies » ROGUE ONE: A STAR WARS STORY (2016)

ROGUE ONE: A STAR WARS STORY (2016)

ROGUE ONE: A STAR WARS STORY; ALMOST AN ODE TO THE SAGA’S UNSUNG HEROES

Sutradara: Gareth Edwards

Produksi: Lucasfilm Ltd., Walt Disney Studios Motion Picture, 2016

rogue-one

Demam Star Wars agaknya belum lagi berakhir. Sekali waktu dulu genre ini pernah sangat beresiko buat penonton kita di masa rilis asli trilogi pertamanya, kini mengikuti trend dunia, ia sudah menjadi komoditas sinema nomor satu. ‘Rogue One’ sendiri bukanlah kelanjutan atau sepenuhnya merupakan prekuel dari ‘Star Wars’ melainkan instalmen pertama dalam rencana antologinya, berupa ekspansi universe space opera ini ke produk-produk spin-off yang mengacu ke banyak hal; bisa momen-momen penting atau karakternya.

Bermain seperti sebuah canon, ‘Rogue One’ mengambil rentang sebelum instalmen pertama ‘Star Wars’ (1977) yang belakangan diberi judul ‘A New Hope’ sebagai episode IV. Melawan kekuatan Galactic Empire dan Darth Vader (kembali disuarakan James Earl Jones), kelompok pemberontak Rebel Alliance merekrut Jyn Erso (Felicity Jones); cewek petualang yang menyimpan dendam masa lalu atas terbunuhnya keluarganya oleh Orson Krennic (Ben Mendelsohn), salah satu orang kepercayaan Empire. Di situ, ia bergabung dengan Cassian Andor (Diego Luna), mantan pilot musuh Bodhi Rook (Riz Ahmed), dua lone-warrior; si buta Chirrut Imwe (Donnie Yen) – pembunuh bayaran Baze Malbus (Jiang Wen) dan droid K-2SO (Alan Tudyk) dalam sebuah misi bunuh diri mencuri desain senjata pamungkas Empire, Death Star, agar dapat dihancurkan oleh pihak pemberontak.

Dari premisnya jelas bahwa ‘Rogue One’ yang merupakan spin-off pertama dari sederet rencana instalmen antologi ‘Star Wars’, memang merupakan ekspansi dari sebaris introduksi di kredit awal ‘A New Hope’. Tentang sekelompok pemberontak yang tergabung dalam Red Squadron yang membantu Putri Leia dan Luke Skywalker dalam misi menghancurkan Death Star. Menarik sedikit timeline-nya ke belakang, lewat skrip besutan Chris Weitz dan Gary Whitta, ‘Rogue One’ memang menghadirkan sejumlah detil yang dulu tertinggal sebatas introduksi itu ke fans dan pemirsanya sebagai hyperlink yang menyambung kontinuitas trilogi prekuel ke trilogi lanjutannya.

Sayangnya, skrip itu justru tak sepenuhnya bisa menyokong link-nya dengan betul-betul baik. Lagi, sutradara Gareth Edwards (‘Monsters’, ‘Godzilla’) pun tampaknya tak cukup menjiwai franchise ini seperti yang diharapkan. Konsepnya sejak awal memang luarbiasa menarik dalam melengkapi ‘Star Wars’ sebagai sebuah space opera dengan template film-film perang bertema misi rahasia. Ditambah diverse characters sebagai unlikely ensemble yang juga selalu jadi kekuatan di genre sejenis, yang terbayang di dalam benak kita adalah signature Edwards dalam dua film sebelumnya; yang sudah terbentuk dengan kuat membalut fantasi seperti sebuah balada yang mengalir dengan muram, pedih sekaligus puitis. Bahwa ‘Rogue One’ memang maunya menghadirkan sebuah ode tentang unsung heroes; pahlawan tanpa tanda jasa, Edwards jelas merupakan pilihan yang tepat. Seharusnya.

