Home » Dan at The Movies » DANGAL (2016)

DANGAL (2016)

DANGAL: A SOLID SPORTS BIOPIC BEYOND WOMEN’S & NATION’S EMPOWERMENT, AND A FATHER TO DAUGHTERS JOURNEY

Sutradara: Nitesh Tiwari

Produksi: Aamir Khan Productions, UTV Motion Pictures, 2016

dangal

Sports biopic mungkin hal yang biasa. Tapi di tangan Aamir Khan, aktor yang kini beralih menjadi Bollywood auteur baik sebagai produser maupun sutradara di film-filmnya, seperti apa jadinya? Beranjak dari kesuksesan ‘Lagaan’ yang mengangkat statusnya, juga sebuah sports movie dengan historical sets, Aamir kini kembali ke ranah itu.

Menggabungkan dua elemen yang tengah marak di industri negaranya, cabang olahraga wrestling/kushti yang sudah diangkat sebelumnya dalam ‘Sultan’ dan kiprah Bollywood yang lagi getol-getolnya membahas persamaan gender dan pemberdayaan wanita, ‘Dangal’ adalah biopik berdasar kisah hidup Mahavir Singh Phogat, seorang ayah mantan atlit gulat yang mewujudkan mimpi melalui dua putrinya, Geeta Phogat dan Babita Kumari, membawa kemenangan pertama India di cabang olahraga itu di 2010 Commonwealth Games dengan medali emas dan perak, masing-masing di kategori 55 kg dan 51 kg. Seperti topik yang diangkatnya soal gender, ‘Dangal’ juga menjadi bagian dari kampanye sosial pemerintah India dalam perlindungan wanita, baik dari promosi pendidikan hingga aborsi.

Gagal mewujudkan mimpinya membawa medali emas di cabang olahraga gulat untuk India dan terpaksa melepas karirnya karena masalah finansial, Mahavir Singh Phogat yang hidup di desa kecil Haryana mengharapkan sang istri, Daya (Sakshi Tanwar) memberinya anak laki-laki. Namun nasib berkata lain. Melahirkan 4 kali, yang didapat mereka adalah anak perempuan. Sempat kecewa, semangat Mahavir bangkit kembali kala Geeta kecil (Zaira Wasim) dan Babita (Suhani Bhatnagar) menghajar seorang anak lelaki yang mengganggu mereka di sekolahnya. Melatih mereka luarbiasa keras dengan bantuan ponakan remajanya (Rohit Shankarwar; juga merupakan karakter yang menarasi seluruh cerita), bahkan memotong rambut melawan kemauan Geeta dan Babita, juga Daya, ambisi ini awalnya tak berjalan lancar hingga di suatu titik pertanyaan akan ambisi Mahavir terjawab dengan nasib anak-anak perempuan di desanya yang terpaksa dikawinkan di usia dini. Berbalik, mereka kini mendobrak batasan peranan wanita dalam pertandingan gulat tradisional setempat hingga Geeta & Babita dewasa (Fatima Sana Shaikh & Sanya Malhotra) mulai menarik perhatian nasional dan berlanjut ke Pelatnas di Patiala untuk mengikuti Commonwealth Games.

Dalam setiap sisinya, ‘Dangal’ memang sangat diwarnai dengan ambisi Aamir Khan yang selalu memoles film-filmnya dengan kesempurnaan penggarapan. Keep excelling himself in each film, Aamir bahkan menaikkan bobotnya hingga 50 pounds untuk memerankan Mahavir yang keras, ambisius, emosional namun tak sekalipun kehilangan sorot mata seorang ayah terhadap anak perempuannya. Tanpa pendukung dengan nama tenar, ‘Dangal’ justru menemukan titik terbaiknya lewat sosok Geeta muda dan dewasa yang masing-masing diperankan oleh Zaira Wasim dan Fatima Sana Shaikh yang sebelumnya tak pernah terlalu diperhitungkan di Bollywood. Menjelma menjadi Geeta yang menerjemahkan transformasi peran muda ke dewasa dengan estafet yang pas secara fisik berikut emosi berlapis luarbiasa baiknya, dari porsi drama ke gestur atlit gulat yang sangat, sangat, meyakinkan.

Sementara karakter Babita yang diperankan Suhani Bhatnagar dan Sanya Malhotra, bersama aktris TV-presenter Sakshi Tanwar dan Rohit Shankarwar tetap menciptakan layer dengan chemistry dan interaksi erat buat memperkuat tiap sudut penceritaannya. Bahkan karakter pelatih Pelatnas Patiala yang diperankan oleh aktor Marathi Girish Kulkarni dengan sentuhan totally comical, juga lawan Geeta dari Australia di pertandingan final, disetir sebagai antagonis yang menjaga ranahnya tak jatuh ke restrained emotions, satu yang tetap terjaga dalam sinema kontemporer Bollywood, bisa membentuk blend yang begitu padu dengan keseluruhan ensemble-nya. Walau kabarnya berbuntut tuntutan dari karakter asli yang diperankan Girish, pembelokan fiktif memang diperlukan demi tuntutan emosi dalam dramatisasi kisahnya. Membuat kita, pemirsanya, makin terpicu menuju finale part yang membenturkan semua moral dan elemen ceritanya seperti tengah menonton sebuah pertandingan olahraga yang luarbiasa seru.

