Home » Dan at The Movies » THE GIRL ON THE TRAIN (2016)

THE GIRL ON THE TRAIN (2016)

THE GIRL ON THE TRAIN: A FRESH CONCEPT THAT ENDED UP AS A STEREOTYPICAL THRILLER

Sutradara: Tate Taylor

Produksi: DreamWorks Pictures, Reliance Entertainment, Marc Platt Productions, Universal Pictures, CJ Entertainment (Asian Distributor), 2016

tgott

Tak seperti di era keemasan genre-nya, thriller sekarang sangat bergantung dari source-nya terhadap konsep-konsep baru baik dari motif dan penceritaan. Salah satunya adalah best seller novels. Banyak sekali ekspektasi ke arah ‘Gone Girl’ dari ‘The Girl on the Train’ yang diangkat dari novel berjudul sama karya Paula Hawkins atas kredibilitas novelnya yang sebagai debut bisa bertengger di top list New York Times Fiction Best Sellers serta bertahan 13 minggu di tahun 2015 lalu.

Bergelut dengan kondisinya sebagai seorang alkoholik, Rachel Watson (Emily Blunt) tak hanya kehilangan suaminya, Tom (Justin Theroux) yang menikahi rekan kerja sekaligus selingkuhannya, Anna Boyd (Rebecca Ferguson), tapi juga akal sehatnya. Pindah ke sebuah apartemen bersama Cathy (Laura Prepon), dalam kegalauannya, Rachel kemudian terlibat dalam sebuah kasus pembunuhan terhadap Megan Hipwell (Haley Bennett), gadis muda yang sering menjaga bayi Tom dan Anna. Terombang-ambing antara seorang saksi atau justru tersangka dari penyidikan detektif Riley (Allison Janney) di antara kekasih Megan, Scott (Luke Evans) dan psikiaternya; dr. Kamal Abdic (Édgar Ramirez), Rachel harus menelusuri kembali kepingan-kepingan hidupnya selama ini buat mendapatkan jawaban.

Tak ada yang terlalu spesial dari plot itu sebenarnya, namun dibangun di atas elemen-elemen tipikal genre-nya; from peeping tom thriller alaThe Bedroom Window’ atau ‘Night Eyes‘ ke whodunit murder mystery dengan erotic atmosphere, juga atas motif-motif tak kalah klise, source-nya sebenarnya banyak dibicarakan karena menyorot sebuah koneksi terhadap tiga wanita sebagai sentral penceritaannya. Itu pula yang mungkin membuat mengapa Tate Taylor, sutradara yang langsung memperoleh status acclaimed dari ‘The Help’ (2011) dan ‘Get On Up’ (2014), menghadirkan tiga cast kuat sebagai karakter-karakter itu; Emily BluntRebecca Ferguson dan Haley Bennett. Disamping juga tentunya penulis skrip yang juga seorang wanita, Erin Cressida Wilson dari ‘Secretary’ dan ‘Chloe’ untuk mempertahankan sensitivitas POV feminisnya.

Sayangnya, tak seperti ‘Gone Girl’ yang meski punya elemen-elemen heist dan femme fatale thriller yang tak lagi baru; namun bisa menonjolkan kekuatan source-nya hingga kelihatan berbeda dari film-film ber-genre sejenis dari ‘Body Heat’, ‘To Die For’, ‘Malice’ dan segudang yang lain termasuk femme fatale thriller kelas B tahun ’80 akhir ke pertengahan ’90-an, skrip dari Erin Cressida Wilson agaknya sedikit salah arah. Benar bahwa di satu sisi ia tetap menggunakan salah satu kelebihan source yang sama dalam membagi frame penceritaannya lewat style ‘unreliable narrators’,  namun meninggalkan kepentingan ini di belakang, ia terlalu sibuk merangkum motif ke arah whodunit thriller ketimbang bangunan koneksi karakternya, pun keberadaan kereta yang seharusnya jadi simbol pentingnya. Sementara style penceritaan itu justru berdampak ke pengenalan karakter yang bukan saja agak blur di balik flow luarbiasa lambat dalam paruh pertamanya.

Menerjemahkan skrip yang sudah terbentuk cukup lemah tadi, sutradara Tate Taylor juga tak terlihat berusaha lebih untuk membuat ‘thrills’ lebih dalam keberadaannya sebagai sebuah thriller. Selain sejumlah erotic attempts yang juga tak terlalu berfungsi dalam penekanan karakternya, di tangan Taylor, ‘The Girl on the Train’ juga akhirnya lebih terfokus lagi-lagi ke motif ketimbang proses yang melibatkan banyak simbolisasi bagus tentang sebuah koneksi. Padahal motif yang dihadirkan di pengujungnya adalah salah satu kelemahan terbesar dalam keseluruhan plot-nya. Tired motives dengan dialog yang juga luarbiasa klise diikuti adegan-adegan stereotip dalam genre-nya, yang sudah kita saksikan dalam ratusan film sejenis.

Begitupun, sulit buat menampik kekuatan ensemble cast-nya. Emily Blunt bermain paling kuat menyelami sisi psikologis karakternya di atas bentukan karakter yang lemah dari skrip itu, sementara Haley Bennett menonjolkan permainan fisik meninggalkan Rebecca Ferguson sebagai unsur yang seharusnya sama penting. Di deretan aktornya, Luke Evans dan Édgar Ramirez memberikan dayatarik lebih ketimbang Theroux, dan masih ada sparks sangat lumayan dari Allison Janney dan penampilan singkat Lisa Kudrow.

Meski punya kelemahan, sisi baik para penampil kuatnya memang bisa saling menutupi buat jadi sebuah ensemble keseluruhan yang cukup solid. Deretan nama-nama credible actors/actresses inilah yang paling tidak tetap bisa menahannya tetap berada dalam kelas lebih dari sekedar thriller biasa. Jika tidak, mungkin ‘The Girl on the Train’ entah jadi apa. (dan)

danieldokter

danieldokter

Daniel Irawan adalah pemilik situs ini.
danieldokter

Latest posts by danieldokter (see all)