Home » Dan at The Movies » MOAMMAR EMKA’S JAKARTA UNDERCOVER (2017)

MOAMMAR EMKA’S JAKARTA UNDERCOVER (2017)

MOAMMAR EMKA’S JAKARTA UNDERCOVER: A WILDLY SEDUCTIVE RIDE INTO JAKARTA UNDERGROUND

Sutradara: Fajar Nugros

Produksi: Demi Istri Production, Grafent Pictures, 2017

MKJUC

Menulis puluhan buku, sebagian besarnya bertema seksualitas, ‘Jakarta Undercover’-lah yang memang mengangkat nama Moammar Emka lewat metode jurnalisme investigasinya secara kontroversial. Seperti liputan underground yang sebenarnya banyak kita temukan berupa penggalan di majalah-majalah pria dewasa atau tabloid lampu merah yang menjamur hampir dua dekade lalu, karya fenomenal yang dirangkum dalam 3 buku dari 2003-2006 itu memang lebih terasa komprehensif dan lebih bisa dipertanggungjawabkan di balik status Emka sendiri.

Adaptasinya sudah pernah muncul tahun 2007 dari Velvet FilmsRexinema dan StarVision. Disutradarai Lance dengan skrip dari Joko Anwar, sementara ada Erwin Arnada di kursi produsernya, film yang memasang banyak bintang seperti Luna Maya, Lukman Sardi, Christian Sugiono dan Fachry Albar dalam peran stripper transgender itu sama sekali tak jelek, namun mungkin lebih bermain aman dengan narasi non investigatif. Sah-sah saja karena tentu semua terpulang lagi ke visi pembuatnya dalam konteks adaptasi. Tapi mungkin Emka punya pendapat lain, kita tak tahu itu.

So, hampir satu dekade kemudian adaptasinya kembali dibuat ulang, wajar juga kalau ada eksplorasi berbeda dari Fajar Nugros bersama Demi Istri Production sebagai helmer-nya. Emka pun turut serta sebagai salah satu eksekutif produser bahkan mencantumkan namanya di judul. Sempat tertunda sekian lama untuk bisa dirilis, keikutsertaannya di JAFF (Jogja-NETPAC Asian Film Festival) tahun lalu sudah terdengar kontroversial. Sayangnya versi theatrical yang sekarang kita saksikan adalah versi cut berbeda yang lebih dianggap aman buat di-submit ke Lembaga Sensor. Still, promo-promo-nya masih menyisakan adult atmosphere yang kental; tentu saja dalam kelas berbeda dari film-film ‘ngeres’ lainnya. Paling tidak, ini terdengar lebih setia mengangkat tema investigasi dengan arah yang terlihat jelas mau ke mana. Like a tour to Jakarta’s nightlife underground, at least.

Kecewa dengan redakturnya Djarwo (Lukman Sardi) yang memanfaatkan idealismenya sebagai jurnalis untuk keberpihakan politik, Pras (Oka Antara) secara tak sengaja bertemu dengan Awink (Ganindra Bimo), waria penari malam yang membawanya ke pergaulan dunia malam Jakarta. Masuk makin dalam ke jaringan mafia bawah tanah Yoga (Baim Wong) yang sempat diselamatkannya, Pras menemukan hal baru yang belum pernah dialaminya sebelumnya. Mendapat ide baru untuk menulis tentang ini sambil menjalin hubungan dengan Laura (Tiara Eve), super model dengan latar yang tak disangkanya, Pras baru sadar ketika dirinya berada pada titik paling sulit untuk bisa keluar dari pusaran pesta dan fantasi menuju cinta dan realita.

Meski mungkin agak sedikit outdated mengangkat dunia malam Jakarta dengan eksplorasi-eksplorasi fantasi seksual di era maraknya prostitusi online sekarang ini, naskah yang ditulis oleh Piu Syarif dan Nugros tetap terasa efektif membawa kita ikut menelusuri investigasi Pras sebagai penggerak utama di bawah atmosfer remang-remang yang menyatu dengan semua lapis bangunan set-nya yang menjelaskan dunia-dunia berbeda.

