Home » Dan at The Movies » RAILROAD TIGERS (2016)

RAILROAD TIGERS (2016)

RAILROAD TIGERS (铁道飞虎) : JACKIE CHAN’S RETURN TO FORM AS BUSTER KEATON OF MARTIAL ARTS

Sutradara: Ding Sheng

Produksi: Shanghai Film Group, Yaolai Entertainment Media, Shanghai New Culture Media Group, Beijing Motianlun Media, Yuyue Film Company, 2016

railroad-tigers

Di usianya yang sudah menginjak kepala 6, Jackie Chan ternyata belum mau pensiun dari karir layar lebarnya. Malah, ia semakin unjuk gigi menggamit karir hiburan lain sebagai cultural icon peraih penghargaan khusus Oscar yang makin aktif mempromosikan negaranya, dan ini nampak dari sejumlah film-filmnya dalam pergerakan pesat China di jalur yang sama. Menyemat bukan saja pengenalan budaya tapi juga hingga ke penanaman nilai-nilai patriotisme dari sejarah panjang mereka sebagai salah satu invasi terbesar Asia sekarang ini yang tak mau kalah dari Korea. Setelah ‘Railroad Tigers’, ia sudah bersiap dengan ‘Kung FuYoga’ buat menyambut Chinese New Year mendatang. Belum lagi ‘The Foreigner‘ yang mempertemukannya dengan Pierce Brosnan dalam tampilan yang sangat berbeda.

Tapi ada yang sangat menarik dari ‘Railroad Tigers’. Mari lupakan ‘Skiptrace’ sebagai joint venture internasional yang lebih berupa promosi wisata setempat – walaupun Renny Harlin terlihat tahu betul cara meng-handle pola aksi Jackie. Bukan pula ‘CZ-12’ atau instalmen ‘Police Story’ terakhir jatuh sebagai film yang jelek, namun kekecewaan bertahun-tahun menyaksikan film-film Jackie Chan terutama dalam porsi aksi dan root style-nya yang dulu sempat dijuluki Buster Keaton of Martial Arts memainkan slapstick action – kini kembali hadir dengan solid di sini. Real fans Jackie yang mengikuti sepak terjangnya sejak awal, mengapa seorang Jackie Chan menjadi Jackie Chan yang ikonik dan mendunia, tentu bisa melihat ini, tanpa melihat dulu seperti apa kualitas keseluruhan dari ‘Railroad Tigers’.

Dalam trend suicide mission themes di war genre yang tengah menjadi trend sekarang, termasuk ‘Rogue One’ barusan, ‘Railroad Tigers’ mengisahkan sekelompok pemberontak China di medio perang Sino-Japanese (Tiongkok – Jepang) kedua tahun 1941 yang beraksi seperti ‘Robin Hood’ membajak ransum dari kereta Jepang. Di bawah pimpinan Ma Yuan (Jackie Chan) yang sehari-harinya bekerja sebagai kepala porter, mereka memutuskan untuk berjibaku meneruskan misi Tentara Revolusi Rute ke-8 membajak kereta Jepang yang berisi amunisi untuk meledakkan sebuah jembatan di perbatasan. Ma Yuan dan pasukan pemberontaknya (diperankan Huang Zitao, Jaycee Chan dan koreografer Alan Ng, diantaranya), termasuk seorang sniper pemilik warung mie (Wang Kai) pun mesti berhadapan dengan ratusan tentara Jepang di bawah pimpinan Kapten Yamaguchi (Hiroyuki Ikeuchi) dan femme fatale-nya (Zhang Lanxin) yang luarbiasa sadis.

Meneruskan kerjasamanya dengan sutradara Ding Sheng setelah ‘Little Big Soldier’ yang lebih berupa satire dan ‘Police Story 2013/Lockdown’ yang gelap dan jauh lebih dramatis, ‘Railroad Tigers’ yang juga ditulis oleh Sheng ada di ranah berbeda. Menahan tone-nya sebagai family friendly action comedy walau basisnya ada di tema suicide squad – war genre yang seru bahkan sadis, racikannya menjadi sesuatu yang unik dan sangat Jackie, mengembalikan style Jackie Chan memainkan Buster Keaton Asia di tengah set piece yang bisa disejajarkan dengan salah satu masterpiece genrenya, ‘The General’ – yang dulu juga pernah dihadirkan Jackie lewat ‘Project A’, lebih kurang.

