Home » Dan at The Movies » DEAR NATHAN (2017)

DEAR NATHAN (2017)

DEAR NATHAN: A DEEPER TAKE ON THE GENRE’S COMMON ARCHETYPES

Sutradara: Indra Gunawan

Produksi:  Rapi Films, 2017

dear nathan

Sekali waktu pernah jadi tolok ukur perfilman kita di akhir ’70 ke awal ‘80an, film remaja kita sekarang – walau sesekali mencetak kesuksesan luar biasa dan semakin jadi standar genre-nya lewat serangkaian produksi Screenplay Productions, kenyataannya lebih sering mendapat cemoohan dari kalangan penonton lebih pintar dalam tanda kutip. Dianggap produk alay yang segmented dan kelewat jauh untuk mengejar ‘Ada Apa Dengan Cinta?’ sebagai ground-breaking achievement-nya, mishmash-nya di genre lain pun sama; misalnya lewat film-film Nayato yang mengkombinasikannya dengan horor, thriller atau action. Sementara sebagian yang lebih dikenal dari Soraya seperti ‘Eiffel I’m in Love’ dianggap tak jauh beda dari arus Screenplay sekarang – sebagai film remaja yang sekedar hepi-hepi saja. Satu lagi benang merah lain ada di source, yang kebanyakan memang merupakan adaptasi dari novel yang penjualannya baik – dan itu ada di standar beda lagi berdasar minat konsumennya.

Dari sisi itu, ‘Dear Nathan’ pun tak jauh berbeda. Diangkat dari novel best seller karya Erisca Febriani, plotnya juga tak jauh-jauh dari stereotip produk lain di genre-nya. Sebut semua konvensi genre itu – coming of age, attempts to fit in, pencarian jatidiri, teen rebellions, peer pressure, konflik dengan orangtua dan pastinya first love, sebagai sebuah teen drama yang menjual love story ke permukaan teratasnya, ‘Dear Nathan’ punya semua. Di luar animo segmentasi penontonnya – yang mengantarkan perolehan box office yang tergolong bagus dan kali ini ternyata cukup sejalan dengan resepsi kritikus, mungkin adalah pendekatan pembuatnya, dan tentu – satu yang berada sebagai hal terkuat di balik hype-nya, performa dari on-screen couple-nya; Jefri Nichol dan Amanda Rawles.

Terlambat mengikuti upacara pertama di sekolah barunya, Salma (Amanda Rawles) berkenalan dengan Nathan (Jefri Nichol) yang menyelamatkannya dari hukuman. Perkenalan itu kemudian mulai berkembang di balik kepribadian Salma yang bertolak belakang dengan Nathan. Berbeda dengannya, Nathan adalah murid berandalan dengan segudang masalah – baik di sekolah maupun kehidupan pribadinya dengan sebuah trauma masa lalu yang selama ini disimpannya rapat-rapat. Di situ, hubungan keduanya mulai diuji.

Baru punya satu kredit yang cukup kredibel lewat ‘Hijrah Cinta’ setelah berkarir sebagai second unit director di film-film Hanung Bramantyo, sutradara Indra Gunawan ternyata bisa mengarahkan ‘Dear Nathan’ dengan standar beda dengan film-film lain di genre-nya. Namun kekuatan itu juga sangat bergantung dari skrip yang ditulis oleh Bagus Bramanti bersama Gea Rexy dan penulis novelnya, Erisca Febriani. Tak sekedar memindahkan source-nya sebagai adaptasi, skrip itu menyelami semua elemennya secara lebih mendalam ketimbang hanya sekedar motivasi. Di sini, common archetypes karakter-karakter utamanya sebagai remaja yang berada di ambang motivasi labil dan pendewasaan itu tergarap dengan detil lebih; tapi tetap tak melupakan cute sparks yang tetap sangat diperlukan bagi segmentasi pemirsanya; terutama lewat dialog yang sesuai pangsa mereka tapi tak harus juga terdengar alay, kampungan atau apapun sebutannya. Tanpa pula harus menjual setting luar negeri yang panoramik, tapi membumi di tiap titik set lokalnya.

