Home » Dan at The Movies » ISTIRAHATLAH KATA-KATA (2016)

ISTIRAHATLAH KATA-KATA (2016)

ISTIRAHATLAH KATA-KATA (SOLO, SOLITUDE): A SILENT LUCIDITY

Sutradara: Yosep Anggi Noen

Produksi: Yayasan Muara, Partisipasi Indonesia, Limaenam Films, Kawan-Kawan Film, 2016

IKK 2

Ada terlalu banyak mungkin cerita tentang Wiji Thukul. Namun yang jelas, ia adalah seorang penyair dan aktivis hak azasi manusia yang melawan penindasan rezim Orde Baru. Dikejar aparat sejak kerusuhan 27 Juli 1996, Jakarta, ia hidup berpindah-pindah dalam persembunyian, meninggalkan istri dan dua anaknya di bawah pengawasan ketat hingga akhirnya dinyatakan hilang di seputar Mei 1998 sebelum pemerintahan Soeharto digulingkan rakyat. Dalam pelariannya, ia masih terus berjuang menolak ketidakadilan tak seperti yang banyak dilakukan orang. Menulis puisi dan melawan lewat kata-kata. Bagi banyak orang, Wiji Thukul adalah puisi. Bahkan mitos.

Istirahatlah Kata-Kata’, judul puitis yang diambil Yosep Anggi Noen – senada dengan judul internasionalnya; ‘Solo, Solitude’, menyorot self imposed-exile subjeknya setelah peristiwa itu. Hidup mengasing di Pontianak, Anggi membawa filmnya bukan selayaknya biopik yang merekonstruksi keseluruhan hidup tokohnya dengan glorifikasi, tapi justru dalam sunyi sebagai pendekatan sangat personal. Lebih seperti sebuah interpretasi ketimbang adaptasi, dalam gaya film-filmnya yang biasa macam ‘Vakansi yang Janggal dan Penyakit Lainnya’, ‘Istirahatlah Kata-Kata’ hadir dalam sebuah kesederhanaan sinematis yang minim dialog dan lebih mengutamakan bahasa gambar yang bukan juga berusaha tampil serba puitis. Dalam persepsi-persepsi sinema arthouse dalam kelas yang cenderung minimalis, ia tak perlu lantang, tapi cukup hanya bergumam seperti voiceover puisi-puisinya yang dilontarkan dalam diam.

Namun di situ pula, menuangkan protes yang punya konteks dan relevansi sosial terhadap – mungkin, Wiji ThukulWiji Thukul yang lain dalam skema tirani politik yang kerap terjadi bukan hanya di sini, ‘Istirahatlah Kata-Kata’ menjadi one of kind-gem yang mungkin tak bisa tersentuh oleh sineas lain dalam ranah biopik atau rekonstruksi sebuah kehidupan yang penting buat banyak orang. Ini menunjukkan pendewasaan skill dari sejumlah film-film pendek Anggi termasuk feature pertamanya ‘Vakansi’ yang kerap belum bisa lepas dari sejumlah eksploitasi simbol-simbol seksualitas yang kadang cenderung terasa pervert dan sangat tertebak.

Dalam ‘Istirahatlah, Kata-Kata’, semua long shots, pergerakan kamera statis dari Bayu Prihantoro Filemon, scoring Yennu Ariendra yang tak kalah minimalis berikut simbol-simbol yang digunakan Anggi, dari semut, permainan badminton di abandoned theatre atau lukisan ‘last supper’ bisa membangun atmosfer yang diinginkannya dalam menggambarkan penggalan kehidupan subjeknya. Pace-nya boleh jadi bergerak sangat perlahan, tapi tak sekalipun kehilangan esensi dan subtilitasnya.

Memerankan sosok Wiji Thukul, penulis dan sutradara teater veteran Gunawan Maryanto muncul dengan akting luarbiasa bersama Marissa Anita yang dipoles berbeda memerankan Sipon, istri Wiji. Kita melihat Wiji dalam interaksinya bersama dua rekannya, Thomas dan Martin (diperankan Dhafi Yunan dan Eduwart Boang Manalu), berikut sejumlah karakter lain termasuk Sipon, tak lebih dari seorang manusia biasa. Bukan layaknya seorang aktivis heroik simbol panutan yang berteriak-teriak, tapi serba rapuh dan dipenuhi ketakutan di balik creepy and unpleasant atmosphere soal opresi politik yang dituangkan Anggi dalam batasan-batasan latar lewat dialog atau siaran radio.

Salah satu adegan yang dihadirkannya di tukang cukur – juga melibatkan aktor teater Arswendi Nasution, terasa begitu mengerikan hanya lewat dialog dan gestur, membuat kita merasakan kegelisahan seorang pelarian di tengah keterasingannya. Sementara adegan secret rendezvous Wiji dan Sipon yang mengantarkan pemirsanya ke pengujung sunyi filmnya, sebagai dua highlight terbaik dalam ‘Istirahatlah Kata-Kata’, juga muncul begitu halus dan tak berlebih – namun begitu kaya akan emosi, membuat kita lagi-lagi bisa merasakan keperihan dan kekalutan mereka bergelut di tengah benturan-benturan penindasan.

Istirahatlah Kata-Kata’ pada akhirnya bukan saja secara sinematis menjadi salah satu penanda zaman di film kita lewat subjek dan relevansi-relevansi kultur, historis, sosial hingga politik yang ia tampilkan, tapi juga puisi yang menyeruak begitu menyesakkan sebagai sebuah kontemplasi lewat kesunyian dan melankolia tak biasa yang ada di sepanjang alunannya. Dalam perpepsi-persepsi ‘film kiri‘ yang biasa ‘anti-kapitalisasi‘, dengan cara tuturnya yang menolak tampil secara bombastis, ia kini bisa disaksikan tak lagi di ruang kecil dan pengap secara sembunyi-sembunyi, buat mengingatkan lebih banyak lagi orang-orang di sekitar kita atas penindasan yang sama.

Diam, tapi dalam. (dan)

danieldokter

danieldokter

Daniel Irawan adalah pemilik situs ini.
danieldokter

Latest posts by danieldokter (see all)