Home » Dan at The Movies » NOSTALGIE LA INDONESIANA: A LOOK BACK TO THE OLD INDONESIAN CLASSICS

NOSTALGIE LA INDONESIANA: A LOOK BACK TO THE OLD INDONESIAN CLASSICS

Aku Cinta, Kamu Cinta, Semua Cinta… ,oh,  if anyone who experienced that era ever remembered the kroncong tunes from the TVRI’s Saturday night old slot for the program called Apresiasi Film Indonesia. Ada Sandy Tyas sebagai presenter acara ini di tengah deretan kursi bioskop dengan layar tempo doeloe yang terbuka perlahan – selalu membawa ingatan ke memori bioskop jadul kita. Di acara itu, kita bisa melihat trailer, behind the scene dan wawancara tokoh-tokoh perfilman yang ada. Trust me, industri film kita pernah jadi apa yg disebut ‘Tuan Rumah Di Negeri Sendiri’ dengan daftar perolehan penonton yang selalu muncul tiap minggu di majalah Vista, lantas pindah ke majalah Film, kemudian hilang sebelum akhirnya tergantikan oleh publikasi sosial media. Terus, ada pula kategori pemberian piala di FFI untuk film terlaris, yg biasanya selalu dimenangkan film-film Warkop itu. Waktu akhirnya film Indonesia terpuruk setelah banjir film-film seks murahan yang tak jelas juntrungannya, mungkin hampir semua orang merasa hopeless untuk bisa menyaksikan film Indonesia yang bagus lagi. Well, now, history has proven it wrong, karena meski masih banyak karya-karya aji mumpung yang tak layak bersanding dengan yang baik, di tahun lalu perolehan box office-nya kembali membaik dengan prestasi yang bahkan sudah kembali sampai ke dunia internasional – terlepas dari baik atau tidak kontennya. Mari melihat balik ke pencapaian-pencapaian terbaik itu di momen Hari Film Nasional tahun ini. Beruntung sekarang sebagian di antaranya bisa disaksikan di versi digitalisasi dan restorasi dari usaha bagus tim Flik TV. Here’s the list of what I remembered, the most memorable, iconic, phenomenal and yet-some of the best old Indonesian movies ever made. Selamat Hari Film Nasional 2017, #BanggaFilmIndonesia !

1. OPERA JAKARTA


Saduran dari novel Arswendo Atmowiloto yang waktu itu masih memakai nama Titi Nginung dengan cover puncak Monas ber-background hijau. Believe it or not, belum pernah ada penonton awam (di luar kalangan yang sempat menyaksikan preview-nya, mungkin) yang merasakan versi lengkap film yang sebenarnya berdurasi tiga jam lebih ini. Versi video bajakan, bioskop, sampai yang diputar di teve-teve swasta dan event pemutaran film lokal bahkan tak pernah muncul dengan editing yang sama. Mudah-mudahan suatu saat nanti VCD/DVD nya bisa beredar tanpa potongan. However, karya Syumandjaja yang terkenal blak-blakan dan cenderung vulgar tanpa canggung ini bisa menghadirkan semua isu sosial dan romansa novelnya yang bergaya satire. All star-ensemble – mungkin dengan deretan well known actor terbanyak yang tampil dalam satu film dengan Ray Sahetapy, Deddy Mizwar, Zoraya Perucha dan Rano Karno di momen puncak mereka, plus adegan penyanderaan di gereja, it was really damn cool.

2. GITA CINTA DARI SMA & PUSPA INDAH TAMAN HATI


Mungkin jarang sekali ada film yang bisa muncul dengan pencapaian sefenomenal ini meskipun tak bisa bicara banyak di FFI pada zamannya. Ini adalah film remaja Indonesia paling memorable, dari chemistry abadi Rano Karno-Yessy Gusman bersama semua pendukungnya yang kemudian menjadi bintang di trend film remaja yang hadir sesudahnya, nama karakter Galih & Ratna sampai ke musik yang mengangkat nama Chrisye dan Guruh Sukarno Putra dengan lagu-lagu mereka yang sampai sekarang menjadi karya klasik dalam sejarah musik kita. Dwilogi ini juga mencatat satu-satunya film Indonesia dalam sejarah sebagai re-release resmi yang diputar back-to-back di bioskop beberapa tahun setelah peredaran awalnya dengan judul Gita Cinta-Puspa Indah. Beruntung remake-nya yang dihadirkan sutradara Lucky Kuswandi dengan pasangan Refal Hady – Sheryl Sheinafia sebagai Galih dan Ratna baru bisa kembali membawa nostalgia sebagai estafet cemerlang untuk terus diingat generasi sekarang.

