Home » Dan at The Movies » INTERCHANGE (2016)

INTERCHANGE (2016)

INTERCHANGE: VISUALS OVER NARRATIVE IN AN INGENIOUS NEO NOIR – SUPERNATURAL THRILLER FANTASY

Sutradara: Dain Iskandar Said

Produksi: MDEC, Apparat, Seeing Eye Films, Cinesurya, 2016

interchange

Beberapa tahun belakangan mungkin merupakan momen baik untuk sinema alternatif Malaysia. Oh yes, nanti dulu soal gelar-gelar film terbaik di festival lokal, yet they still struggling in terms of box office, of course, tapi meneruskan langkah yang dimulai oleh beberapa sineas seniornya di awal-awal ‘90an, sinema alternatif, indie atau non-mainstream atau kalaupun mau disebut arthouse berdasarkan banyak persepsi-persepsi beda, mereka bisa membangun ciri yang jelas dalam membawa kultur dan pendekatan-pendekatan distinctive tanpa harus terlihat pretensius meniru sinema luar negaranya. Gerakan ini bisa terus hidup, berkembang semakin inventif dan tak melulu hanya terduduk di genre-genre drama tapi merambah diversifikasi lebih luas ke komedi, thriller bahkan sci-fi dari nama-nama seperti Nik Amir Mustapha, Liew Seng Tat dan Dain Iskandar Said – di antaranya.

Interchange’ yang lahir dari nama terakhir, Dain Iskandar Said yang sebelumnya membesut ‘Bunohan: Return to Murder’ (2012), submisi mereka ke Oscar tahun itu, merupakan produksi kolaborasi bersama Indonesian-owned Cinesurya dari produser Rama Adi dan Fauzan Zidni. Menjadi official selection dan kontender di beberapa festival internasional dari Locarno, Toronto hingga Singapore, premisnya sejak lama terdengar cukup ambisius sebagai sebuah neo noir detective thriller berbalut elemen supernatural dari mitologi dan kultur kuno daerah perbatasan keduanya.

Sebagai highlight kolaborasi itu, selain aktor-aktor Malaysia termasuk Iedil Putra yang belakangan menjadi aset terpanas sinema alternatif mereka lewat ‘Cuak’, ‘Nova: Terbaik dari Langit’ dan ‘Pekak’, ada Nicholas Saputra yang punya nama cukup besar di sana bersama Prisia Nasution. Sayang peredarannya tak serentak di kedua negara, meninggalkan rilis bioskop kita setelah filmnya tayang di kanal televisi Astro.

Adam (Iedil Putra) yang sudah meninggalkan profesinya sebagai fotografer forensik seketika dibawa kembali oleh permintaan rekannya, detektif polisi Man (Shaheizy Sam) selepas kasus pembunuhan misterius yang terjadi secara beruntun. Membantu Man dan partnernya, Jason (Alvin Wong) mengungkap kasus yang meninggalkan mayat kehabisan darah dengan temuan bulu burung Rangkong Gading asal Borneo yang sudah punah serta plat kaca negatif kuno, Adam masuk semakin dalam ke batas yang tak pernah ia bayangkan lewat perkenalannya dengan Iva (Prisia Nasution), tetangga yang jadi objek intaiannya.

Walau punya premis sebagai thriller berbalut elemen supranatural, status ‘Interchange’ sebagai sinema alternatif memang membuatnya dipenuhi simbol dan berbagai subteks yang membenturkan ancient culture and beliefs, ritual-ritual spiritual, survival, peradaban, cinta hingga persahabatan yang cukup kaya buat membangun unsur-unsur sinematisnya secara tak biasa. Belum lagi sematan historikal ke pengenalan suku, sejarah fotografi hingga literatur eksplorasi. Sayangnya, skrip yang dibesut oleh Dain bersama produser Nandita Solomon, juga June Tan dan Redza Minhat (aktor utama dalam Nik Amir Mustapha‘s ‘Kil’) tak benar-benar sempurna menggelar semua interkoneksinya.

Seringkali, fondasi narasi itu terlihat kelewat sengaja dibiarkan blur dan unsettling di tengah dialog-dialog puitis yang justru di satu sisi sedikit menenggelamkan template dasarnya sebagai sebuah detective thriller yang menjual misteri pembunuhan di permukaan terluarnya. Walau prosesnya sedikit banyak menjelaskan satu-persatu benang merah buat membuka lapisan twist di antara karakter-karakternya, tetap ada balance yang terasa kurang seimbang hingga ke menit-menit akhir durasinya terutama bagi pemirsa awam yang berada di luar segmentasi kombinasi genre yang mereka hadirkan.

