Home » Dan at The Movies » GALIH DAN RATNA (2017)

GALIH DAN RATNA (2017)

GALIH DAN RATNA: LIKE AN INTIMATE MIXTAPE, A NEW RENDITION THAT STAYS TRUE TO EVERY TRACE OF MEMORIES

Sutradara: Lucky Kuswandi

Produksi: 360 Degrees Synergy, Nant Entertainment, Josh Pictures, 2017

galih dan ratna

Sebuah remake mungkin menjadi sulit kala ia harus mengulang karya dengan status legendaris. Truth. Jadi tak heran kalau kita sering sekali mendapati reaksi-reaksi skeptis dari audiens zaman sosmed, di mana opini bisa menjangkau pendengarnya secara lebih meluas. Harus diakui, mau se-cemen apapun orang-orang sekarang menganggap pakem film kita tempo doeloe dengan dialog-dialog berbahasa baku plus intonasi dubbing yang cenderung sangat datar bila dibandingkan kenyataan sehari-hari – lengkap dengan konflik-konflik klise cinta terhalang tradisi oleh orangtua kolot, ‘Gita Cinta Dari SMA’ (1979), arahan Arizal yang diadaptasi dari novel karya Eddy D. Iskandar, juga penulis skripnya, adalah film Indonesia dengan status legendaris. Begitu pula sekuelnya, ‘Puspa Indah Taman Hati‘ di tahun yang sama.

Masih lekat sampai sekarang buat pemirsa yang sempat menyaksikannya, kuncinya memang ada di dua pemeran utamanya; Rano Karno dan Yessy Gusman – yang meski tak terlalu banyak bermain sebagai on-screen couple – tapi dianggap salah satu pasangan layar lebar paling monumental dalam sejarah film kita. Serta, tentu saja, sentuhan musikal dari Guruh Soekarno Putra yang membuat soundtrack-nya, sebagian besar dibawakan oleh alm. Chrisye di album OST-nya, jadi begitu memorable hingga sekarang. Jauh sebelum Rangga dan Cinta, kita punya Galih dan Ratna di balik kekuatan sebuah karya. Ones that defines an era dan segala kultur pop masa itu.

So, seberapa sulit ia dibuat ulang, jawabannya jelas ada pada visi kreator barunya. Untungnya, ‘Galih dan Ratna’ memang tak malu mengaku sebagai sebuah remake meski beban yang ditanggungnya tak mudah. Di tangan sutradara Lucky Kuswandi yang ikut menulis skripnya bersama Fathan Todjon, mereka menanggap esensi terdalam dari tiap jejak historisnya. Felt lucky to have read the script before the production began, saya mendapati bahwa secara luar biasa inventif, tanpa melulu berusaha mengulang, mereka memindahkan karakter-karakternya ke aktualitas generasi millennial tanpa melupakan elemen-elemen yang membuat film aslinya jadi se-legendaris itu. Ada musik sebagai motif penting bentukan sparks dalam penceritaannya – bahkan menelusuri proses theme song lawasnya, dan yang terpenting – what they wrote could bring back memories to the original film. Untungnya lagi – pemilihan cast-nya yang melalui serangkaian audisi akhirnya menempatkan Refal Hady dan Sheryl Sheinafia sebagai ‘Galih dan Ratna’ baru, adalah keputusan yang cermat.

Dengan bentukan karakter tak terlalu jauh berbeda, but inverted in some parts, Galih (Refal Hady) kini adalah seorang siswa SMA teladan yang hidup di tengah tuntutan seorang anak sulung dari single mother (Ayu Dyah Pasha) yang berjuang menghidupi keluarganya lewat warisan usaha sang ayah yang pemimpi, sebuah toko kaset bernama ‘Nada Musik’ yang hampir mati ditelan kemajuan teknologi digital. Tumbuh dengan idealisme sang ayah, pemimpi dengan kebiasaan membawa walkman ke mana-mana, pertemuannya dengan Ratna (Sheryl Sheinafia), seorang murid baru di sekolahnya, mengubah segalanya. Begitu juga bagi Ratna, produk millennial berkecukupan yang dititipkan ayahnya (Hengky Tornando) pada tantenya (Marissa Anita), perkenalannya dengan Galih menumbuhkan motivasinya mengasah bakat musik, bermain gitar dan menulis lagu, yang selama ini tak pernah dipedulikannya. Berdua, mereka menemukan kecocokan dan mencoba melawan sistem. Menghidupkan kembali ‘Nada Musik’ sejauh mana mereka bisa di tengah cinta yang bergejolak, yang sayangnya juga menimbulkan potensi sebaliknya buat kelangsungan hubungan keduanya.

Kekuatan mendasar ‘Galih dan Ratna’ sebagai sebuah remake, tak seperti segelintir remake film kita yang rata-rata gagal di tengah ambisi kosong pembuatnya – adalah skrip yang digagas sangat rapi dengan relevansi penuh terhadap update attempts dari produk aslinya. Di layer terdasarnya, ia tetaplah kisah ‘Galih dan Ratna’, namun menyemat isu-isu aktual yang lebih relevan – bukan lagi cinta terhalang perbedaan suku dan orangtua super kejam, ada kewajaran yang dibangun dari spirit generasinya yang tertangkap dengan jelas di tiap baris skrip itu.

Dan di titik sentralnya, tanpa harus berwujud musikal seperti source adaptasi film pertamanya, Lucky dan Fathan meletakkan musik sebagai motif utama yang menggerakkan keseluruhan penceritaan hingga konfliknya. Spirit terbesar soal musiknya pun dituangkan dengan relevansi penuh ke isu manual versus digital sebuah karya, membawa elemen mixtape untuk memicu kenangan masa sekolah sebagian pemirsanya sekaligus pemantik perhatian generasi barunya terhadap mixtape sebagai media buat mengungkap perasaan.