3. TAKSI


Mengikuti trend penonton zaman dulu yang tak pernah mau disuguhi film-film filosofis, kita takkan pernah tahu mengapa ‘Taksi’ bisa dibanjiri penonton sampai rela antri berjam-jam di depan loket menjelang akhir masa jaya film Indonesia. Jawabannya mungkin ada di nama besar Rano Karno-Meriam Bellina plus sutradara Arifin C.Noer serta animo penonton kala itu. Sekuelnya yang mengikuti trend sekuel ber-subjudul ‘too’ pada waktu itu, Taksi Juga, sayangnya, punya kualitas jauh dibawah pendahulunya yang fenomenal ini.

4. ARINI, MASIH ADA KERETA YANG AKAN LEWAT


Another Rano Karno-esque, matched with Widyawati yang jauh lebih senior tapi juga salah satu harta karun film Indonesia yang masih aktif hingga sekarang. Sineas-sineas sekarang yang mencoba menghadirkan setting luar negeri sebagai elemen utama film harusnya berkaca ke film karya Wim Umboh ini, bagaimana setting San Francisco keliatan begitu hidup sebagai background yang memberi nuansa romantis lengkap dengan theme song ‘I Left My Heart In San Francisco’nya. Salah satu saduran novel terbaik Indonesia yang pernah ada. Sayang, seperti Taksi, sekuelnya tak mampu bicara secantik ini, dan pemilihan Ida Iasha di sekuelnya, sama sekali tak punya kekuatan yang sama.

5. KEJARLAH DAKU, KAU KUTANGKAP


Jauh sebelum trend urban-comedy sekarang menjamur lewat Arisan dan Janji Joni, film karya Chaerul Umam inilah yang dulu pantas dikategorikan kesana, namun kala itu memicu trend yang kala itu disebut  sebagai komedi situasi oleh banyak media kita. Kisah cinta berbalut konflik wajar yang mengalir jujur, lengkap dengan suka-dukanya yang sangat-sangat membumi. Terkadang kampungan, tapi sekaligus romantis, lucu dan menyentuh. Duo Deddy Mizwar-Lydia Kandou bermain dengan chemistry luar biasa, namun justru nama Ikranegara dengan karakter Markum-nya yang begitu terangkat sampai muncul dengan film spin-off nya sendiri.

6. TJOET NJA’ DHIEN


Biografi pahlawan terbaik yang pernah dibuat di Indonesia. Tak sia-sia rasanya kerja keras seorang Eros Djarot yang sebelumnya berada dibalik nama besar saudaranya, Slamet Rahardjo dalam menampilkan setting, dialog-dialog bahasa Aceh asli yang dibubuhi teks sampai penggambaran patriotisme seorang pahlawan wanita Indonesia. Diatas itu semua, akting Christine Hakim-lah yang paling berjasa menghidupkan karakter ini.

7. PASUKAN BERANI MATI


If ever any of you thought film ini hanyalah sebuah film actionnya Barry Prima dari banyaknya VCD-VCD Barry Prima collection yang masih beredar sampai sekarang, mungkin boleh menanyakan ke orang-orang yang pernah menonton theatrical version-nya dulu – karena durasi VCD-nya tak selengkap versi aslinya. Untuk kelas film perang masa itu, tekniknya bagus, realistis, dan tak ada stunt atau aktor yang terlihat pura-pura jatuh tertembak atau melayang terkena ledakan bom dengan teriakan panjang yang dibuat-buat. Dan ini bukan hanya filmnya Barry. Ada ensembel cast jitu dari Roy Marten, El Manik, WD Mochtar sampai Eva Arnaz dengan karakter-karakter yang membawa pesan multietnis sejarah perjuangan kemerdekaan kita dibalik dar-der-dor nya. Seperti Dirty Dozen atau versi perang dari The Magnificent Seven, Pasukan Berani Mati punya semua elemen yang dibutuhkan sebuah film perang berkelas tanpa harus terpaku pada sejarah asli. Peredaran internasionalnya menggunakan judul Hell Raiders.

