Home » Dan at The Movies » BEAUTY AND THE BEAST (2017)

BEAUTY AND THE BEAST (2017)

BEAUTY AND THE BEAST: REINVENTING THE MAGIC, A TALE AS OLD AS TIME NOW LIVES ON FOR EVERMORE

Sutradara: Bill Condon

Produksi:  Walt Disney Pictures, Mandeville Films, 2017

beauty and the beast

Bersama rencana Disney mengadaptasi animasi-animasi klasiknya menjadi series of live action films, meski bukan yang pertama – sudah ada ‘Alice in Wonderland‘ dan sekuelnya, ‘Maleficent’, ‘Cinderella’ dan ‘The Jungle Book’, serta jauh sebelumnya, ‘The Jungle Book’ versi 1994 dan ‘101 Dalmatians’ – ‘102 Dalmatians’, Disney seakan mendorong hype-nya paling besar di ‘Beauty and the Beast’. Polanya pun bukan lagi sekedar live action adaptation biasatapi lebih ke sebuah rendisi untuk mengulang keajaiban, with almost a shot-by-shot, angle-to-angle treatment.

So whyBeauty and the Beast’? Selagi banyak mungkin generasi sekarang yang tak mengalami pencapaian fenomenal animasi versi 1991-nya, for all the right reasons, versi 1991 itu memang merupakan benchmark buat animasi klasik mereka, walaupun era baru kebangkitannya sudah dimulai dari ‘The Little Mermaid’ di tahun 1989. Raise the bars di tiap sisi treatment dan komposisi animasinya, versi spesial yang mereka namakan ‘Beauty and the Beast: Work in Progress’ sebelum rilis resminya – mengajak para pemirsanya merasakan pengalaman menikmati detil 4 tingkatan proses pembuatan animasi; frame by frame ke setiap visual animasi hebat terutama adegan ballroom dance yang fenomenal, menjadi salah satu highlight di New York Film Festival di tahun yang sama dan belakangan juga dirilis dalam bentuk Laserdisc era itu – dan sekarang – juga Bluray.

So, like reliving the magic, ‘Beauty and the Beast’ memang layak mendapat perlakuan spesial.  Selain menjadi film animasi pertama yang menembus BO domestik 100 juta USD, ia juga menjadi film animasi pertama yang memborong tiga nominasi Oscar sekaligus untuk Best Original Song, sekaligus film animasi pertama yang bisa bersanding di deretan nominee Best Picture Oscar – satu-satunya hingga tahun 2009. Masih banyak rekor lain yang membuat ‘Beauty and the Beast’ yang aslinya merupakan adaptasi dongeng Perancis karya Jeanne-Marie Leprince de Beaumont, menjadi sedemikian penting dalam proses-proses pencapaiannya. Kita mungkin tak mengharapkan sesuatu yang sama ke versi live action Disney lainnya, tapi untuk ‘Beauty and the Beast’, beda. Menyaksikan tiap framing animasinya dihidupkan kembali ke sebuah live actionwith added gimmicks – adalah sebenar-benarnya sebuah ultimate cinematic experience. At least, trailer-nya sudah menujukkan itu.

