Home » Dan at The Movies » HIDDEN FIGURES (2016)

HIDDEN FIGURES (2016)

HIDDEN FIGURES: AN ULTIMATE SHOOT FOR THE MOON

Sutradara: Theodore Melfi

Produksi: Fox 2000 Pictures, Chernin Entertainment, Levantine Films, TSG Entertainment, 20th Century Fox, 2016

hidden figures

Sometimes, melebihi apapun result akhirnya secara filmis, sebuah film menjadi penting atas konten informasi yang diusungnya. Membahas sebuah hal monumental dalam sejarah lebih dari hanya sekedar soal diversity bagi POC ataupun women’s empowerment; dua yang lagi getol-getolnya disuarakan di industri mereka, ‘Hidden Figures’ membuka mata kita terhadap sebuah profesi yang mungkin – belum pernah dijadikan fokus secara khusus di film mana pun.

Lebih juga dari sekedar tema besar soal sejarah eksplorasi luar angkasa oleh NASA, ‘Hidden Figures’ yang merupakan adaptasi dari novel biografi berjudul sama karya Margot Lee Shetterly, penulis debutan yang datang dari keluarga yang ada di lingkungan itu dari sang ayah – bekerja sebagai ilmuwan peneliti di institusi itu, menyorot tiga ahli matematika wanita sebagai bagian dari kelompok pekerja Afrika-Amerika – kesemuanya wanita, yang merupakan instrumen sukses dari peluncuran spacecraft Friendship 7 dalam Project Mercury. Peluncuran manusia ke luar angkasa yang membawa astronot John Glenn (diperankan John Powell in just the right amount of charisma) sebagai astronot pertama AS yang berhasil mengitari orbit Bumi di tahun 1962. And of course, there’s more.

Memusatkan kisahnya pada perjuangan tiga sosok wanita jenius matematika di pusat riset NASA Hampton, Virginia, tahun 1961 yang sebelum ini mungkin belum pernah terdengar oleh terlalu banyak orang; ada Katherine Goble (Taraji P. Henson), ahli hitung yang ditugaskan ke divisi utama Space Task yang dipimpin oleh Al Harrison (Kevin Costner), Mary Jackson (Janelle Monae), teknisi wanita tangguh yang ingin meraih gelar resmi keahliannya dan Dorothy Vaughan (Octavia Spencer) yang berambisi menjadi salah satu supervisor utama di sana. Ketiganya harus melawan banyak tantangan di tengah diskriminasi kulit putih masa itu, keluar dari keterkungkungan marginalisasi kaumnya – baik sebagai wanita dan POC, untuk membuktikan bahwa sebuah dedikasi dan dukungan terhadap kemajuan teknologi negaranya di masa perang dingin AS-Rusia, sama sekali tak mengenal batas gender dan warna. Genious has no race. Strength has no gender. Courage has no limit.

Walau berfokus hanya terhadap ketiga karakter ini, skrip yang ditulis oleh Theodore Melfi (baru dikenal lewat acclaimed indie featureSt. Vincent’ yang dibintangi Bill Murray dan Naomi Watts) bersama penulis debutan Allison Schroeder (asisten produser ‘Pinneaple Express’ dan penulis sekuel ‘Mean Girls’ yang masih dalam tahapan pengembangan) dengan cermat tetap membahas kelompok wanita Afrika-Amerika yang ditempatkan di gedung terpisah yang lebih mirip gudang di institusinya. Sosok Katherine pun memegang porsi lebih dibanding dua karakter utama lain – namun tak sekalipun meninggalkan mereka sebagai sekedar pendukung. Instead, bagian-bagian penceritaannya tetap membuat mereka semua di atas kepentingan-kepentingan yang sama di balik penggalan kehidupan pribadinya.

Dan sesuai tone-nya sebagai kisah sukses dan perjuangan dengan moral anti diskriminasi gender dan warna kulit, skrip itu tak pernah keterusan membawa pergulatan batin yang lebih ke ranah depresif seperti trend sinema sekarang – yang kebanyakan sulit menghindari sentuhan-sentuhan pretensius. Mereka digambarkan sebagai patriot di tengah tekanan karakter-karakter yang sengaja ditampilkan di batasan-batasan comically cliche secara filmis, bahkan menyerupai Disney Princess’ stories – atau ‘The Help’ in Space, seperti banyak pandangan negatif yang dilontarkan sebagian orang.