8. SECAWAN ANGGUR KEBIMBANGAN


Lagi-lagi Wim Umboh, dan lagi-lagi menggunakan setting luarnegeri, kali ini Paris, sebagai background yang sangat mendukung cerita. Kurang terdengar gaungnya saat diputar, namun chemistry Ray Sahetapy-Zoraya Perucha bersama aktor bule Didier Hamel dan Paramitha Rusady berhasil menciptakan lovestory menyentuh lengkap dengan aspek-aspek benturan kultur yang kuat – bukan hanya tempelan – sebagai pembangun konfliknya.

9. NAGABONAR


Inilah film yang sempat dikirim buat berkompetisi di penyisihan awal Oscar 1987. Meski gagal, Nagabonar yang menang di FFI 1987 merupakan salah satu film Indonesia terbaik, jadi ikon begitu besar di Indonesia dan belakangan di re-release lagi dengan remastering baru menjelang perilisan long-awaited sekuelnya. Classic, dan jauh dari sekuelnya yang lebih menonjolkan dakwah relijius ketimbang semangat nasionalisme yang harusnya muncul lebih di depan.

10. DONGKRAK ANTIK


Siapa bilang Warkop hanya bisa bermain di komedi nyeleneh yang porno-porno? Dari kebanyakan film-film mereka yang menjual kekonyolan jorok-jorok itu, film inilah yang sedikit beda, namun tak lantas jadi basi. Hasilnya malah jauh lebih lucu dari yang lain, sebagai film mereka yang kelucuannya paling intens dan paling smart. Ada banyak joke-joke yang begitu memorable disini, sampai banyak diulang di film atau media komedi lain. Tampilan Mat Solar sebagai sidekick dan selipan bulan-bulanan semakin menambah kelucuannya.

11. JAKA SEMBUNG


Film legenda silat Indonesia box-office yang melambungkan nama Barry Prima dan Eva Arnaz ke puncak karir mereka. Saduran komik yang bagus dari cerita sampai adegan-adegan aksi serta efek spesialnya, terutama, yang cukup populer untuk ukuran zaman itu, kepala WD Mochtar yang terputus dan jatuh ke tanah namun masih bergerak dan bicara sebagai penggambaran ilmu kebal bernama ‘Rawe Rontek’.  Sayang, sekuel-sekuel selanjutnya kelewat jelek dan terkesan murahan. Ini salah satu bukti kepopuleran Barry Prima sebagai bintang aksi terbaik yang pernah dimiliki industri perfilman kita hingga dikenal ke dunia film cult internasional lewat film-filmnya yang beredar di luar negeri. DVD internasionalnya dengan judul The Warrior muncul dengan treatment cukup terhormat meski peredarannya segmental di kelas cult movies.

12. CATATAN SI BOY


Tidak terbaik tapi cukup memorable dalam sejarah film nasional serta menciptakan sosok ideal pria idaman di masa itu. Kaya, jagoan, pintar, playboy tapi tetap taat beribadah. Tak seperti Lupus yang kehilangan sama sekali nuansa novelnya, sosok Onky Alexander benar-benar muncul seperti jiwa slot radionya sebagai idola baru berikut peran banci Emon yang diperankan salah satu maestro film Indonesia, alm. Didi Petet, di awal-awal karirnya hingga dibuatkan spin-off nya yang hancur tanpa campur tangan Didi. Film pertamanya yang sempat diganti judul menjadi Kugadaikan Cintaku (sesuai lagu Gombloh yang menjadi soundtrack) karena karakter Si Boy kurang dikenal di daerah cukup meyakinkan sebagai awal yang bagus sekaligus semakin mengangkat nama rocker Ikang Fawzi yang menyanyikan theme song dengan lirik yang tak kalah memorable itu. Sekuel kedua mengalami penurunan, namun film ketiganya benar-benar menghibur membuat franchise ini diteruskan hingga akhirnya berakhir di Catatan Si Boy 5 yang juga kadar hiburannya tinggi. Remake-nya yang lebih berupa homage/tribute dari Putrama Tuta juga bagus walau tak berlanjut.

13. DOEA TANDA MATA


Sebuah bukti kepiawaian Teguh Karya dalam sejarah film Indonesia. Akting Yenny Rachman terbaik sepanjang karirnya bisa disaksikan disini, sekaligus mencatat penampilan pertama bintang yang benar-benar berkualitas aktor, Alex Komang, yang waktu itu muncul di dua film berkelas Citra di tahun yang sama, serta memenangkan satu diantara dua kategori itu. Posternya juga jadi salah satu poster film Indonesia paling klasik yang pernah dibuat.