Di sini pula, skrip yang ditulis sutradara kontemporer Nitesh Tiwari (‘Chillar Party’, ‘Bhoothnath Returns’ & ‘Kill Dil’) bersama Piyush Gupta, Shreyas Jain dan Nikhil Malhotra membangun storytelling-nya dengan sportsmanship penuh respek. Tahu bahwa mereka mengedepankan cabang olahraga yang masih jarang diangkat ke film walau sudah dimulai lewat fokus beda sebagai fiksi dalam ‘Sultan’, mereka menyemat satu informasi yang paling dibutuhkan pemirsanya dalam sports genre; rules of the game, yang sering dilupakan oleh sineas lain dalam genre sejenis. Memberikan batasan beda antara gulat tradisional mud-wrestling dengan turnamen internasional, detil-detil tentang perolehan angka pun tak luput dimunculkan untuk membuat setiap guliran pertandingannya bisa dinikmati dengan jelas, dimana pendekatan teknis olahraganya jauh lebih bekerja ketimbang penekanan fisik.

Bersama kekuatan itu, sisi teknis ‘Dangal’ pun membentuk sinergi yang kuat lewat sinematografi award winning DoP Sethu Siram dan tetap, persyaratan utama dalam produk industrinya, musik yang dikomposisi oleh Pritam. Sematan lagu-lagunya tak lantas mengganggu pace storytelling-nya, sementara scoring-nya di tiap bagian tetap memberikan anthemic ambience tanpa terjebak menjadi stirring ke bangunan emosinya. Unsur-unsur ini memberikan fondasi sedemikian kuat hingga tahapan-tahapan pengadeganan turnamen yang dihadirkan Nitesh Tiwari tak lagi perlu dibombardir dengan slo-mo atau orkestrasi lebih. Semua bergulir sebagaimana adanya, tapi di tiap intinya, ada kekuatan yang terbaca dengan scenes staging yang tepat untuk membuatnya proses-proses itu tetap berjalan dengan seru.

Tapi yang paling dahsyat dari ‘Dangal’ tentulah subtexts-nya, dan inilah kekuatan sinema India menghadirkan sematan moral sejenis ke dalam film-film mereka. Bahwa mereka tak perlu melepas hal-hal formulaic yang mendefinisikan sinemanya sejak dulu agar tetap bisa dipandang sebagai sesuatu yang lebih. Dan ‘Dangal’ punya banyak sekali subteks lebih dari sekedar sports biopic biasa.

Dari women’s and nation’s empowerment yang memang sangat membuka mata dan pantas buat dibanggakan, di mana Haryana, kampung asal pahlawan-pahlawan pemberdayaan gender dan manusia ini memang dikenal sebagai situs paling terbelakang dalam persamaan gender di negaranya, ke protes-protes keras tentang sportivitas dan aturan-aturan kelembagaan dengan detil yang menyentuh hal terkecil soal metode pelatihan, strategi pertandingan atau pengaturan diet, semua muncul sebagai layer kuat untuk keseluruhan penceritaannya. Bahkan tanpa perlu menampilkan yell-yell penyebutan negara di tengah pertandingan seperti yang biasa dilakukan di banyak genre sejenis, Nitesh dan Aamir membelokkan klimaksnya dalam permainan editing dari Ballu Saluja untuk membuat patriotism feel-nya hadir dengan sentuhan luarbiasa.

Di atas semuanya, ‘Dangal’ melemparkan pertanyaan penting, berani serta thought-provoking soal parenting dalam konteks sportsmanship, juga pandangan sosial dengan lapis berbeda antara ayah dengan anak (perempuan) atau atlit dengan pelatihnya. Mereka memilih penggambaran ekstrim yang bahkan dikemas lewat lirik lagu penuh protes yang mengiringi adegannya, semata-mata buat membenturkannya dengan persepsi moral soal keterbelakangan gender dan edukasi sebagai komparasi, yang walau ditampilkan secara verbal, tapi mampu mengetuk hati kita sebagai sasarannya. Kita boleh tak setuju pada awalnya, yet in the end, tanpa harus mengkultuskan source characters-nya, kita terpicu untuk ikut berdiri dan bersorak menyemangati karakter-karakter itu dan mengamini perjuangan mereka. Raising these issues, ‘Dangalwill grip you tight and win your heart on an ultimate father to daughters journey. Absolutely one of this year’s best! (dan)

danieldokter

danieldokter

Daniel Irawan adalah pemilik situs ini.
danieldokter

Latest posts by danieldokter (see all)