Home » Dan at The Movies » KAABIL (2017)

KAABIL (2017)

KAABIL: A DARK, FURY, YET INVENTIVELY SMART BOLLYWOOD THRILLER

Sutradara: Sanjay Gupta

Produksi: Filmkraft Productions Pvt. Ltd., 2017

kaabil

Meneruskan legacy sang ayah, aktor Rakesh Roshan dan pamannya, komposer Rajesh Roshan di Bollywood, Hrithik Roshan; dengan tampilan fisik dan kapablitas akting serta tariannya – ini satu yang terbaik di antara aktor mana pun, jelas punya potensi besar sebagai contender terdepan industrinya. Sayangnya, seringkali pilihan film-filmnya terasa tak sepenuhnya konsisten. Sesekali, seperti dalam ‘Guzaarish’ arahan Sanjay Leela Bhansali, Hrithik tampil dengan eksplorasi akting jempolan, namun seringkali di tangan Rakesh dan FilmKraft-nya, ia kerap diekspos tak lebih dari komoditas komersil lewat film-film yang tak lebih dari sekedar hiburan belaka, bahkan beberapa di antaranya adalah saduran – resmi atau tidak, dari blockbuster Hollywood.

Setelah gagal dalam ‘Mohenjo Daro’, produksi terakhir Disney India sebelum melepas ‘Dangal‘ tahun lalu, ‘Kaabil’ untungnya cukup berbeda. Walau tampilan promonya terlihat seperti love melodrama Bollywood biasanya, ‘Kaabil’ sebenarnya digagas sebagai sebuah twisty thriller menapaki jejak kesuksesan ‘Kahaani’ dan pengikut-pengikutnya dari sutradara Sanjay Gupta – yang memang lebih dikenal adalah pemain lama di genre-nya. Ia bahkan berani bersaing dengan ‘Raees’-nya Shahrukh Khan dan berlomba di box office dalam waktu rilis serentak.

Pemuda buta Rohan Bhatnagar (Hrithik Roshan) yang kesehariannya bekerja sebagai voice actor film kartun dijodohkan oleh temannya dengan Supriya (Yami Gautam), gadis cantik yang juga menderita disabilitas yang sama. Kecocokan yang dirasakan Rohan dan Supriya pun mengantarkan mereka hidup di tengah kekurangan fisiknya sebagai suami istri, hingga suatu hari kebahagiaan mereka dirusak oleh Amit (Rohit Roy) dan Wasim (Sahidur Rahaman). Berujung ke sebuah tragedi yang meluluhlantakkan semuanya, Rohan masih harus menghadapi ketidakadilan dari Inspektur Nalawade (Girish Kulkarni) di bawah kekuasaan politisi Madhavrao Shellar (Ronit Roy) sebelum akhirnya memutuskan memulai perang dengan caranya sendiri.

Dengan durasi rata-rata film Bollywood yang wajib memuat campur aduk genre berikut adegan musikal dalam pakem konvensionalnya, skrip Sanjay Masoom dan Vijay Kumar Mishra memang menghabiskan hampir separuh durasinya membangun love melodrama sebelum akhirnya masuk ke ranah thriller yang menjadi identitas sebenarnya dari ‘Kaabil’. Motif dan set up terhadap elemen kriminal itu awalnya terasa sangat old-fashioned namun dengan cepat berbelok ke turnover plot-nya sebagai vehicle yang kuat untuk berubah drastis ke babak selanjutnya. Extremely dark and fury untuk ukuran film-film Bollywood yang dimulai dengan delightful bahkan dengan selipan adegan tari beratmosfer latin diiringi salah satu lagunya yang berjudul ‘Mon Amour’.

Dari sini, ‘Kaabil’ memang berbelok ke sebuah vigilante story di balik sosok karakter difabel-nya. Walau tak bisa sepenuhnya menghindar dari elemen-elemen ‘suspension of disbelief’ yang bisa jadi terbaca oleh sebagian pemirsa sebagai plothole bahkan cenderung dirancang dengan pakem pseudo-superhero, tapi bangunan karakternya di babak pertama tak bisa dipungkiri menjadi relevan dengan penggalan-penggalan informasi dalam skrip yang cukup cermat buat menggagas layered twists-nya. Dan satu hal lebihnya, Sanjay Gupta tak lantas membiarkan ‘Kaabil’ bermain sekedar sebuah revenge story – tapi juga dikemas dengan muatan sosial dan subtext penting soal persepsi kriminalitas tentang pelaku atau pelindung dalam konklusinya.

Di samping itu, ada pengaturan karakter yang juga tertata dengan baik di setiap staging-nya. Menjelaskan style Sanjay Gupta yang memang tak pernah jadi terlalu artsy dalam ukuran sinema mereka selayaknya film-film Aamir Khan ataupun ‘Kahaani’ yang menjadi pionir di subgenre-nya, yang bahkan tak pernah juga terlalu menghindari rasa Bollywood-nya, penampilan komikal Girish Kulkarni yang baru kita saksikan dalam ‘Dangal’ sebagai Inspektur Nalawade – walau dalam level berbeda dan belum lagi bisa disandingkan dengan Nawazuddin Siddiqui dalam ‘Kahaani’ tak lantas jadi keluar jalur. Begitu pula abang beradik Ronit dan Rohit Roy serta yang paling menyita perhatian – Narendra Jha sebagai Komisaris Chaubey. Walau dipenuhi gambaran komikal dalam pakem Bollywood biasanya, ‘Kaabil’ tetap berada dalam kelas berbeda.

Sebagai Rohan, Hrithik Roshan tampil dengan salah satu eksplorasi akting terbaiknya setelah ‘Guzaarish’. At times, ia tetap sangat menjual pesona fisiknya sebagai mainstream Bollywood lead or poster boy – tapi tak lantas kehilangan kedalamannya memerankan seorang tunanetra dalam tiap gestur yang ia tampilkan, juga dalam turnover karakter Rohan yang tergambar drastis dalam kepentingan penceritaannya. Yami Gautam (‘Vicky Donor’, ‘Badlapur’, ‘Junooniyat’) mungkin masih cukup jauh dari A-class Bollywood actress lain, tapi menyimpan potensi ke arah sana. Walau tak sebaik Hrithik, memerankan Su (panggilan Rohan untuk Supriya) dengan disabilitas fisiknya, ada chemistry bagus dalam penekanan motif utama vigilante part-nya.

Tapi bagian terbaik ‘Kaabil’ tetaplah inovasinya secara keseluruhan. Walau dibangun dengan beberapa elemen yang tak lagi sepenuhnya baru, dari tired motives hingga menempatkan karakter difabel tunanetra baik dalam sebuah crime thriller ataupun vigilante story ala ‘Blind Fury’-nya Phillip Noyce – sebagai referensi terdekatnya, Sanjay Gupta dan timnya tak lantas berhenti hanya sampai di sana. Instead, ia justru menggunakan elemen lain yang relevan sebagai kontras difabelnya – no spoilers – untuk melapisi lagi layered twists-nya sebagai sebuah thriller yang sangat inventif – terlebih untuk ukuran sinema mereka, serta tak lupa menyelipkan satu Bollywood signature yang tetap masih sangat diperlukan dalam paket komplit jualan mereka di ujung paling akhirnya. Heart. (dan)

danieldokter

danieldokter

Daniel Irawan adalah pemilik situs ini.
danieldokter

Latest posts by danieldokter (see all)