Home » Dan at The Movies » JOURNEY TO THE WEST: THE DEMONS STRIKE BACK (西游伏妖篇) (2017)

JOURNEY TO THE WEST: THE DEMONS STRIKE BACK (西游伏妖篇) (2017)

JOURNEY TO THE WEST: THE DEMONS STRIKE BACK (西游伏妖篇): LESS CHOW’S AUTEURISM, MORE HARK’S EYE-POPPING SPECTACLE

Sutradara: Tsui Hark

Produser: Edko Films, China Film. Co, Wanda Media Co., Huayi Brothers Pictures, Film Workshop Co., Sony Pictures, 2017

journey to the west 2

Dari sekian banyak franchise Sun Go Kong/Sun Wukong (The Monkey King) yang ada dalam sejarah sinema HK/China, dua yang datang dari kiprah Stephen Chow mungkin adalah yang terbaik. Sayang, bagian ketiga ‘A Chinese Odyssey’ tahun lalu tak melanjutkan legacy-nya dan sekedar menjual komedi. Yang lebih groundbreaking tentulah versi yang belakangan digagas oleh Stephen Chow setelah ia berpindah kursi sebagai kreator; penulis, produser dan sutradara, ‘Journey to the West: Conquering the Demons’ (2013).

Begitu inventif-nya Chow menggagas reka ulang kisah sang Kera Sakti yang diangkat dari literatur Cina klasik ‘Journey to the West’ ini ke ranah yang belum pernah kita lihat di manapun sebelumnya. Menarik rentang kisahnya ke sebelum pendeta Tong/Tang Sanzang merekrut murid-muridnya; Wukong, Zhu Bajie si Siluman Babi dan Sha Wujing si Siluman air untuk  melakukan Perjalanan Ke Barat, ‘Conquering the Demons’ menjadi sebuah dark comedy action yang buat pertama kalinya membuat kita menyaksikan kegilaan Chow sebagai seorang auteur di sinemanya tanpa harus ikut bermain di dalam, tapi tetap meninggalkan jejak di sepanjang filmnya. Satu yang kembali terulang di ‘The Mermaid’ dan sekuel ini sebagai goresan style-nya yang tak biasa. Zany and lunatic, terkadang kurangajar, tapi sekaligus seru luar biasa.

Meneruskan ‘Conquering the Demons’, Chow kini merasa cukup berada di kursi produser dan penulis – dan menyerahkan penyutradaraannya pada Tsui Hark, juga seorang auteur sinema HK dalam taraf beda yang memang kerap lebih senang menonjolkan visual dalam penegasan gayanya. Tetap menjadi sebuah event sinematik raksasa yang mengkolaborasikan keduanya plus produser legendaris Nansun Shi, ini memang jadi blockbuster CNY 2017 yang ditunggu-tunggu penggemarnya. Hanya sayang, kecuali Shu Qi yang kembali dalam sekuens-sekuens flashback dan memori pendeta Tang, tak ada pemeran yang kembali.

Untuk melanjutkan perjalanannya ke Barat (India) mencari kitab suci, pendeta Tang (Kris Wu) mengandalkan tiga murid nakalnya; Sun Wukong (Kenny Lin/Lin Gengxin), Sha Wujing (Mengke Bateer) dan Zhu Bajie (Yang Yiwei/Wang Duo) untuk mengumpulkan uang di sebuah sirkus. Berujung kekacauan, mereka terpaksa pergi singgah di sebuah rumah berisi perempuan-perempuan cantik yang ternyata merupakan jelmaan siluman. Di tengah hubungan yang makin terganggu karena kenakalan Wukong dan keraguan Tong, mereka akhirnya sampai di sebuah kota di mana Tong memutuskan membantu seorang raja (Bao Bei’er) yang ditenung iblis dan bertingkah seperti anak-anak lewat permintaan penasehatnya (Yao Chen). Konflik di antara mereka memuncak dengan kemunculan Felicity (Lin Yun), wanita cantik bakal selir yang dihadiahkan raja dan menarik hati Tong, tanpa menyadari rencana busuk di baliknya.