14. CINTAKU DI RUMAH SUSUN


Komedi Nya’Abbas Akup yang mengangkat fenomena Rumah Susun yang ngetop di zaman itu dengan ensembel cast komedian-komedian Srimulat plus Deddy Mizwar. Kelucuan yang dibangun lewat skenario dengan multi-karakter ini mengangkat nama duo Kadir-Doyok yang sempat punya franchise film-film komedi pasca film ini.

15. SEMUA KARENA GINAH


Dari Nya’ Abbas Akup lagi. Sineas yang mampu membuat aktor-aktris non-komedi tampil begitu lucu dan natural berinteraksi dengan komedian-komedian pendukung di setiap film-filmnya menjadi sebuah comedic ensemble yang kuat, merakyat dan penuh kritik sosial. Meski sekilas terlihat kampungan, tapi yang mengkonsumsinya justru lebih banyak dari kalangan kelas atas, dan Zoraya Perucha mampu menghadirkan kharisma yang pernah diusung Doris Callebaut dalam franchise Inem Pelayan Sexy dulu.

16. PENGABDI SETAN


Nanti dulu kalau mau bicara tentang tudingan banyak orang tentang tema horor yang cenderung jatuh jadi film sampah. Horor zaman dulu kebanyakan tak begitu meskipun pakem endingnya rata-rata serupa, pak haji yang ramai-ramai datang dengan orang sekampung membawa obor. Film ini adalah old Indonesian horror terseram yang pernah ada, dan meski terasa ridiculous karena efeknya yang ketinggalan zaman bila disaksikan sekarang, masih cukup menakutkan. Juga beredar di kalangan cult movies luar negeri dengan judul Satan’s Slave. Remake-nya dari Joko Anwar akan hadir tahun depan.

17. PENGKHIANATAN G-30S PKI


Film yang sempat menghiasi televisi tiap 30 September selama bertahun-tahun dan jadi tontonan wajib seluruh pelajar di Indonesia ini memang katanya memanipulasi sejarah, namun bukan itu yang membuatnya jadi yang terbaik. Di luar segala macam rekayasa brainwash itu, coba perhatikan cara Arifin C.Noer membesut adegan-adegan detail tentang penyiksaan, penderitaan rakyat, rapat bawah tanah, close-up wajah-wajah bopeng sampai kaki-kaki prajurit yang melompat turun dari truk yang membuat bulu kuduk bergidik itu, lengkap dengan musik mengerikan yang di-composed Embie C.Noer. Ada banyak adegan dan dialog memorable disini, dari yang ditakuti sampai yang kerap dijadikan joke hingga sekarang. “Darah itu merah, Jendral!”

18. GEJOLAK KAWULA MUDA


Demam breakdance atau ‘Tari Kejang’ juga pernah melanda Indonesia, dan inilah salah satu yang terbaik dari trend itu. Overly cliche tapi sangat menghibur dengan judulnya yang sangat happening di era itu, dan bersama ensemble castnya benar-benar jadi sebuah penanda zaman dalam sejarah film kita. Ada Chicha-Rico Tampatty-Titi DJ dan Ikang Fawzi.

19. KOBOI SUTRA UNGU


For ones who never heard, dulu ada kelompok mahasiswa seangkatan Warkop yang sama bersinarnya, malah sampai punya beberapa album parodi model Project Pop sekarang, namun dibalut irama orkes rakyat yang cenderung ke dangdut, sebutannya Orkes Moral. Sekilas seperti banyolan, tapi penuh skill, hingga beberapa anggotanya yang masih eksis di musik sampai sekarang, di genre jazz pula. Grup mereka bernama PSP, singkatan dari Pancaran Sinar Petromak dengan maskotnya, Monos yang botak berkumis tebal serta James yang geeky a la Napoleon Dynamite. Judul Koboi Sutra Ungu sendiri diplesetkan dari film film drama Kabut Sutra Ungu. Disini Nya’Abbas Akup memindahkan kritik sosialnya ke set yang memparodikan banyak gaya film western terkenal masa itu dari Django sampai The Man With No Name-nya Eastwood, menampilkan Meriam Bellina yang baru memulai debutnya serta Titik Puspa yang legendaris, and turns out to be one of the most entertaining Indonesian comedy and the smartest Indo-parody ever. Lihat adegan joget kutu-nya. Ultimately funny!

