Home » Dan at The Movies » SPLIT (2017)

SPLIT (2017)

SPLIT: SHYAMALAN’S RETURN TO FORM OVER CLICHE MOTIVES AND MANIPULATIVE TWISTS

Sutradara: M. Night Shyamalan

Produksi: Blinding Edge Pictures, Blumhouse Productions, Universal Pictures, 2017

split

M. Night Shyamalan, sutradara asal India yang menggebrak lewat ‘The Sixth Sense’ dengan elemen twist di trend film-film sekarang, bahkan masih bertahan lebih selama dua dekade terakhir, mungkin merupakan salah satu sineas paling jenius yang pernah ada. Di film-filmnya, ia tampak sebagai seorang kreator yang kelihatan sekali merancang semua permainannya dengan cermat. Sayang, begitu besar pencapaiannya dalam ‘The Sixth Sense’ diikuti ‘Unbreakable’, ‘Signs’ dan ‘The Village’ sebelum karirnya akhirnya terjun bebas dan seperti sulit buat bangkit lagi, meski karya terakhirnya di 2015 – ‘The Visit’, diakui mulai membaik meski belum benar-benar kembali. Satu hal juga, karena keberadaan filmnya pun tak mampu menjangkau lebih banyak pemirsa dalam treatment non-blockbuster.

Tapi ‘Split’ adalah kasus beda. Tak hanya disambut baik oleh kritikus sekaligus perolehan BO-nya, film ini menjadi tonggak kembalinya Shyamalan dengan (katanya) twist ending yang sangat menerjemahkan signature-nya. Bekerjasama dengan produser visioner Jason Blum dari film-film horor low budget namun rata-rata laku luarbiasa hingga membuat studio besar jarang ragu buat bekerjasama sebagai distributor, boleh jadi menyadarkan kita bahwa yang diperlukan Shyamalan hanyalah orang-orang yang tepat buat menampung visinya yang kadang berada di batas ambisi dan kegilaan ide. Mungkin.

Premis ‘Split’ pun terdengar sangat menjanjikan, soal sosok misterius di balik nama Kevin Wendell Crumb (James McAvoy), penderita DID (Dissociative Identity Disorder; dulunya dalam skup ilmunya lebih populer dengan istilah split personality atau kepribadian ganda/terbelah) yang punya 23 kepribadian, yang menculik tiga gadis remaja; Casey (Anya Taylor-Joy), Claire (Haley Lu Richardson) dan Marcia (Jessica Sula) di tengah proses kemunculan kepribadian ke-24-nya. That’s all we need to know before watching the movie ourselves.

Bermain seperti sebuah racikan kidnapping dan psychological thriller di balik style penceritaan Shyamalan buat menggelar satu-persatu twist berlapis-nya, di sini ia nampak sangat percaya diri menggagas semua permainannya. Bergerak pelan namun tak sekalipun kehilangan atmosfer mencekam yang biasa dihadirkan Shyamalan di tiap filmnya dalam pakem-pakem Hitchcock modern – dari pergerakan kamera menangkap detil atmosfer (yang kali ini diarahkan Mike Gioulakis dari horor kontemporer ‘It Follows’) hingga kebiasaannya muncul sebagai cameo, ada akting yang sangat cemerlang dari James McAvoy – lepas dari citra aktingnya seperti yang biasa kita lihat, walaupun tak secara detil mengemas keseluruhan 23 kepribadian dalam premis itu.

Masih ada pula porsi tak kalah bagus dari Anya Taylor-Joy yang sebelum ini kita lihat dalam ‘Morgan’ untuk mengimbangi kegilaan McAvoy. Berdua, mereka bermain seperti penggerak utama ‘Split’, menempatkan pemirsanya dalam eerie and claustrophobic atmosphere, almost like a devil lurking beneath – menunggu saat yang tepat buat menyerang mangsanya. Lantas ada Betty Buckley sebagai psikiater Kevin, entah disengaja atau tidak, di balik tribute ke tampilan aktris senior Louise Fletcher, yang juga jadi salah satu unsur paling menarik dalam ‘Split‘.

Namun rancangan terbesarnya sama sekali tak berada pada keseluruhan penceritaan ‘Split’, meski bukan berarti plot-nya sama sekali tak punya twist. Walau ada sisipan motif klise yang sulit buat dikompromikan di salah satu karakter intinya, ada eksplorasi yang boleh jadi terkesan seperti fantasi terhadap keberadaan DID yang diangkatnya secara lebih dalam ke batasan-batasan ilmu psikiatri melebihi basic psychology, tapi tetap layak diperdebatkan dari sisi ilmiah dengan kombinasi ke teori-teori molecular science. Ini justru menjadi sisi yang lebih menarik ketimbang sekedar twist yang sebenarnya sangat mudah terbaca sejak awal – though however, dirancang lewat jahitan penceritaan yang sangat baik sebagai sebuah masterfully crafted thriller.

Lebih dari twist dalam jalinan penceritaan itu, adalah sebuah fan-service yang kemudian membungkus semuanya sebagai kejutan terbesar di pengujungnya – meski mungkin ini tak bisa begitu saja dimengerti oleh penonton di luar fans-nya. Sedikit terasa manipulatif, mungkin, bahkan tak sepenuhnya bisa digolongkan sebagai twist – namun tetap jadi surprising clue dari sebuah grand design untuk menciptakan comeback vehicle Shyamalan buat kembali ke taman bermainnya yang biasa.

Ini mungkin yang masih tetap akan jadi bumerang bagi sebagian besar pemirsanya – yang melalui hype di berbagai media termasuk sosmed sudah menunggu-nunggu sebuah twist gila di pengujungnya. Buat yang mengenal lekat Shyamalan dan setiap karyanya, ini jelas luarbiasa, namun belum tentu begitu bagi pemirsa lainnya. Tapi jangan terlalu khawatir. Lepas dari semua permainan manipulatif itu, ‘Split’ tetaplah sebuah thriller psikologis yang sangat kuat, sekaligus layak menempatkan kembali Shyamalan ke jajaran teratas sineas paling inovatif di industrinya. Over cliche motives and manipulative twists, still a Shyamalans return to form. Paling tidak, membuat sebagian dari kita tak sabar menunggu apa yang dihadirkannya setelah ini. (dan)

danieldokter

Daniel Irawan adalah pemilik situs ini.
danieldokter

Latest posts by danieldokter (see all)