Kesalahan utamanya sama sekali bukan terletak pada adegan aksi yang tak seru; apalagi dayatarik lebihnya muncul dari nama besar Donnie Yen di action/martial arts genre yang juga selalu jadi hidden elements di universeStar Wars’. Bukan pula sepenuhnya dari scoring Michael Giacchino yang entah kenapa – kabarnya memang mau menekankan bahwa ‘Rogue One’ adalah stand alone spin-off, juga seakan gamang mau berpijak di mana dalam mengadopsi komposisi John Williams ke turnover-turnover nada yang sengaja diplesetkan, namun muncul seperti seorang composer yang terlihat ragu memainkan sebuah not dalam melengkapi bar demi bar komposisinya.

Namun yang paling fatal adalah interaksi yang tak terbangun dengan benar-benar baik diantara ensemble-nya. Skrip awal yang kabarnya belakangan banyak dirombak sekaligus di-re-shoots oleh Tony Gilroy itu memang terlihat mau meletakkan fokus utamanya pada karakter Jyn yang diperankan Felicity Jones dengan badass tapi seringkali tak konsisten, tapi lupa bahwa judul yang mereka usung juga memerlukan fokus cukup dari personil-personil lainnya. Belum lagi soal detil-detil operasional Death Star dan hint-hint lain universe ‘Star Wars’ yang semestinya tak mengharuskan pemirsa barunya buat bersusah-payah mengulik ulang ‘A New Hope’ atau membaca-baca companion infos-nya.

Selain Felicity Jones, ‘Rogue One’ pun salahnya tak benar-benar punya karakter pendamping yang solid untuk memperkuat excitement-nya. Diego Luna yang di-plot jadi sidekick dengan sugesti romance tapi tak pernah dibiarkan lepas, bersama Riz Ahmed yang underdeveloped berada di lapisan terlemah, sementara Donnie Yen dan Jiang Wen cukup berhasil memberi kemeriahan berbeda walau tak dibarengi justifikasi final karakternya – at least masing-masing masih punya satu sekuens highlight. Masih ada Mads Mikkelsen yang juga tak diberi porsi cukup buat penekanan salah satu motivasi terpentingnya, dan Forest Whitaker – dalam kesamaan halus tampilannya ke ‘Battlefield Earth’, juga tak berarti apa-apa. As for Ben Mendelsohn, meski sama sekali tak jelek, tapi memang ada di padanan keseluruhan ‘Rogue One’ sebagai spin-off. Ia tak pernah jadi sekelas Darth Vader, Darth Maul, Darth Sidious, atau bahkan Moff Tarkin. Scene stealer terkuatnya justru datang dari droid K-2SO yang disuarakan Alan Tudyk, yang malah mendapat justifikasi heroisme lebih di antara ensembel ini.

Begitupun, ‘Rogue One’ memang menunjukkan dalam kecenderungan banyak film sekarang dalam membuat istilah ‘reshoots’ dan intervensi studio justru jadi negatif, anggapan itu tak sepenuhnya benar. Look closer and pay more attention, kiprah Tony Gilroy – juga sudah bekerja dengan Edwards menambal-sulam skrip ‘Godzilla’ 2014, memang terlihat jelas bisa menyelamatkan ‘Rogue One’ dalam style dan signature berbeda dari Edwards, yang kabarnya tak bisa menyamai tone ‘A New Hope’ sebagai link penyambungnya, terutama dalam final sequence yang memang dipenuhi adegan aksi di sela bagian ballad-ballad puitis Edwards yang masih tersisa, yang bukan sepenuhnya tak bagus, namun memang gagal membentuk blend yang benar-benar padu dan sejiwa dengan franchise-nya.

Then somehow we know, Gilroy-lah yang menyelamatkan ‘Rogue One’ ber-manuver ke rasa nostalgik dan keseluruhan jahitan kontinuitasnya, membawa ‘Rogue One’ kembali menemukan momentum-momentum terbaiknya dengan respek penuh ke fansStar Wars’ di perempat akhir sejak ‘X-Wing dogfight’-nya dilepas mengangkasa ke kejutan besar di pengujungnya, bahkan bisa menutupi sloppy finale para karakternya yang memang predictable sejak awal. Ini jelas bukan tak bagus, hanya saja, ia mesti puas hanya bisa berada di ranahnya tanpa sekalipun bisa mengungguli induknya. Almost an ode to the saga’s unsung heroes, ‘Rogue One’ mostly stays just as links. Sebuah spin-off, dan tak lebih dari itu. (dan)