20. NAKALNYA ANAK-ANAK & BUAH HATI MAMA


Selagi Nakalnya Anak-Anak merupakan film anak-anak penuh gegap gempita hibiuran musikal paling memorable dengan ensemble cast yang menggabungkan Ryan Hidayat, Ira Maya Sopha, Dina Mariana, Ria Irawan dan Kiki Sandra namun sebenarnya habis-habisan mencontek The Sound Of Music, film anak-anak bernuansa melankolis Buah Hati Mama punya nuansa yang bertolak-belakang. Salah satu film yang juga menampilkan duet abadi Sophan Sophiaan dan Widyawati ini sadly touching, and this is one movie you should see if you wanted to watch remarkable-charming acting of the late Ryan Hidayat in his child age.

21. GUNDALA PUTRA PETIR


Walau segelintir, Indonesia juga punya film superhero dari referensi komik superhero asli Indonesia yang dulu sempat menjamur dan sekarang sudah dicetak ulang dalam bentuk lebih lux itu. Biarpun diinspirasi The Flash, superhero rekaan Hasmi ini mampu tampil dengan segala ke-Indonesia-annya sendiri. That makes him better than Darna Ajaib yang ternyata asli punya Filipina bukan Indonesia itu. Dan adaptasi ini bagus karena setia pada komik aslinya. Efek spesialnya? Rasanya sudah cukup baik untuk ukuran film kita di zamannya.

22. DETIK-DETIK CINTA MENYENTUH


Ini adalah momen bollywood dalam sejarah layar perak Indonesia. Cerita dari orangtua yang tercerai-berai, si anak lahir, kecil sampai besar, dalam masa putar nyaris tiga jam. Salah satu akting terbaik Rano Karno bisa dilihat di film ini, seorang anak pintar namun cacat yang mengabdikan dirinya buat jadi guru dan bersepeda kemana-mana. Peran ibu dipegang Tanty Yosepha yang waktu itu sudah cukup lama absen, berpasangan dengan Robby Sugara. Menyentuh sekaligus penuh pesan mendidik, but in a very good way.

23. ALI TOPAN ANAK JALANAN


Bicara soal ikon, jauh sebelum Lupus, Si Boy, Si Roy, atau yang lain, Indonesia sempat punya ikon anak muda di tahun 70an. Dan dia bukan Roy Marten yang juga ikut tampil di sekuelnya, tapi justru seorang Junaedi Salat yang baru saja memulai karirnya di film. Tak heran, faktor Yati Octavia yang terkenal karena keseksiannya itu jadi begitu penting disini. Jauh belasan tahun kemudian, perfilman Malaysia punya film box office berjudul Ali Setan. Dan soundtracknya yang memorable lagi-lagi dibawakan oleh alm. Chrisye.

24. BADAI PASTI BERLALU


Ini film yang besar karena kelarisan novelnya, soundtracknya yang dibesut Eros Djarot bersama Chrisye, dan tentu saja, Christine Hakim, Roy Marten dan Slamet Rahardjo yang waktu itu terus-terusan jadi pasangan di banyak film muncul dgn chemistry yang sangat kuat. Akhir 90an sinetronnya juga sempat booming dengan Ari Wibowo yang jadi dokter muda berambut gondrong bersama Dian Nitami, dan remake layar lebarnya kembali dibuat dengan pasangan Vino Bastian & Raihaanun namun sedikit salah kaprah dalam elemen medis dan tetap tak bisa menyaingi kebesaran film aslinya.

25. ATENG RAJA PENYAMUN & ALADIN DAN LAMPU WASIAT


Dua film yang sangat berhasil dalam re-telling karakter paling terkenal dari dongeng 1001 malam, masing-masing Ali Baba dan Aladin. Dalam Ateng Raja Penyamun, versi duo pelawak legendaris ini bisa menyamai kelucuan versi P.Ramlee dengan banyak lawakan yang inovatif, dan Aladin-nya Rano Karno-Lydia Kandou bisa fenomenal karena belum ada film seperti ini waktu itu. Seru, penuh efek spesial yang lumayan bagus untuk ukuran dulu serta berhasil mengangkat semua elemen yang harus ada di dongeng itu dengan baik. Penarik lain? Ada maestro tari yang jauh-jauh diimpor dari Bollywood, Helen.