Thus, juga tak banyak yang berubah dari plot-nya. Masih soal kutukan dari seorang penyihir yang menimpa Sang Pangeran (diperankan Dan Stevens) – seisi istana berikut kini – ingatan seluruh penduduk kota, karena kesombongannya. Untuk mengalahkan kutukan itu, Pangeran yang berubah menjadi sesosok monster buruk rupa; Beast, harus menemukan cinta sebelum kelopak bunga mawar terakhir yang ditinggalkan si penyihir jatuh. Dan datanglah Belle (Emma Watson), putri seorang penemu kutubuku Maurice (Kevin Kline) yang datang ke istana Beast untuk menyelamatkan Maurice; yang ditawan karena mencuri sekuntum bunga mawar untuknya. Dengan bantuan Lumiere the Candelabra (disuarakan Ewan McGregor) beserta rekan-rekannya; Cogsworth the Mantle Clock (Ian McKellen), the teapot – teacup Mrs. Potts & Chip (Emma Thompson & Nathan Mack), Cadenza the Harspichord (Stanley Tucci) dan Madame de Garderobe the Wardrobe (Audra McDonald), dan Plumette the Feather Duster (Gugu Mbatha-Raw), apalagi setelah Beast menyelamatkannya dari sekumpulan srigala, hubungan itu mulai perlahan berbalik menjadi cinta. Namun usaha Maurice yang balik mencoba menyelamatkan Belle justru membuat Gaston (Luke Evans), pemburu narsis yang menginginkan Belle menjadi istrinya mengambil kesempatan; mempecundangi Maurice dan menyerang Beast ke istananya.

Meski mengandalkan penerjemahan visual sebagai kekuatan utama adaptasi live action-nya, komposisi ulang musik dari Alan Menken, juga star factors yang datang dari Emma WatsonDan Stevens dan supporting ensemble-nya, sutradara Bill Condon yang berada di balik dua instalmen final ‘Twilight’ ke puncak kesuksesannya tak lantas malas menyelipkan inovasi baru di penceritaan lewat skrip yang ditulis oleh Stephen Chbosky (penulis novel dan skrip adaptasi ‘The Perks of Being a Wallflower’) dan Evan Spiliotopoulos (‘Hercules’ 2014 dan ‘The Huntsman: Winter’s War’).

Sekilas, keduanya mungkin bukan seperti sosok potensial yang diharapkan dalam efforts sebesar ambisi filmnya, namun Chbosky & Spiliotopoulos berhasil menggagas elemen-elemen penceritaan baru dalam tambahan detil buat menekankan wujud versi baru ini sebagai live action. Menambah kompleksitas juga keadilan buat karakter-karakternya. Memberi latar kuat buat motivasi tiap karakter utama hingga pendukungnya, batasan lebih abu-abu soal benar salah, bahkan menambah beberapa karakter baru dan side love tales among characters, kita seolah mendapat penjelasan lebih terhadap pertanyaan-pertanyaan tak terjawab dari versi animasinya, kini menjadi lebih relevan serta humanis.

Dan untungnya lagi, Bill Condon benar-benar mengerjakan PR-nya bukan hanya sebagai helmer, but over the love yang sangat jelas terhadap source-nya. Di tangannya, jiwa asli dalam versi animasi itu menjelma jadi nyata melebihi ekspektasi-ekspektasi visual hingga penceritaan yang ada. Soal kemampuannya menerjemahkan musik ke dalam tema musikal pun, Condon jelas sudah sangat teruji lewat ‘Dreamgirls’, atau lihat bagaimana elemen musik berada di balik kesuksesan besar ‘Twilight‘.

Lagi, tone keseluruhan yang dibesut lewat sinematografi Tobias A. Schliessler, DoP veteran asal Jerman yang sudah bekerja dengan Condon dalam ‘Dreamgirls’ dan sejumlah film-film Peter Berg dari ‘The Rundown’ ke ‘Patriots Day’ juga membentuk sinergi yang luar biasa kuat dengan desain produksi award nominee production designer Sarah Greenwood (‘Atonement’, ‘Pride & Prejudice’ dan ‘Sherlock Holmes’-nya Guy Ritchie). Bisa jadi muncul jauh lebih dark ke arah gothic fairytale Tim Burton, tapi tak lantas se-gothic Alice atau seseram ‘Maleficent‘, tetap diimbangi di batasan fun sebagai all ages love fantasy. Seakan mengulang tiap detil yang dulu membuat versi animasinya menjadi begitu fenomenal dalam visual, kiprah mereka berhasil menghidupkan set dan looks-nya bak sebuah keajaiban.