Sudah begitu, ‘Interchange’ juga harus berhadapan dengan inkonsistensi dua budaya yang diangkatnya dalam kolaborasi produksi tadi. Sebagaimana kita tahu, ciri khas kultur Malaysia yang selalu hadir dengan kuat – apalagi ‘Interchange’ digarap oleh Dain sebagai sineas Malaysia, sedikit terlihat jomplang dengan sematan budaya perbatasan Kalimantan/Borneo yang mereka hadirkan lewat karakter-karakter Indonesia-nya. Tak seperti karakter Adam dengan dialek Melayu Sabah yang dilantunkan dengan baik oleh Iedil, dialog-dialog Nicholas dan Prisia lewat karakter mereka seringkali terasa inkonsisten apalagi dicampur-baur dengan benturan modernisasi penggunaan dialog-dialog berbahasa Inggris.

Begitupun, intensitas ketegangannya bisa tetap terjaga dengan presentasi teknis dan akting yang berada di atas rata-rata. Sinematografi Jordan Chiam / Wei Meng Chiam (‘Nova: Terbaik dari Langit’) berhasil menghadirkan atmosfer neo-noir bercampur fantasi supranatural yang bersinergi penuh dengan sensibilitas Dain menggelar penceritaannya di tengah desain produksi Zaharah Nakibullah yang menempatkan set ‘Interchange’ di persimpangan peradaban modern dengan hutan tropis tradisional yang cenderung surreal dengan tampilan detil elemen flora/fauna-nya. Makeup dan efek-efek visual dari Imagica SEA pun tergolong lebih dalam kelasnya. Desain creature dari karakter Belian yang diperankan Nicholas Saputra muncul dengan balutan CGI buat menggambarkan proses mutasinya dengan cukup meyakinkan.

Masih ada atmospherical scoring yang dengan kuat memberikan kesan eerie di sepanjang durasinya oleh Luka Kuncevic, komposer asal Kroasia yang karya sebelumnya sudah kita dengarkan dalam indie-arthouseLelaki Harapan Dunia’ hingga record-breaking blockbusterPolis Evo’. Dan untungnya lagi, skrip Dain dan rekan-rekannya tetap bisa leluasa menghadirkan sparks tanpa sama sekali menyampingkan tampilan luarnya sebagai sebuah detective thriller. Ada beberapa adegan aksi yang muncul paling intens dalam style natural hingga elemen-elemen klisenya di interaksi partnerships karakter-karakter utamanya baik protagonis maupun antagonis yang tetap dibiarkan tergelar di batasan abu-abu.

Semua pendukungnya pun bermain dengan baik. Di deretan teratasnya ada Shaheizy Sam (‘Polis Evo‘), aktor mereka yang biasa tampil di film-film mainstream – yang diarahkan lebih komikal memerankan Man – membentuk chemistry unik bersama Iedil Putra sebagai Adam, sementara Nicholas Saputra dan Prisia Nasution lebih mengedepankan gestur dalam penekanan ancient myths-nya. Dan masih ada Nadiya Nisaa, Alvin Wong dan Chew Kin-wah dari ‘My Stupid Boss’ dan ‘Cek Toko Sebelah’ yang masing-masing bisa mencuri perhatian di tengah interaksi karakter-karakter utamanya.

Lagi, dalam eksistensinya sebagai sinema alternatif, ‘Interchange’ memang tak bisa menghindar dari style Dain yang juga sudah kita lihat dalam ‘Bunohan’. Itu jelas pilihan dan sama sekali tak salah, namun sayangnya tak sepenuhnya berhasil dalam keseimbangan desain naratifnya secara keseluruhan. Pada akhirnya, di tengah interkoneksi yang menuntut pemikiran lebih hanya buat pemirsa yang mau menyelami subteks-subteksnya secara lebih mendalam, pemirsa lainnya mungkin lebih melihat ‘Interchange’ sebagai cat and mouse thriller yang tak kunjung memberi jawaban memuaskan.

Visuals over narrative, intersect both countries’ culture and myths, ‘Interchangeis still an ingenious neo noir – supernatural thriller fantasy. Paling tidak, ia lagi-lagi menjelaskan digdaya sinema negara tetangga dalam inovasi sinema alternatif mereka. Tetap membawa kultur sedemikian kuat – tanpa pernah lepas dari semua lapisan suku bangsa yang ada di negaranya: Melayu – China – India and more, di atas keberanian merambah ranah genre yang tak lagi itu ke itu saja, kita perlu lebih lagi kolaborasi-kolaborasi seperti ini. (dan)