Home » Dan at The Movies » LA LA LAND (2016)

LA LA LAND (2016)

LA LA LAND: A LOVE LETTER TO TINSELTOWN, A HOMAGE TO JAZZ, A TRIBUTE TO LOVE AND DREAMERS

Sutradara: Damien Chazelle

Produksi: Gilbert Films, Impostor Pictures, Marc Platt Productions, Summit Entertainment, 2016

lalaland-poster

Ada banyak film musikal atau tentang musik yang bagus. Tapi yang benar-benar bisa mentranslasikan musik secara padu ke dalam adegan-adegannya – bukan semata di pengaturan ataupun koreografi megah ala Baz Luhrmann atau Rob Marshall, bukan juga penggunaan pop-culture reference ala Cameron Crowe, tidak. Selain John Carney (‘Once’, ‘Begin Again’ dan ‘Sing Street’), Damien Chazelle menapak ranah ini setelah kiprahnya yang begitu mengagumkan dalam ‘Whiplash’ tahun lalu.

Jika Carney menyorot atmosfer ‘80an dengan elemen-elemen pop kulturnya dari musik ke film dalam ‘Sing Street’, Chazelle tetap mengedepankan genre yang sudah dimulainya dalam ‘Whiplash’; jazz, yang di sini ditransformasikannya ke ambience Hollywood classic musicals. Just when we thought we couldn’t get something likeSingin’ in the Rain’, ‘An American in Paris’, ‘The Band Wagon’ dan sejenisnya di era sekarang, ‘La La Land’ muncul sebagai sebuah sajian musikal yang begitu sempurna – yang tak hanya meraih status acclaimed dari critics, juga berjaya di banyak awarding events, termasuk mencetak rekor menyapu bersih 7 nominasinya di Golden Globe barusan. Amunisi terkuatnya memang ada di komposisi Chazelle bersama kolega Harvard yang juga berada di balik dinamika jazz dalam ‘Whiplash’ – Justin Hurwitz, namun di permukaan teratasnya, duo Ryan Gosling dan Emma Stone-lah yang jadi jualan utama ‘La La Land’.

Dibuka dengan adegan musikal di tengah keramaian jalan bebas hambatan Los Angeles, ‘La La Land’ mengantarkan kita ke sebuah meet-cute antara Mia (Emma Stone), seorang calon aktris yang sibuk menapak karirnya melalui berbagai audisi sambil bekerja sebagai barista – dengan Sebastian/Seb (Ryan Gosling), pianis jazz idealis yang bermimpi punya kelabnya sendiri. Berkembang ke sebuah hubungan serius setelah Mia meninggalkan Greg (Finn Wittrock), mereka berdua mengejar mimpi masing-masing di tengah hiruk-pikuk Hollywood yang ternyata tak sebaik itu pada keduanya. Seb mulai disibukkan dengan karir musiknya sebagai keyboardist di band milik teman sekolahnya – Keith (John Legend) yang terpaksa melepas idealismenya ke jazz standar, sementara Mia beralih menjadi seorang penulis drama panggung. Tiga musim berganti, nasib membawa Seb dan Mia terombang-ambing di antara dua pilihan sulit – mimpi atau cinta. But life goes on and dream lives on.

Sulit dibayangkan betapa seorang Damien Chazelle, di usianya yang baru menginjak 31 tahun, bisa menciptakan mahakarya musikal semegah dan semagis ini. Berdasar mimpinya dan orang-orang di sekitarnya, skrip ‘La La Land’ yang ditulisnya 6 tahun lalu saat meniti karir dan mengejar mimpi itu di Hollywood; menempuh jalan panjang dari studinya di Harvard, menjadi seorang jazz drummer dan membuat film-film indie tentang jazz bersama koleganya Justin Hurwitz, influens traditional city symphony musicals era ‘20an memang membentuknya sebagai seorang maestro musikal di tengah karya lainnya sebagai writer/co-writer di genre berbeda dari ‘The Last Exorcism 2’, ‘Grand Piano’ dan ’10 Cloverfield Lane’.

