Home » Dan at The Movies » GHOST IN THE SHELL (2017)

GHOST IN THE SHELL (2017)

GHOST IN THE SHELL: VISUALS AND SCAR JO OVER SUBSTANCE

Sutradara: Rupert Sanders

Produksi: Paramount Pictures, DreamWorks, Reliance, Amblin Partners, 2017

ghost in the shell

Penggemar manga pasti sudah kenal ‘Ghost in the Shell’ karya Masamune Shirow yang juga sudah diangkat ke layar lebar lewat versi animasi di tahun 1995 oleh Mamuro Oshii. Bagi banyak fans-nya, ‘Ghost in the Shell’ adalah sebuah karya monumental karena dianggap bukan hanya sekedar scifi fantasy, manga itu juga berbicara secara mendalam soal isu-isu lain dari sosiologi, teknologi hingga identitas.

Remake Hollywood-nya, terlebih di saat sekarang – jelas mengundang banyak kontroversi atas isu-isu whitewashing yang tengah banyak disorot. Walau digagas di atas alasan dan relevansi yang tak bisa disalahkan, juga dengan izin resmi dari pemegang hak source aslinya – plus tentu nama Steven Spielberg sebagai salah satu penggagasnya, cukup banyak – apalagi di antara fanbase dari karya sefenomenal ini, yang skeptis dan tak menerima karakter aslinya kini beralih menjadi kulit putih yang diperankan oleh aktris Scarlett Johansson. Toh versi Hollywood ini tetap memasukkan unsur Jepang ke dalamnya, juga mengajak aktor veteran Jepang Takeshi Kitano, aktris senior Kaori Momoi dan beberapa aktor Asia lain ke dalamnya, termasuk aktor asal Singapura Chin Han.

Garis plot-nya pun masih berada di wilayah yang tak jauh berbeda. The Major (Scarlett Johansson), android hasil rekayasa ilmuwan Dr. Ouelet (Juliette Binoche) dari sebuah program anti-cyberterrorism Hanka Robotics yang dikepalai Cutter (Peter Ferdinando) bertugas di Section 9 bersama partnernya, Batou (Pilou Asbæk dari ‘Game of Thrones’) di bawah pimpinan Chief Daisuke (Takeshi Kitano). Menangani misi mengungkap sabotase misterius terhadap korporasinya, lama-kelamaan Major mulai menyadari rahasia di balik rekayasa teknologi itu, membawanya ke sebuah pencarian identitas akan asal-usul yang selama ini disimpan rapat-rapat darinya.

Skrip Jamie Moss (‘Street Kings’), William Wheeler  (‘Disney’s Queen of Katwe‘) dan Ehren Kruger, penulis sekuel-sekuel ‘Transformers’ bersama penyutradaraan Rupert Sanders (‘Snow White & the Huntsman’) memang tak pernah mencoba menyelam terlalu dalam mendeskripsikan semua elemen filosofis dalam sumber aslinya. Membaur bersama sinematografi Jess Hall yang terakhir membesut ‘Transcendence’, juga scoring bagus yang mengkolaborasikan komposer Clint Mansell dan Lorne Balfe, mereka lebih memilih menampilkan pameran teknologi sinematis lewat set dan visual dari desain produksi Jan Roelfs (‘Gattaca‘ & ‘47 Ronin‘) yang memang muncul sangat mengagumkan di atas sentuhan VFX dan CGI-nya. Faktor ini memang tampil tak main-main di atas set metropolis futuristik dengan nuansa Asia yang kuat berikut juga detil-detil visual karakter kombinasi Barat – Asia-nyabak ‘Blade Runner’ bertemu ‘The Matrix’.

Bersama usaha bagus yang membuat kita menyadari kemajuan pesat teknologi efek visual dalam sinema masa kini, ‘Ghost in the Shell’ juga menemukan kekuatan lebih lewat Scarlett Johansson yang memerankan karakter utamanya lewat performa gestur dan body language. Tough yet also seducing dengan bodysuit yang sudah menarik perhatian sejak trailer-nya diluncurkan, walau elemen-elemen karakter serupa sebelumnya sudah kita lihat lewat penampilan Scar Jo di ‘The Avengersfranchise atau ‘Lucy‘, sulit rasanya membayangkan ‘Ghost in the Shell’ dengan kandidat aktris lainnya walaupun ini tetap dipandang salah oleh sebagian orang. Masih ada juga dukungan bagus dari Binoche, Asbæk berikut Michael Pitt, selagi Takeshi Kitano – walau jelas tak bisa lebih menonjol, mereka manfaatkan secara cukup proporsional di balik karakter yang ia perankan.

Hanya sayang, selain tak pernah terlalu kuat menyemat faktor emosinya hingga adegan akhir yang seharusnya menyentuh itu lewat begitu saja, mereka tak berusaha sedikit lebih inventif di koreografi laga, yang walau tampil cukup seru namun tak menawarkan sesuatu yang benar-benar baru – tak seperti ‘The Matrix’ yang dua dekade lalu membuat kita begitu takjub dengan pameran teknologi sekaligus koreografi laganya. Dengan aktor laga senior di film-film kelas B termasuk pernah tampil di film Indonesia, Richard Norton sebagai fighting coordinator-nya, adegan-adegan laga dalam ‘Ghost in the Shell‘ memang tak pernah terasa benar-benar baru walau tetap seru. Dan tak hanya itu, tak seperti ‘The Matrix’ yang tak lantas kehilangan kekuatan untuk menyemat elemen-elemen filosofis senada ke dalamnya, walau dari sisi visual ‘Ghost in the Shell’ bisa jadi lebih unggul dari kacamata teknologi, ini jelas bukan ‘The Matrix’ di luar skeptis-skeptis whitewashing yang ada. Desain produksi Roelfs memang mendeskripsikan sebuah universe dalam storytelling-nya, but mostly, hanya sebatas di permukaan saja.

Lagi-lagi, seperti banyak adaptasi lain dengan source yang berasal dari dunia Asia, resepsinya akan bergantung sekali pada faktor referensi. Yang belum pernah mengikuti source aslinya mungkin bisa menikmati ‘Ghost in the Shell’ versi Hollywood ini dengan nyaman, namun belum tentu bagi fans-nya. Terbagi lagi dengan fanbase Scar Jo, satu yang mesti paling disadari adalah bahwa keberadaan ‘Ghost in the Shell’ memang lebih mengarah pada film komersil Hollywood daripada menjual filosofi seperti manga/anime aslinya. This is purely visuals and Scar Jos performance over substance. If you don’t mind with that, nikmati saja sebagai blockbuster Hollywood kebanyakan, ‘Ghost in the Shell’ tetaplah sebuah sajian yang seru, menghibur sekaligus memanjakan mata. (dan)