Home » Dan at The Movies » DANUR: I CAN SEE GHOSTS (2017)

DANUR: I CAN SEE GHOSTS (2017)

DANUR: I CAN SEE GHOSTS; NEAT FRAMING IN HORROR NARRATIVES

Sutradara: Awi Suryadi

Produksi: Pichouse Films, 2017

danur poster

Walau jadi genre yang tak pernah mati dalam industrinya, tak hanya di Indonesia, genre horor memang kerap dipandang jadi degradasi di film kita dan selera penontonnya. Bukan tak ada yang bagus, hanya saja, jumlahnya tak berbanding seimbang dengan banyak produk-produk aji mumpung yang kerap jadi solusi jualan aman dengan bujet rendah – tapi tetap ditonton orang.

Dalam konteks box office, dengan pendapatan lebih sejuta tak sampai seminggu rilis – dan terus naik ke hall besar menyisakan antrian begitu panjang di tengah lesunya genre ini belakangan, ‘Danur’ harus diakui merupakan sebuah fenomena. Nanti dulu soal latar source novel best seller ‘Gerbang Dialog Danur‘ (Danur; air yang keluar dari tubuh mayat yang sudah membusuk) karya Risa Saraswati, musisi sekaligus penulis genre-nya yang sudah terkenal duluan, yang menyebutkan bahwa ‘Danur’ merupakan pengalaman nyata di balik 5 arwah anak Belanda yang bersahabat dengannya itu, proses pembuatan yang didasari amanat hingga kursi yang harus dikosongkan di tiap pemutarannya. Percaya atau tidak, gimmick promosi yang memang sangat terkoneksi dengan kepercayaan masyarakat kita soal mistis atau bukan – ataupun nama Prilly Latuconsina dengan fanbase-nya yang tak kecil, di sini, kita berbicara soal filmnya.

Di ulang tahunnya yang ke-8, Risa (dewasanya diperankan Prilly) mendapat tiga orang sahabat yang ternyata hantu. Mendapati perilaku aneh ini, ibunya, Elly (Kinaryosih) lantas mencari cara untuk memisahkan Risa dengan mereka. Namun 9 tahun kemudian, saat kembali ke rumah neneknya (Inggrid Widjanarko) bersama adik kecilnya, Riri (Sandrina Skornicki), sebuah teror supranatural kembali datang, menempatkan Riri dan seisi rumahnya dalam keadaan bahaya.

Dari sisi filmis dalam genre-nya, sebenarnya tak ada yang terlalu spesial dari ‘Danur’. Sekalipun diilhami kejadian nyata serta personal menurut kreatornya, almost offers nothing new, plot-nya sudah banyak dipakai di film-film sejenis – lokal maupun luar. Skrip yang ditulis oleh Risa bersama Lele Laila dan Ferry Lesmana pun sama. Selain tak semua bangunan karakternya digagas secara seimbang hingga latar sinister/villain yang lagi-lagi sangat tipikal di tema horor kita, ‘Danur’ memang lebih menyisakan amunisi horornya lewat adegan-adegan jump scare hingga make-up dan tampilan seram yang memang selalu meyakinkan di balik sosok Shareefa Daanish.

Namun dibanding banyak film lain yang melulu mengandalkan usaha menakut-nakuti namun meloncat-loncat dalam penceritaan, sutradara Awi Suryadi sepertinya adalah motor yang tepat untuk ‘Danur’. Bukan tak punya kekurangan, namun kekuatan utamanya ada dalam framing yang rapi dari Awi dan penata kamera Adrian Sugiono dalam menyusun pengadeganan untuk mengantarkan narasi dan penceritaan yang lebih runut. Deretan film horor Awi (‘Loe Gue End‘, ‘Badoet‘) paling tidak sudah menunjukkan itu, bahwa dalam genre-nya, Awi merupakan storyteller yang cukup baik untuk mengangkat kelas film horor yang disutradarainya.

Tetap ada beberapa elemen yang terlalu jelas dalam rentetan teror-nya; seperti make up yang kelewat mendistraksi secara unnecessary, namun ‘Danur’ memang tak bermaksud mengedepankan twist dan hal-hal sejenis. Lupakan horor-horor kacangan, ‘Danur’ memang bukan sepenuhnya sebuah atmospherical horror yang berusaha kelihatan lebih pintar serta minimalis seperti film-film horor-nya M. Yusuf (‘Angker’, ‘Kemasukan Setan’ ‘Misterius’) namun lebih straight out simple menggelar scare play-nya. Tapi bukan pula horor ala Hitmaker Studios yang lebih mengedepankan visual dan star factor dengan production design serba wah – namun jarang-jarang tampil kuat dalam keseluruhan penceritaannya.

Begitu pun, di tangan Awi, meski belum sepenuhnya maksimal, atmosfer yang nyaris dibangun di atas single set itu tetap terbangun dengan baik lewat penataan pencahayaan dan shot-shot yang bisa sedikit menutupi kebutuhan jump scare-nya buat ditampilkan tak mendominasi, cukup proporsional secara frekuensi. Hal-hal kecil seperti sound upright piano yang sudah lama tak dimainkan pun cukup ter-handle lumayan cermat. Penggunaan lagu rakyat berbahasa Sunda; ‘Boneka Abdi’ yang diserap dari folk children’s song Jerman ‘Hänschen Klein’ karya Franz Wiedemann dan juga banyak diserap ke berbagai bahasa dan sering menjadi basic scale pelajaran piano itu juga cukup memperkaya atmosfer horornya. Dan paling tidak, dalam kepentingan standar horor yang baik dengan villanous creature yang remarkable, ‘Danur’ cukup memenuhi syarat lewat penampilan Shareefa Daanish. Walau predictable, at least sebuah payoff dari penampilannya di ‘Ular Tangga’ kemarin – dan tentunya, masih cukup bekerja untuk membuat penonton bergidik.

Selebihnya adalah akting Prilly, Kinaryosih dan tentu Shareefa untuk menutupi aktor-aktor cilik pemeran Peter (Gamaharitz), William (Wesley Andrew) dan Jansen (Kevin Brezovski Taroreh) yang rata-rata masih sedikit kaku – selagi Sandrinna sebagai Riri dan Asha Kenyeri Bermudez sebagai Risa kecil lebih baik. Masih ada dukungan nama-nama lebih senior seperti Fuad Idris, Aline Adita, Jose Rizal Manua di balik porsi mereka yang terbatas, sementara Inggrid Widjanarko sayangnya tertutup oleh makeup berlebih.

Keunggulan-keunggulan itu agaknya sudah cukup membuat ‘Danur’ sebagai horor lokal yang masih jauh lebih baik dari produk asal-asalan yang selama ini memenuhi sinema kita. Bahwa kekuatan framing untuk keperluan naratif – terutama di genre horor yang tak memiliki kekuatan lebih dari sisi plot, adalah sesuatu yang penting untuk mengangkat kelasnya secara keseluruhan. (dan)

danieldokter

danieldokter

Daniel Irawan adalah pemilik situs ini.
danieldokter

Latest posts by danieldokter (see all)