Namun ‘La La Land’ bukanlah menjadi sekedar tribute buat semua itu. Membentuknya dengan distinctive touch di tengah setting era sekarang namun dengan dinding-dinding di sekelilingnya yang mengantar kita seolah menempuh time-travel ke Hollywood Golden Era. Dari ambience musikal dan atmosfer jazz standar era ’20-‘40an, dari detil desain produksi meliputi penataan artistik, sinematografi Linus Sandgren (‘American Hustle’) dan penyuntingan award winning editor Tom Cross (‘Whiplash’) yang bersinergi sempurna dengan style Chazelle menerjemahkan musik hingga ke elemen musikal – komposisi ear-catchy dari Hurwitz & para penulis liriknya, dan koreografi dari Mandy Moore – di balik rich and vibrant color pallettes, ‘La La Land’ menjadi sebuah konsep majestis yang tak pernah kita bayangkan bisa tercipta lewat musikal seindah ini. Bahkan tanpa set dan kostum berlebih seperti musikal Baz Luhrmann, kadang malah luarbiasa minimalis, Chazelle tak hanya berhasil memadukan dunia klasikal dengan modern, tapi juga impian dan realita yang membentuk karakter-karakternya bersama latar alternate universe Tinseltown yang seolah bersanding menjadi pemeran utamanya.

Di tengah-tengahnya, skrip itu sibuk menyelipkan referensi kaya tentang jazz seperti jazz bible yang komprehensif dengan semua perkembangannya dari era standar hingga invasi elemen-elemen subgenre modern; dari subgenre smooth jazz lewat kultur westcoast radio, pengaruh RnB ke penggunaan drum loops dan banyak lagi; yang kita tahu sekarang. Juga menyemat selipan pop culture ’80an lain dari genre berbeda seperti ‘Take on Me‘-nya a-ha dan ‘I Ran‘ dari A Flock of Seagulls, yang bukan sekedar pelengkap tapi menjadi komparasi penting dalam soal komposisi, ada penekanan idealisme tapi sangat terjaga tak lepas jadi kelewat cerewet hingga menutupi esensi utamanya tentang cinta dan pengejaran mimpi di core storytelling-nya; yang juga hadir luarbiasa heartfelt dan penuh pesona membawa kita masuk ke dalam dunia Mia dan Seb dalam studi karakter yang sama kuat dengan semua elemen-elemennya.

Menghidupkan dua karakter ini, Emma Stone dan Ryan Gosling bermain sempurna seolah dua natural born singers, musicians – juga dancers dengan elements of act hingga chemistry yang sebelumnya sudah kita lihat sekilas dalam ‘Crazy Stupid Love’, namun menyelam jauh lebih dalam lagi di sini. Membawakan musical acts-nya sendiri, ‘La La Land’ mungkin tak sebesar ini tanpa penampilan mereka berdua. Masih ada dukungan bagus dari John Legend, Finn Wittrock, Rosemarie DeWitt serta Tom Everett Scott (‘That Thing You Do!’) and might be Chazelle’s man-muse, J.K. Simmons, yang menemukan puncak karir dan eksplorasi aktingnya di ‘Whiplash’.

And all leads to the bittersweet yet wonderful ending yang makin menguatkan tak hanya bentukan chemistry di antara Stone – Gosling dan semua elemennya, tapi juga sebuah kontemplasi terhadap mimpi, cinta dan pilihan-pilihan hati, ‘La La Land’ menemukan momen terbaiknya di setiap bar pergerakan simfoni itu. Dalam setiap musical numbers-nya; dari pembuka ‘Another Day of Sun’, ‘Someone in the Crowd’, ‘A Lovely Night’, contemporary singleStart a Fire’ dari John Legend ke love themeCity of Stars’ – ‘Mia and Sebastian’s Theme’ dan scoring numberEpilogue’ yang membalut semua konklusi itu. With every inch that defines magic, it plays like a wonderful symphony to dance our heart out. Keluar dengan perasaan yang bercampur – antara sedih, senang bahkan terpesona dengan segala extraordinary cinematic experience yang ia berikan.

Membungkus semua seperti salah satu lirik terbaiknya di lagu berjudul ‘The Fools who Dream’ yang dinyanyikan Stone, “…here’s to a ones who dream, foolish as they may seem, here’s to the heart that ache, here’s to the mess we make…”, ‘La La Land’ juga menjelaskan arti sebenar-benarnya dari sebuah ‘instant classic’ yang bahkan tak perlu pembuktian rentang zaman untuk memastikannya masih terus diingat sebagai salah satu karya musikal klasik ber-dekade-dekade ke depan, dan membuat kita ingin menyaksikannya lagi dan lagi. An irresistibly glorious and seductive love letter to Tinseltown, a homage to Jazz, a tribute to Love and Dreamers. What a feeling! (dan)

 

 

danieldokter

danieldokter

Daniel Irawan adalah pemilik situs ini.
danieldokter

Latest posts by danieldokter (see all)