Home » Dan at The Movies » MY MOVIE JOURNAL: THE BEST INDONESIAN MOVIES OF 2016

MY MOVIE JOURNAL: THE BEST INDONESIAN MOVIES OF 2016

MY MOVIE JOURNAL : THE BEST INDONESIAN MOVIES OF 2016

collage-2016-12-31-10_44_02

Dengan 9 dari 10 film terlaris yang mencapai titik 1 juta penonton, bahkan bisa mengalahkan blockbuster-blockbuster luar unggulan yang dirilis di saat yang sama, film Indonesia mendapatkan momentum terbaiknya di tahun 2016. Tak hanya dalam pencapaian itu, sebagian produser kita mulai berani merambah genre yang selama ini dianggap beresiko, dengan ide-ide baru yang fresh dalam penciptaan plot.

Itu juga yang menjadi salah satu tujuan diadakannya kategori baru dalam ‘Piala Maya’ ke-5 barusan; yang memberikan penghargaan terhadap ide cerita buat ‘Sunya’ dari Harry Dagoe, ‘Terpana’ dari Richard Oh serta ‘Bangkit’ dari tim Oreima dan Kaninga Pictures dalam genre disaster pertama yang benar-benar punya konsep baku seperti film-film luar, bukan hanya sekedar latar. Walau mungkin masih punya banyak sekali kekurangan, paling tidak effort-nya harus dihargai lebih. Ada pula ‘Pantja Sila: Cita-Cita dan Realita’ yang jadi one of a kind documentary feature yang berbicara lantang terhadap akar keragaman negeri ini. Belum lagi maraknya film-film daerah yang meski secara kualitas teknikal belum bisa dibandingkan, namun paling tidak ‘Uang Panai’ yang laris manis di daerahnya menyemat sindiran kulturalnya dengan sangat fresh.

Sementara pergerakan sinema alternatif sebagai subkultur film kita juga bergerak semakin baik di tahun ini. Walau masih ada ketidakjelasan penggolongan film bioskop dan non-bioskop di balik keinginan semua mencari dukungan dari berbagai pihak termasuk dalam hal bujet untuk bisa tayang secara nasional di jaringan ekshibitor; bukan bioskop-bioskop alternatif dengan kapasitas terbatas, paling tidak sebagian karya di tahun ini menunjukkan kemajuan – dengan sorotan internasional yang makin meluas seperti Tokyo International Film Festival ke-29 tahun ini yang memilih fokus salah satu segmennya buat menghadirkan showcase spesial berisi 12 film-film Indonesia.

Di satu sisi kita semua sebagai stakeholder-nya boleh berbangga, sebenarnya masih banyak yang harus dibenahi dari film kita.  Dari pola-pola peredaran yang ada, masih banyak karya-karya baik bahkan dengan potensi yang sebenarnya bukan sesuatu yang sulit diterima penonton; yang jatuh ke box office misfire. Walau kepercayaan penonton sedikit banyak mulai membaik, masih tetap ada penonton yang tetap enggan melangkah ke bioskop untuk menyaksikan film Indonesia, dan ini masih terkait dengan cukup banyaknya produk-produk hasil karbitan yang masih berpotensi menurunkan kepercayaan itu.

So, mari terus mencoba melakukan sesuatu demi kemajuan dan masa depan film Indonesia, agar momentum yang sudah diraih dengan pencapaian jumlah penonton terbanyak sepanjang sejarah film kita oleh ‘Warkop DKI Reborn’ di puncak teratasnya tak lagi menurun di tahun-tahun berikutnya. Dari sekedar membeli tiket untuk menonton film Indonesia setiap minggunya, berada dalam tim produksi MagMA Entertainment sebagai Creative Director, sekaligus berterima kasih untuk rekan-rekan blogger/critics yang sudah menyertakan film ‘Juara‘ dalam list pilihan terbaik tahunannya dan memberikan baik kritik, pujian serta rating-nya di situs idfilmcritics.com; saya sangat merasa beruntung bisa melanjutkan partisipasi penjurian di FFI dan Piala Maya, ditambah Usmar Ismail Awards yang baru diadakan tahun ini, serta selection consultant buat IFF Australia 2016, untuk terus tak berhenti  memberikan advokasi terhadap film Indonesia yang baik ke depannya nanti.

Here’s my list of this year’s finest Indonesian movies, yang tak melulu berdasar personal likes, tapi lebih ke inovasi masing-masing terhadap konsep, konten dan pencapaiannya secara keseluruhan. Sebagai catatan tambahan dari tiap judul, saya mencantumkan kembali capsule review dari akun sosmed @danieldokter atau link full review dari danieldokter.com. Semoga bisa menjadi rekomendasi buat yang belum sempat menyaksikannya di bioskop atau platform lain, dan menjadi retrospeksi yang baik buat para pencinta film Indonesia. Terus #BanggaFilmIndonesia !