Di situ, Ding Sheng dan Jackie dengan asyik menyemat referensi-referensi mereka ke banyak action klasik, dari ‘Millionaires Express’, all star ensemble cast Hong Kong ’80-an hingga film-film perang klasik Hollywood soal misi peledakan jembatan macam ‘Bridge on the River Kwai’ ke ‘Force 10 from Navarone’, bahkan komedi western ‘Silver Streak’ yang sama-sama menempatkan keretaapi sebagai set piece utamanya. Semua di atas production design tak main-main dan meski permainan CGI-nya kerap terasa kurang maksimal, ‘Railroad Tigers’ tetap menunjukkan keseimbangan bujet produksi yang cukup besar tanpa harus kehilangan excitement-nya dalam adegan-adegan seru terutama di part finale-nya. Di tengahnya, tetap ada aksi Jackie Chan, satu yang terbaik dalam beberapa tahun terakhir, membawa style slapstick martial arts action yang sangat menjelaskan koreografi khasnya.

Elemen komedinya pun jadi salah satu juara dalam ‘Railroad Tigers’. Dibesut Sheng lewat skripnya dengan kecerdasan lebih ke fokus culture and language play hingga pakem heist comedy ala Escape to Athena atau Kelly’s Heroesbagian-bagian komedi ini memberi keseimbangan yang baik dengan aksi dan storytelling – tampilan pengenalan karakter ala Guy Ritchie yang di sini sering diadopsi Anggy Umbara di film-filmnya, sekaligus menjadi fondasi untuk menahan semua elemen action-nya tetap berada dalam atmosfer komedik. There may be victims, death, gunshot wounds even body parts, tapi tak pernah sekalipun meninggalkan tawa dan slapstick play ke tengah-tengahnya. Lagi-lagi, basic-nya memang ada di ranah Buster Keaton-esque ke animasi model Tom & Jerry atau Looney Tunes.

Begitupun, bukan ‘Railroad Tigers’ sama sekali tak punya kekurangan. Benar bahwa faktor usia dan promosi regenerasi membuat Jackie harus berbagi bukan hanya dengan putranya sendiri kali ini, Jaycee Chan (salah satu highlight scene bapak dan anak ini ada di self-mocking physical comedy-nya), juga banyak bintang muda potensial termasuk Wang Kai yang begitu mencuri perhatian bersama villain Hiroyuki Ikeuchi yang sebelumnya kita lihat lewat ‘Ip Man’ dan femme fatale Zhang Lanxin dari ‘Chinese Zodiac’. Karakter-karakter yang sedikit penuh sesak ini mau tak mau sedikit banyak mengurangi porsi aksi Jackie dan bisa jadi sedikit melebarkan porsi pengenalan serta berpotensi membingungkan sebagian pemirsanya. Masih ada pula surprise cameo di pengujungnya.

Lantas resikonya mengedepankan slapstick action yang tetap tak meninggalkan ranah komedi, sedikit mengurangi porsi drama yang seharusnya bisa dibangun lebih baik lewat kehadiran karakter penjual pancake yang jadi induk semang para pemberontak dan menyiratkan romance part-nya dengan Jackie, diperankan Fan Xu yang secara fisik terus terang, tak menjual dan kelihatan jauh lebih tua dari Jackie. Then again, mungkin ini bukan jadi sesuatu yang penting buat menyelipkan patriotisme China soal Eighth Route Army yang jadi bagian dari sejarah, hingga habis-habisan membuat musuh mereka menjadi badut yang meski tergambar sadis tapi di-bully habis-habisan dengan mocking humor sampai membawa-bawa tradisi ‘sepukku/harakiri’ yang diplesetkan dalam satu highlight komedi terbaiknya.

Di balik sebagian kekurangan itu, ‘Railroad Tigers’ tetaplah merupakan kiprah terbaik Jackie Chan dalam beberapa tahun terakhir. Dari set pieces yang mewah, slapstick comedy yang hilarious ke action-nya yang luarbiasa eksplosif di final showdown-nya, ini adalah Jackie Chans return to form ke inspirasi bentukan style selama karir panjangnya yang sudah kita tunggu-tunggu sejak lama. Buster Keaton of Martial Arts. (dan)

 

danieldokter

danieldokter

Daniel Irawan adalah pemilik situs ini.
danieldokter

Latest posts by danieldokter (see all)