Namun ini bukan berarti salah. Justru di situ, esensi yang diusung judulnya lantas berhasil membuka mata semua pemirsanya ; menyadari bahwa sematan-sematan informasi yang dihadirkan dalam sebuah karya tak perlu jadi terlalu njelimet sampai berbalik mengingkari tendensi mengapa filmnya dibuat. Bahwa tak pernah ada kata terlambat untuk menghargai perjuangan besar sebagian orang yang selama ini berada di bawah radar – sebagai bagian penting dari sejarah umat manusia, dan para pahlawan di luar pahlawan. Sebagai nominee Oscar dan award-award lain pun, termasuk kemenangan ensembelnya di SAG pun, tak peduli ia banyak dianggap berada di jalur yang tak lagi populer dengan kecenderungan dekade belakangan dengan film-film yang lebih ‘nyeni’, ini tetap merupakan cara terbaik untuk membuat main figures in ‘Hidden Figures’ itu tak lagi hidden bagi semua pemirsanya. Di balik misi dan sejarah yang mungkin kita sudah tahu, orang-orang unik yang berperan di belakangnya – sebagai sebagian variabel penentunya, tidak.

And instead, ada banyak sekali sparks-sparks penting dalam storytelling-nya buat menyemat kultur, social critics hingga informasi aktual tentang elemen-elemen yang saling terkait dalam misi eksplorasi luar angkasa. Hitungan matematis yang menentukan nyawa, perkembangan teknologi hingga aspek-aspek detil lain dalam aktivitas institusi yang diangkat; bisa membangun ketegangan yang nyaris menyamai genre-genre sci-fi yang lebih pop. Bersama itu, begitu kuatnya skrip Melfi dan Schroeder menyemat sejarah diskriminasi warna kulit dan gender dalam plot-nya. Satu highlight terbaiknya bahkan membuat kita tersadar bahwa seharusnya Kevin Costner adalah kandidat Best Supporting Actor yang sangat layak buat awarding events tahun ini lewat ‘bathroom breaksscene dan quote terkuatnya soal equality. “Here at NASA, we all pee the same colors”.

Dari sisi akting dan teknis pun, ‘Hidden Figures’ jadi juara dalam ensembelnya. Ada chemistry kuat di antara tiga karakter utama yang membuat award voters mungkin akan sulit menentukan yang mana paling menonjol antara Taraji P. Henson, Janelle Monae dan Octavia Spencer – plus tentunya Kevin Costner. Janelle Monae pun menunjukkan kekuatan yang lebih dari performa singkat tapi luar biasa berkesan sebagai salah satu momen terbaik dalam ‘Moonlight‘, membuat kita sadar ia sangat potensial dan akan semakin besar di industrinya. Masih ada Jim Parsons dari sitcomThe Big Bang Theory’ dan Kirsten Dunst buat memberinya porsi komikal; sebagai penyeimbang secara proporsional. Dukungan paling lemah justru datang dari sosok fenomenal Mahershala Ali, pemenang banyak awards termasuk Oscar untuk Best Supporting Actor di ‘Moonlight’, yang beberapa kali agak merusak momen-momen heartfelt dan pentingnya dengan akting jomplang, terutama dibanding Henson sebagai lawan main utamanya.

Di sisi teknis, ada scoring bagus dari Hans Zimmer yang sama sekali tak seperti komposisinya belakangan. Tanpa mesti majestis seperti rata-rata Zimmer sekarang, scoring-nya di ‘Hidden Figures’ berhasil memberi dan menambah rasa seperti karya-karya awalnya dulu. Sementara sinematografi Mandy Walker, DoP asal Australia dari film-film dengan sinematografi notable seperti ‘Lantana’, ‘Baz Luhrmann’s Australia’ dan ‘Jane Got a Gun’ – walau mungkin terlihat biasa saja, tapi bersinergi dengan production design-nya memberikan detil-detil aktivitas di set terbatasnya, membuat informasi sulit soal matematis yang diusung ‘Hidden Figures’ bisa tersampaikan dengan baik tanpa harus menguasai ilmunya, bersama penekanan-penekanan penting soal sejarah diskriminasi itu.

Dengan semua itu, ‘Hidden Figures’ seperti variabel-variabel dalam rumus matematika yang memberikan jawaban atau konklusi akhirnya, memang menjadi terlalu penting buat diabaikan. On the most important note, ia memberi semangat dan mengajarkan kita, that when destiny took you to marginalized corner of bigger community, you better fight for what you have instead of depressed, whining and playing victims. Memberi inspiring message untuk bangkit melawan ketidakadilan gender dan warna dengan elegan, juga luarbiasa heartfelt hingga dalam sisi mana pun, ketika bicara soal diversity dan eksistensi atau pilihan gender, ia jauh lebih layak dihargai dari kontender satunya yang mendapat spotlight lebih di awarding season kemarin hanya karena semata-mata alasan politis dan backlash berlebihan dari persentase supporter yang jauh lebih kecil dalam skup universal. Setup a math of heroes beyond heroes, unheard efforts that change the history of mankind, ‘Hidden Figures’ is an ultimate shoot for the moon. (dan)

danieldokter

danieldokter

Daniel Irawan adalah pemilik situs ini.
danieldokter