1. SURAT DARI PRAHA

suratdaripraha

#SuratDariPraha bukanlah sebuah rhapsody. Bukan juga simfoni, ia hanya sebuah sonata. Simple, tapi kekuatannya menyentuh rasa, luarbiasa. Like a wonderful one, #SuratDariPraha crawls deep into your heart and lead you to the soul-wrenching finale. Film terbaik Usmar Ismail Awards 2016.

2. AISYAH: BIARKAN KAMI BERSAUDARA

aisyahscene

Ada di batasan sangat terjaga tanpa mencoba kelewat classy tapi juga tak lantas jadi preachy, #AisyahBiarkanKamiBersaudara is a gem everyone must see. Ada interaksi antar agama yang dibangun lewat skrip, akting dan simbol-simbol pengadeganan yang rapi buat jadi luarbiasa menyentuh di dalamnya. Dalam soal penyampaian misi pendidikan atas anak-anak di remote area pun, skrip Jujur Prananto hadir dengan simpel tapi penuh makna. Hal terbaik dari #Aisyah adalah dengan kontennya, ia layak buat jadi sajian lebaran dan natal sekaligus. Ini jarang dan mungkin belum pernah ada di film kita. Film terpilih Piala Maya 2016.

3. ADA APA DENGAN CINTA? 2

aadc2scene

It ain’t easy repeating the magic. #AADC2 just did that smoothly after hundreds of full moon. #AADC2 punya sense of playfullness bersama awkward romanticization-nya.

4. CEK TOKO SEBELAH

ctsscene

Funny, hilarious and ultimately engaging, #CekTokoSebelah is no bullshit – a full packed end of the year treat. It also marked Ernest Prakasa’s admirable talent after last year’s ‘Ngenest’, shaping his big screen showcase with distinct ways, bringing up such sensitive culture – minority issues to big laughs, and great hearts. While Chew Kinwah, Dion Wiyoko, Adinia Wirasti and bunch of comedic supports steal their scenes, at the core of it, Ernest, as a ‘store keeper’ played his self-mocking comedy style.

5. ATHIRAH

athirahscene

#Athirah is full of cinematic beauties from the looks and technical departments, but the emotional impact beyond feminism values rarely reached its peaks. However, sensitivitas Riri menghadirkan elemen-elemen klise dalam kisah aslinya; terutama di konflik-konflik yang menyenggol nilai-nilai ke-Islam-an termasuk poligami berhasil memunculkan pendekatan yang beda, membuatnya tampil begitu elegan. Sebagai biopik, #Athirah juga bisa menghindari glorifikasi yang biasanya kita lihat di genre sejenis. Dan di atas semuanya, ada akting solid Cut Mini sebagai amunisi utamanya.

6. ISTIRAHATLAH KATA-KATA (SOLO, SOLITUDE)

solosolitude

There’s a strong, creepy and unpleasant atmosphere lurking beneath Anggi Noen’s #IstirahatlahKataKata #SoloSolitude to capture the subject’s last days and idealism beyond political supressions. Pendekatan subtilnya tersampaikan dengan tendensi sebagaimana mestinya sebuah arthouse yang tidak harus pretensius menutupi kekosongan rasa.

7. TALAK 3

talak3

#Talak3 is a fair share of play between stars with good laughs and great hearts. Duet Hanung – Basbeth yang lepas dan sangat asyik. Selain Laudya Cynthia Bella, Vino G. Bastian dan Reza Rahadian di lini utamanya, ada begitu banyak supporting parts yang menciptakan momen dan mencuri perhatian. Eskalasi konfliknya jelas, konklusinya pun wajar.

8. SUNYA

sunya

As a theatrical release-film, #Sunya might be really segmented. But for those who are willing to read between the lines, seperti sebuah mantera yang menenung pemirsanya dengan powerful mystical ambience, #Sunya stands out beyond Harry Dagoe’s ways of distinct storytelling and absurdity.

                                                                                                                                                                                                           9.WARKOP DKI REBORN: JANGKRIK BOSS! PART 1

warkopdki

#WarkopDKIReborn #JangkrikBossPart1 is a totally satisfying attempt to relive our classic comedic icons. Bukan sekedar tribute, it’s a revival, dan berhasil mengembalikan legacy Warkop DKI ke era terbaiknya, sebelum dikotori oleh lawakan-lawakan ngeres. Nostalgic. Festive. Pecaaahhh!

10. PANTJA SILA: CITA-CITA DAN REALITA

pantjasila

Reconstruct one of the rare and most important parts of our nation’s history, #PantjaSila is one of a kind single act-tour de force by Tio Pakusadewo that deserved wider audience. Works like a long monologue, yes it has risks, but the whole content never made us turn our sight. (dan)

 

danieldokter

danieldokter

Daniel Irawan adalah pemilik situs ini.
danieldokter

Latest posts by danieldokter (see all)