Dan tentu jangan lupakan layer terdasarnya sebagai sebuah musikal. Mengaransemen ulang karyanya bersama alm. Howard Ashman yang meninggal tak lama setelah animasi 1991-nya dirilis, Alan Menken, komposer Disney paling legendaris kini membawa sentuhan lebih grande ke scoring hingga lagu-lagu legendarisnya: dari ‘Belle’, ‘Something There’ ke ‘Be Our Guest’ dan ‘Beauty & the Beast’. Memasukkan juga penggalan versi musikalnya dalam scoring, Menken bersama Tim Rice menambah beberapa nomor baru yang tak kalah kuat; memberi Beast theme song-nya sendiri lewat ‘Evermore’ yang di versi single dibawakan Josh Groban dan end title song baru ‘How Does a Moment Last Forever’ lewat penghormatan bagi Celine Dion, juga crossover kekinian ke rendisi baru theme song versi single-nya yang dibawakan Ariana Grande & John Legend.

Baru saja rasanya kita dibuat terpukau oleh ‘La La Land’ yang membawa nafas universal sebuah musikal ke layar lebar, ‘Beauty and the Beast’ semakin memperkuat genre ini. Semua pendukungnya digagas secara proporsional buat menokohkan peran dan musikalitas penceritaannya, dan lagi; sebuah musikal layar lebar bukanlah teater yang sepenuhnya berpegang terhadap kekuatan vokal pendukungnya. Justru di situ, kombinasi dan kolaborasinya jadi berwarna dengan persona tiap pendukungnya; dari mezzo-soprano diva Audra McDonald ke sekedar extras, dan mentransformasi Jerry Orbach ke Ewan McGregor serta Angela Lansbury ke Emma Thompson, jelas sesuatu yang luar biasa cerdas.

Emma Watson berhasil menjadi Belle yang begitu menyatu dengan gambaran animasinya, sementara Dan Stevens yang hampir seluruhnya menampilkan performanya di balik make up Beast bisa memberikan penekanan karakter yang lebih detil terhadap sosok itu secara berbeda dari versi animasinya. Chemistry keduanya juga membuat proses-proses love relationship itu berjalan jauh lebih humanis dalam konteks live action.

Tapi highlight tak kalah menarik justru datang dari ensembel pendukungnya, plus Luke Evans dan Josh Gad di balik isu yang muncul menjelang rilisnya. Tak ada rasanya yang bisa menghidupkan Gaston sebaik Evans, sementara Josh Gad memberikan sparks bak si Emon terhadap si Boy dalam referensi kita, mengisi porsi humornya dengan pas. Lihat bagaimana end credits-nya bergulir bahkan lebih kuat dari patokan-patokan homage biasanya. Diiringi suara Celine Dion melagukan ‘How Does a Moment Last Forever’ yang sangat melodius, tampilan tiap cast-nya ke Emma Thompson sebagai pamungkas yang begitu elegan; seolah menjadi encore sempurna dalam sebuah pertunjukan musik atau musikal.

Jadi rasanya kita sudah mendapatkan jawaban mengapa dalam seketika ‘Beauty and the Beast’ menjadi record-breaker di mana-mana. Melebihi estimasi BO domestik dan internasionalnya, bioskop-bioskop kita pun sibuk menambah extra show-nya dari pagi hingga tengah malam, dengan buzz yang jelas bakal jadi semakin besar lagi. Melebihi segala konsep visual, musikal serta ensemble acts yang menyatu di balik kemegahan yang padu – membawa kembali semua pemirsanya merasakan keajaiban animasinya dulu dan bagi pemirsa kini – sebuah pengalaman sinematis paripurna, di dasar terdalamnya, ia adalah sebuah dongeng tak lekang ditelan zaman dengan subteks teramat kaya; that love changes everything. And the Disney’s versions, from animated to live action, is truly a tale as old as time. Now perfectly reinventing the magic, they made it as true as it can be for the tale to live on. For evermore. (dan)

danieldokter

danieldokter

Daniel Irawan adalah pemilik situs ini.
danieldokter