26. SATU MAWAR TIGA DURI

Di tahun 1986-1989, saat komedi situasi, begitu sebutannya masa itu -mengacu pada sitcom luar yang rata-rata melawak tanpa dibintangi pelawak- sedang menjadi trend, ada satu film underrated yang terlewatkan banyak orang. Satu Mawar Tiga Duri adalah salah satu yang membangun komedinya dari plot saduran drama panggung luar yang dari sananya sudah lucu dan cerdas tanpa memerlukan akting slapstick lagi dari aktor-aktornya yang berkualitas senior.Deddy Mizwar-Ita Mustafa berkolaborasi dengan 3 aktor senior Indonesia sebagai paman-pamannya yang nyentrik : WD Mochtar, Rachmat Hidayat dan Pandji Anom.

27. MUSANG BERJANGGUT


Lagi sebuah ensemble cast komedi tentang legenda Melayu Deli kuno terkenal versi adaptasi komikus Taguan Hardjo asal Sumatera Utara. Dari bintang sampai pelawak-pelawak terkenal, Soekarno M. Noor, Roy Marten, Rini S.Bono, Ateng-Iskak dan Benyamin S., kolaborasi legendaris ini sayangnya tak banyak diingat karena peredarannya yang terbatas. VCD-nya beredar beberapa tahun belakangan dengan judul ‘Tergoda’, mungkin untuk menghindari tuntutan copyright. WTF.

28. SAUR SEPUH


Silat Indonesia dalam salah satu pencapaian momen terbaiknya. Mengadaptasi sandiwara radio yang sudah menjadi hype begitu besar, efek spesial serta koreografi aksi dengan teknik sling cukup rapi pun sukses digelar sutradara Imam Tantowi sekaligus melejitkan karakter Mantili yang diperankan langsung oleh pengisi suara sandiwara radionya yang legendaris, Elly Ermawatie. Sekuel-sekuelnya juga masih mampu tampil dengan kekuatan yang sama.

29. NOVEMBER 1828


Film terbaik 1979 besutan Teguh Karya yang menyorot perjuangan kemerdekaan di era Pangeran Diponegoro ini menjadi sebuah drama berlatar belakang perang yang sangat humanis tanpa harus menggunakan pakem biasanya, namun tetap setia menggunakan sejarah asli sebagai latarnya. Penuh kritik sosial dan over the top acting khususnya dari Slamet Rahardjo yang begitu masuk memerankan seorang perwira Belanda dengan makeup yang sama dahsyatnya. Salah satu produksi terbaik di balik proses pembuatan yang penuh masalah dari salah satu rumah produksi paling fenomenal dalam sejarah film kita, Garuda Film dengan produser Hendrick Gozali.

30. SI DOEL ANAK BETAWI


Adaptasi dari literatur wajib sastra Indonesia karya Aman Datuk Madjoindo tentang budaya Betawi dan kritik sosial terhadapnya yang disampaikan penuh pesan dibalik banyolan-banyolannya. Selain jadi salah satu film terbaik Benyamin S. yang kemudian memerankan Doel dewasa di sekuelnya dan ayah si Doel di sinetron yang kembali dibawakan Rano Karno, karakter si Doel juga jadi bagian historis perfilman kita yang tetap hidup sampai sekarang. Semoga niat Rano untuk melanjutkannya ke layar lebar seperti halnya Catatan Si Boy bisa benar-benar terwujud kembali.

31. KERETA API TERAKHIR


Satu lagi film perang Indonesia yang punya kelengkapan fakta sejarah dibarengi kisah fiktifnya dengan seimbang, aksi yang intens, dramaturgi yang baik serta bukti terhadap bakat akting seorang Bangun Sugito aka Gito Rollies dalam penampilan terbaiknya.

32. ROMI DAN JULI


Mencari chemistry filmis sekaligus nyata seperti pasangan abadi Sophan Sophiaan dan Widyawati memang sulit, namun sudut pandang perfilman Indonesia terhadap kisah cinta Romeo dan Juliet yang berkali-kali diangkat ke layar lebar dengan titel Pengantin Remaja itu belum pernah bisa menggantikan gebrakan awalnya sebaik ini, sekaligus jadi cikal-bakal duet memorable Rano Karno-Yessy Gusman di usia remaja mereka bertahun-tahun kemudian.

danieldokter

danieldokter

Daniel Irawan adalah pemilik situs ini.
danieldokter