Bercampur-baur antara komedi nyeleneh, kinky hingga aksi seru bertabur efek CGI, ‘The Demons Strike Back’ terasa terbagi di antara ambisi Chow dan Hark tanpa bisa benar-benar bersinergi dengan benar-benar sempurna di titik ujungnya. Chow yang menulis ceritanya bersama partnernya di ‘The MermaidLi Sizhen tetap mempertahankan gaya Chow biasanya walaupun tak seperti ‘The Mermaid’ yang mempersonifikasikan hampir seluruh karakternya seperti Chow, di sini personifikasi itu hanya ada di karakter Sun Wukong yang diperankan Kenny Lin benar-benar menyerupai Chow, sambil terus menyelipkan komedi nyelenehnya yang biasa.

Kolaborasi itu masih terjalin cukup rapi dari awal hingga di pertiga akhir Chow mulai memuncak seperti ingin mengulang banyak bagian-bagian aksi bercampur simbol-simbol Buddhism dalam ‘Kung Fu Hustle’, yang sayangnya melulu hanya mengandalkan efek-efek CGI ala Tsui Hark yang lantas kian mendominasi bersama sedikit signature-nya di film-film love story antar manusia-siluman menjadi sebuah pameran VFX yang benar-benar bombastis dan sedikit kehilangan arah.

Bukan berarti tampilan teknikalnya jelek, apalagi melihat production design luar biasa mewah dari tangan Yoshihito Akatsuka; set dekorator Jepang yang ada di balik film-film hebat macam ‘Kill Bill’ hingga ‘Warriors of the Rainbow’. Namun ambisi yang ikut menggamit VFX company Korea Dexter Studio dan Mofac & Alfred ini menjadi showdown yang kelewat bombastis hingga menampilkan monster gigantis perpaduan King Kong dengan red laser beam Godzilla ke tengah-tengah final showdown-nya. Satu dampak terparahnya, ini jadi menutupi emosi yang sudah dicoba buat dibangun tanpa pernah muncul sekuat pendahulunya, baik di antara Tong – Wukong dan rekan-rekannya, tapi juga ke Felicity sebagai love interest yang menempati porsi seperti Shu Qi di film pertamanya.

Di luar itu, acting highlight dalam ‘The Demons Strike Back’ menempatkan Kenny Lin sebagai kandidat terkuatnya. Aktor yang kian bersinar lewat dua film terakhir HarkSwordmaster’ dan ‘The Taking of Tiger Mountain’ seakan menjelma seperti Stephen Chow dalam tiap gestur dan ekspresinya, menjaga comedic chemistry yang seringkali turun naik dengan lemahnya akting Kris Wu sebagai pendeta Tong yang tetap dijadikan porsi sentralnya. Selagi porsi Zhu Bajie dan Sha Wujing hanya melulu diekspos buat mengisi sick jokes-nya dalam berbagai level, masih ada Yao Chen dari ‘Monster Hunt’ dan tentunya Lin Yun, pemeran ‘The Mermaid’ yang secara fisik seakan kembali dieksploitasi oleh dominasi Chow di sekuel ini sebagaimana aktris-aktris baru hasil temuannya.

So, tanpa bisa memungkiri bahwa ‘The Demons Strike Back’ tetap merupakan sebuah kolaborasi tingkat dewa yang menunjukkan kegilaan Chow dan Hark, sayangnya, ini masih tak bisa menandingi apa yang sangat terlihat mereka harapkan lewat sentuhan masing-masing yang akhirnya kerap terasa seperti berjalan sendiri-sendiri dan di beberapa sisi justru saling menenggelamkan. Less Chow’s auteurism and more Hark’s eye-popping (visual) spectacle, lebih dalam ukuran kuantitas, ini bukan ;Kung Fu Hustle’ bahkan film pertamanya, bukan juga dua masterpiece dari sejumlah karya-karya terakhir Tsui Hark macam ‘Flying Swords of Dragon Gate’ dan ‘The Taking of Tiger Mountain’. (dan)