Home » Dan at The Movies » LION (2016)

LION (2016)

LION: LIFE’S GREATEST JOURNEY IS THE JOURNEY HOME

Sutradara: Garth Davis

Produksi: See-Saw Films, Screen Australia, Aquarius Films, Sunstar Entertainment, The Weinstein Company, 2017

lion

Film juga bisa menjadi sebuah medium edukasi dan hal-hal sosial lainnya, asal dilakukan dengan benar. Berbeda dengan banyak film kita yang masih sering salah kaprah mengemas dua tujuan itu ke dalam bentukan kearifan yang serba menggurui atau jatuhnya jadi mirip PSA (Public Service Announcement), ‘Lion’, salah satu nominee Oscar tahun ini adalah contoh sebenar-benarnya bagaimana ide-ide itu dikemas menjadi satu walaupun dengan dukungan badan-badan terkait. Begitu pula, kisah-kisah sejenis yang sebenarnya sudah berkali-kali diangkat, juga pernah di film kita ‘Bunga Bangsa’ (Sophan Sophiaan, 1982), atas fenomena sosial yang banyak terjadi, toh selalu bisa dibentuk menjadi sebuah kemasan baru yang kuat dalam cerita-cerita nyata yang berbeda.

Datang dari sinema Australia dengan dukungan The Weinstein Company, ‘Lion’ diangkat dari kisah nyata yang dituangkan lewat novel berjudul ‘A Long Way Home’ oleh subjeknya sendiri (ditulis Saroo Brierley bersama Larry Buttrose); Saroo (dewasanya diperankan Dev Patel), anak seorang buruh batu yang sewaktu berusia 5 tahun (diperankan Sunny Pawar), hidup di tengah kemiskinan pinggiran Ganesh Talai, Khandwa, India, hilang dari pengawasan sang kakak, Guddu (Abhishek Bharate). Terjebak di kereta, ia terdampar jauh ke Kalkuta hingga akhirnya ditampung di rumah yatim piatu dan diangkat anak oleh pasutri Australia John dan Sue Brierley (David Wenham & Nicole Kidman). Dibawa ke Tasmania, Saroo hidup nyaman dan mengenyam pendidikan mapan, disayang selayaknya anak sendiri bahkan melebihi adik angkatnya dari penampungan yang sama belakangan – Mantosh (Divian Ladwa) yang bermasalah. Sampai di satu titik kedewasaannya, Saroo dibenturkan oleh realita awal keberadaan Google Earth buat mencoba menelusuri kenangan asal-usulnya. Walau sulit, tanpa lagi bisa menolak keinginan yang tersimpan jauh di lubuk hatinya selama 20 tahun, Saroo pun memulai perjalanannya. Menemukan rumah, keluarga asli sekaligus hatinya.

Walau didukung oleh Google Earth bersama sejumlah badan pengawasan dan sponsorship anak-anak hilang atas kasus yang banyak terjadi di peron stasiun kereta di India, ‘Lion’ tak sekalipun kehilangan narasinya sebagai kisah humanis yang begitu menyentuh perasaan. Eksposisi parenting, keluarga, rumah hingga teknologi di atas fondasi terbesarnya soal hati dan cinta, yang dihadirkan dengan rapi lewat skrip sastrawan/scriptwriter Australia Luke Davies (‘Candy’, 2006) dan pengarahan sutradara Garth Davis, juga dari negara yang sama, yang baru memulai debut layar lebarnya, berjalan bak sebuah puisi luar biasa pilu yang berkali-kali membuat leher tercekat menahan emosi. Dan bagusnya, tak sekalipun mereka memposisikan Saroo dan karakter-karakternya secara hitam putih dengan problem-problem personalnya, tapi berada di batasan-batasan humanis sebuah keluarga yang tetap dipenuhi konflik sambil terus menyempalkan pertanyaan penting, kadang juga thought-provoking, terhadap pilihan-pilihan sikap ke tiap aspeknya.

Di baliknya, ada tata sinematografi cantik dari nominee Oscar Greig Fraser (‘Zero Dark Thirty’) yang merekam dua kehidupan Saroo dengan permainan kontras dan mata ekstra buat merekam kekumuhan rural India dan kemapanan semu tokohnya di Tasmania, Australia dengan subtilitas subkonflik keluarga, bersama scoring kolaborasi musisi avant-garde Jerman Hauschka dan komposer AS Dustin O’Halloran.

Lantas tentu saja performa solid dari para pendukungnya. Aktor cilik debutan Sunny Pawar yang ditemukan melalui audisi panjang – salah satu elemen terkuat dari ‘Lion’, bermain luar biasa sebagai Saroo kecil, berlanjut ke estafet dewasanya dengan Dev Patel yang diganjar nominasi Oscar tahun ini bersama Nicole Kidman. Masih ada Rooney Mara, David Wenham, Abhishek Bharate yang bermain tak kalah baik bersama dua aktris senior India; Priyanka Bose dan Deepti Naval sebagai sang ibu, sementara Nawazuddin Siddiqui tampil sekilas dan tetap kuat seperti biasanya.

Yet the greatest thing of it, adalah di titik akhirnya, ‘Lion’ yang mengantarkan kita ke sebuah penjelasan singkat soal pemilihan judul itu secara tak biasa memang berhasil membuat kita terhenyak merefleksikan hidup dan selalu pulang untuk menemukan kembali hati di tengah orang-orang kesayangan kita. Membuat semua informasi, reka ulang kisah nyata dan tendensinya untuk mengkampanyekan perlindungan anak-anak hilang dan terlantar di manapun juga, bisa berpadu dengan solid menjadi tontonan yang begitu menyentuh. That some of life’s greatest journey is the journey home, and with its fullest of hearts, ‘Lionembarks us all on the ultimate one. Mengharu biru dan menghujam hati bersama dentuman theme songNever Give Up’ milik Sia di pengujung yang menggulirkan excerpts asli kisah nyatanya. Bagus sekali! (dan)

danieldokter

danieldokter

Daniel Irawan adalah pemilik situs ini.
danieldokter

Latest posts by danieldokter (see all)