Eskalasi kenakalan dan tiap sexual experience-nya juga tertuang dengan baik bersama kontras kisah romansa yang dihadirkan lewat karakter Laura yang diperankan oleh model-DJ Tiara Eve. Muncul dengan gestur dan ekspresi seducing-nya, juga tak canggung di beberapa adegan cukup berani, mereka menempatkan karakter Pras – juga diperankan dengan baik oleh Oka Antara di balik chemistry lekat ke Tiara, seolah mewakili fantasi atau justru pengalaman banyak pemirsanya sendiri tanpa sekalipun terlihat malu-malu dan serba ditutupi, lagi-lagi walau versi yang kita saksikan sekarang sudah sedikit dipoles lebih aman.

Bersama penceritaan yang tak meninggalkan nafas investigasi itu, keberadaan karakter-karakter sampingannya seperti Yoga yang membawa Baim Wong ke level akting lebih meski terkadang tetap terasa kelewat meledak-ledak, partner-nya yang diperankan Richard Kyle secara proporsional – lebih ke dominasi look ketimbang act, hingga peran-peran singkat Lukman Sardi dan Tio Pakusadewo yang tak perlu lagi dipertanyakan kualitasnya, juga bisa membaur dengan baik ke storytelling yang berujung ke sebuah chaotic climax yang membenturkan semua karakter itu di satu titik temu. Masih ada pula Nikita Mirzani yang kali ini juga dimanfaatkan dengan baik bersama seabrek cameo komedian dari Ucok Baba, Babe Cabiita, McDanny dan Sammy Not a Slim Boy, plusvoice act yang mungkin tak disadari banyak orang dari seorang Dewi Irawan.

Namun yang bermain paling juara adalah Ganindra Bimo sebagai Awink yang bukan saja jadi pendukung utama yang cemerlang di balik sosok stripper waria tanpa pernah bisa kita bayangkan sebelumnya, tapi juga dengan gestur dan ekspresi nyaris sempurna, benar-benar masuk dan menjelma menjadi karakter itu. Lantas Agus Kuncoro yang seharusnya disimpan untuk tak menjadi spoiler yang menurunkan excitement-nya, serta Erick Estrada yang dengan cermat digunakan Nugros dkk sebagai simbol carut-marut Jakarta lewat peran gelandangan sinting yang kerap muncul menguatkan narasinya. Tiga aktor ini sekaligus menjadi highlight terbaik dalam keseluruhan ensemble acts-nya, membuat tiap sisi ‘Jakarta Undercover’ kerap terasa bergerak sangat liar.

Sayangnya, elemen-elemen yang sudah bersinergi dengan baik sejak awal ini sedikit tersandung di eksposisi ending-nya. Terkesan clumsy dan kelewat cepat menurunkan pace dari chaotic climax-set up yang seharusnya bisa jauh lebih menohok, juga menyisakan banyak tanda tanya serius, Nugros justru membelokkannya ke romantisasi yang sedikit terasa over dan malah agak canggung serta terbata-bata untuk jadi lebih puitis – meskipun ia terlihat mencoba untuk itu.

Though being a letdown for that finale, menuangkan atmosfer vulgar namun diperlukan – necessarily needed, ‘Jakarta Undercover’ untungnya masih punya penggarapan teknis yang bagus. Sinematografi Padri Nadeak bersinergi dengan eksplorasinya, sementara tata artistik dari Oscart Firdaus juga menghadirkan penekanan lapis sosialnya dengan bagus. Editing dari Yoga Krispratama bergerak se-liar penuturannya bersama tata musik dari Treehouse Sound dan pemilihan beberapa soundtrack yang pas dengan atmosfernya. Could raise more stakes, ‘Moammar Emka’s Jakarta Undercoveris good for being what it wanted to be. A wildly seductive ride into Jakarta Underground with some seriously notable performance. (dan)

danieldokter

danieldokter

Daniel Irawan adalah pemilik situs ini.
danieldokter

Latest posts by danieldokter (see all)