Cute teen sparks inilah yang lantas begitu berhasil dibawakan lewat performa Jefri Nichol sebagai titular character-nya. Sebagai salah satu aktor muda potensial dalam regenerasi aktor kita yang kemarin juga tampil menonjol menguatkan banyak sisi lemah filmnya sendiri di ‘Pertaruhan’, Jefri menokohkan sosok Nathan dengan persona yang pas. Tak hanya di satu sisi ia bisa tampil liar, berandalan tanpa harus over di atas standar-standar akting sinetron/FTV, juga bisa kuat kala karakternya dibawa menyelam mengeksplorasi sisi emosional yang dalam skrip itu tersampaikan lewat latar motivasi cukup detil, sebagai lead dalam genre-nya, ia juga punya potensi fisik untuk membuat pemirsa lawan jenis dalam segmentasinya bereaksi seperti yang diharapkan film-film sejenis di genre itu.

Performa yang sama baiknya juga datang dari Amanda Rawles sebagai lawan mainnya. Muncul menarik perhatian lewat ‘ILY from 38.000 ft.’, mostly through her physical performance – namun tak cukup kuat mengeksplorasi aktingnya kala diserahi porsi utama dalam ‘Promise’, juga dari Screenplay, di sini Amanda naik kelas, mengimbangi Jefri dalam love sparks yang manis dan yang terpenting, sangat believable dalam tahap demi tahap bentukan chemistry mereka. Berdua, mereka menciptakan kharisma on-screen couple yang kuat dan bukan tak mungkin akan dipasangkan lagi nantinya.

Masih ada dukungan cukup kuat dari aktor-aktor senior seperti Surya Saputra, Ayu Dyah Pasha dan aktris populer dalam momen singkatnya di era ‘80an – Karina Suwandi, still charm as ever, berikut sejumlah young talents yang bisa tampil cukup menonjol lewat peran-peran singkat mereka. Selagi sisi teknisnya cukup baik tapi tak terlalu remarkable, ada scoring yang bagus dari Andhika Triyadi.

Namun secara keseluruhan, ‘Dear Nathan’ memang ada di kelas yang berbeda dengan film-film sejenis di genre-nya. Tak lantas mengarahkan stereotipnya ke konflik-konflik klise soal terminal disease, keseimbangan ke pesona teen love story bagi segmentasi pemirsanya dan common archetypes genre-nya bisa diimbangi dengan kedalaman karakterisasi dan motivasi jelas yang juga tertata dengan baik dalam skrip Bagus dkk. Penyutradaraan dan pace storytelling Indra yang belum sepenuhnya konsisten pun mampu tertutupi dengan eskalasi emosi yang bagus di pengujungnya; membawa kita ke sebuah penyelesaian menyentuh soal love lost and found dan diakhiri dengan manis di atas basic penulisan film yang sama baiknya tanpa mesti terasa klise; ending sets yang bergerak kembali ke titik awalnya. Membuat semua konfliknya tak terasa hanya sekedar tempelan di atas penggarapan keseluruhan yang membuat pemirsa di luar segmentasinya menyadari bahwa genre ini masih punya potensi lebih di atas niat-niat menyuguhkan tontonan yang lebih baik. Tanpa harus pula dibanding-bandingkan dengan ‘Galih dan Ratna‘ yang meski berada di subjek serupa tapi pendekatannya jauh lebih hip serta dewasa. ‘Dear Nathan‘ tak lari jauh dari segmennya, tapi jelas – bukan sekedar menjual hura-hura belaka. A deeper take on the genre’s common archetype, ‘Dear Nathan’ really deserves all the hype. (dan)

 

danieldokter

danieldokter

Daniel Irawan adalah pemilik situs ini.
danieldokter

Latest posts by danieldokter (see all)

  • Muhammad Habibie Ibnu Halim

    Biasanya gak suka sama film-film genre cinta remaja gitu, tapi Dear Nathan ini memang bagus. Meskipun pasarnya buat remaja, tapi garapannya baik buat penonton umum. Film langka nih

    Ulasan kami untuk Dear Nathan 🙂 https://ulasanfilm21.com/dear-nathan-2017/