Di tengah-tengahnya, ide ini memunculkan naiveness generasi muda yang benar-benar punya potensi buat menghujam titik sasarannya tanpa perlu kelewat bernostalgia terpaku di penggunaan produk-produk lawas yang hanya memuat ‘Sakura’-nya Fariz R.M. dan sedikit trivia ke Candra Darusman untuk memperkuat pengantar estafet gesture di opening scene; cameo Rano dan Yessy buat menjembatani dua atau lebih generasi pemirsanya. Bahwa penempatan minat terhadap kaset dan seluruh aspeknya; dari platform hingga dialog-dialog yang menyenggol genre sebagai bagian dari sejarah kultur musik, bukan lagi hanya soal relevan atau tidak, tetapi menjadi jiwa sekaligus karakter dan benang merah penghubung setiap twist and turn plot-nya.

Menerjemahkan visi Lucky dengan detil-detil yang mengagumkan, tata kamera dari Amalia T.S. pun bekerja dengan kuat. Closeup shots ke tiap gestur terhadap aspek-aspek kultur popnya, dari tombol-tombol cassette player/tape deckrec-play and stop, tape reels, rak-rak dan tiap media pajangan, alat pemutar hingga simbol-simbol lebih dalam dari keberadaan write-protect tab dari bagian kaset – bahkan menyentil persepsi copyright di masa sekarang – as an intimacy of imperfect technology, just like human, menjadi bagian yang sangat hidup bersama pemilihan soundtrack dan scoring dari Ivan Christian Gojaya yang dengan sinergi kuat memberi nuansa ke visual dan storytelling Lucky.

Satu hal lagi dari inovasi inventif ini, bahwa Lucky dan Fathan tak hanya merasa perlu menghadirkan theme song lawasnya, ‘Gita Cinta’ – yang dibawakan sangat cantik dalam nuansa akustik minimalis oleh Sheryl Sheinafia, tapi juga sekaligus menyematnya sebagai homage dengan porsi yang berpindah ke karakter Ratna. Pembelokan konflik barunya secara aktual, yang membuat baris-baris liriknya tak lagi terasa relevan di bagian-bagian awal, secara detil mereka tuangkan ke lyrical process menuju pengembangan storytelling-nya dengan cermat buat terbentuk seperti lirik yang selama ini kita kenal di ujung akhirnya. Untuk sebuah remake tanpa sekedar menyemat theme song aslinya, ini adalah usaha jenius yang mungkin belum pernah kita temukan di remake-remake lain.

Dan seperti new renditions dua soundtrack lawasnya, juga termasuk ‘Galih dan Ratna’ dari GAC plus nomor-nomor barunya, pemilihan cast-nya pun merupakan kecermatan luar biasa. Di atas kertas, Refal dan Sheryl mungkin jauh dari bayangan kita sebagai Galih dan Ratna yang sudah begitu melekat ke sosok Rano dan Yessy, yet works like a miracle, tak hanya dari wonderfully believable chemistry, baik Refal dan Sheryl berhasil menghidupkan karakternya dengan love sparks sempurna. Adorable di tiap penyampaian dialognya, juga dengan eye contact yang sangat affectionate di tiap eskalasi relationship mereka. Tak banyak aktor-aktor baru yang bisa bersinergi sekuat itu, just like a love at first sight, dan itu artinya, baik Refal dan Sheryl jelas punya masa depan dengan talenta yang mereka miliki.

Masih ada juga dukungan solid dari pendukung-pendukung lainnya serta seabrek cameo yang muncul – dari Indra Birowo ke Sari Koeswoyo; Joko Anwar dan Marissa Anita sebagai dua supporting cast yang paling menonjol dengan pendekatan komikalnya, sementara walau gang-nya Ratna tak sekuat Arie KoesmiranShirley Malinton di ‘Gita Cinta dari SMA’, Stella Lee, Rain Chudori dan Anneqe Bunglon bermain cukup proporsional di gambaran baru generasinya.

So, ‘Galih dan Ratna’ memang tak hanya sekedar remake, tapi lebih dari itu, selain merupakan penceritaan ulang salah satu love tales paling abadi di film kita dengan relevansi, ia juga menyemat kultur pop musik kita – satu aspek yang membuatnya sangat layak dilepas di momentum peringatan Hari Musik Nasional kemarin. Put actual issues, yet stays true to every trace of its memories, ‘Galih dan Ratna’ flows like an ultimately intimate mixtape that plays each note right into your heart. Pada akhirnya, semua inovasi itu menjadi penerjemahan dari esensi paling dasarnya – bahwa kita semua bisa jadi adalah Galih dan Ratna yang berbeda, di atas sebuah kisah cinta yang universal dan jadi refleksi masa remaja tiap pemirsanya. (dan)

 

 

danieldokter

danieldokter

Daniel Irawan adalah pemilik situs ini.
danieldokter

Latest posts by danieldokter (see all)

  • Muhammad Habibie Ibnu Halim

    Saya belum pernah nonton Gita Cinta dari SMA, sekarang suka banget sama Galih & Ratna. Tak sabar liat Sheryl dan Refal main di film berikutnya.

    Ulasan saya untuk Galih & Ratna https://ulasanfilm21.com/galih-ratna-2017/

    Semoga film ini lebih banyak lagi yang nonton dan bertahan cukup lama di bioskop. Sayang film sebagus ini gak ditonton 😀