Home » Dan at The Movies » NIGHT BUS (2017)

NIGHT BUS (2017)

NIGHT BUS: A RARE EDGE-OF-YOUR-SEAT INDONESIAN SUSPENSE THRILLER

Sutradara: Emil Heradi

Produksi: Nightbus Pictures, Kaninga Pictures, 2017

night bus poster

Coba sebut sejumlah film ber-genre thriller di sinema kita. Tentu bukan tak ada, namun jelas masih tergolong jarang, menyisakan sebagian besar berada di konteks erotis atau yang berbalut romance. ‘Night Bus’ yang datang dari gagasan T. Rifnu Wikana dan Darius Sinathrya sebagai debut mereka merambah kursi produser dan bagi Rifnuscriptwriter, bahkan mengeksplorasi subgenre yang lebih jarang lagi diangkat sineas kita; soal perjalanan penuh teror berlatar daerah konflik. To some genre afficionados, yang paling lekat dalam ingatan di sejumlah elemennya mungkin ‘The Year of Living Dangerously’, ‘Argo’ atau ‘No Escape’. Atau banyak hijacking thrillers yang biasanya mengambil platform pesawat terbang. Tapi lebih dari soal latar politis atau hijacking thriller, ini sebenarnya lebih dekat ke ‘Fatal Vacation’, film HK tahun 1990 yang disutradarai sekaligus dibintangi Eric Tsang yang sebelumnya lebih dikenal sebagai komedian.

Meski menyamarkan set-nya ke daerah fiktif bernama Sampar yang lebih sering terdengar sebagai nama lain penyakit Pes yang dulu sekali sempat mewabah atau sebuah wilayah di Sumbawa, mungkin untuk menghindari kontroversi, ‘Night Bus’ tetap terasa diilhami oleh related events yang jelas dikuasai sekali oleh background asal Rifnu sebagai penulisnya; soal konflik panjang TNI – GAM di wilayah Aceh bertahun-tahun lalu. Dengan cermat mereka juga menyemat benturan-benturan kultur yang kini berpindah ke dialek-dialek yang berbaur di provinsi terdekatnya – Sumatera; ada Melayu Riau, Tapanuli Selatan yang memang banyak disusupi budaya Melayu, sedikit Batak hingga dialek pasaran Medan.

Premisnya pun sederhana seperti judul yang mereka angkat; tentang sekelompok orang yang menumpang sebuah bus untuk menuju Sampar; kota yang diceritakan menjadi pusat konflik militer dan gerakan Sampar Merdeka di atas kepentingan sumber daya alamnya. Ada Amang Zakaria (Yayu A.W. Unru) dan Bagudung (T. Rifnu Wikana), sopir bus dan kondekturnya, Annisa (Hana Prinantina); calon dokter dengan trauma masa lalu, Umar (Torro Margens); orang terpandang di daerahnya, Idrus (Abdurrahman Arif); pekerja LSM yang tengah mencari rekan-rekannya yang hilang secara misterius, Yuda (Edward Akbar); wartawan, pasangan Mala (Rahael Ketsia) dan Rifat (Arya Saloka) yang hendak mengadu nasib di pertambangan emas di Sampar, seniman tua tunanetra Luthfy (Agus Nuramal) dan seorang nenek tua (Laksmi Notokusumo) bersama cucu kecilnya Laila (Keinaya Messi Gusti), di antaranya. Di tengah motivasi berbeda, perjalanan penuh resiko itu membawa mereka ke titik paling genting untuk berjuang mempertahankan hidup masing-masing.

Usaha ambisius untuk mendobrak stagnansi genre di sinema kita ini sayangnya tak dibarengi dengan penggarapan teknis yang harus diakui sangat terlihat penuh keterbatasan. Bermain di claustrophobic sets yang memang berlatar malam nyaris sepanjang 138 menit durasinya, walau tak punya masalah dengan pilihan tone-nya, shot-shot DoP Anggi Frisca seringkali tak didukung oleh pencahayaan yang layak; membuat pemirsanya kadang kepayahan mengikuti guliran adegannya. Sound-sound dialognya pun kerap tertutup oleh scoring Tri Purnomo Yovial Virgi yang memuat elemen-elemen etnis bersama sisipan lagu-lagu regionalnya dengan bagus.

Like two sides of coins, kekurangan ini sebenarnya sedikit banyak masih punya manfaat membuat eskalasi nonstop terror yang mereka gelar lebih terasa realistis – namun secara teknis, walaupun dipenuhi polesan efek CGI, salah satunya oleh Dimitri Delacovias yang terlibat dalam blockbuster luar ‘Inception’ dan ‘The Dark Knight’ – tetap terasa sebagai flaws. Untuk ukuran teknis film kita, beberapa usaha polesan efek buat menampilkan atmosfer outdoor terlihat a la ‘Snowpiercer’ tetap layak dihargai sebagai efforts lebih, tapi sayangnya kekurangan teknis tadi kerap membuat mata dan telinga pemirsanya harus bekerja ekstra untuk benar-benar menangkap proses penceritaan yang mereka gulirkan ke layar.

Though however, ‘Night Bus’ tetap menemukan kekuatan dalam tiga elemen filmis utamanya. Eskalasi teror itu tergelar rapi lewat skrip Rahabi Mandra dan Rifnu sebagai sosok yang tahu betul seperti apa proses-proses kejadian yang menjadi inspirasi mereka – bersama penuturan Emil Heradi yang menaikkan tensinya secara bertahap ke satu titik di mana teror itu tak lagi merangsek perlahan tapi digeber nyaris tanpa kompromi menuju konklusi antikonfliknya. Menyentuh batasan-batasan tak biasa – like testing our guts – tapi tak sekalipun lupa menyemat elemen-elemen benturan kultur dan kedalaman protes sosial lewat bentukan karakter serta konflik intern-nya masing-masing, serta tahu pula kapan harus tampil puitis baik lewat dialog ataupun adegan tanpa harus mengorbankan feel realistic-nya. Dan meski ada satu-dua twist dan elemen klise yang sedikit dipaksakan buat konklusi itu, mereka tetap berhasil mendeskripsikan efek dari konflik horizontal atas keberadaan pihak-pihak yang mengambil keuntungan di tengah perkara sejenis sebagai villain paling mengerikan.

Elemen ketiga dari kekuatan utama itu jelas ada pada pemilihan cast-nya. Billed with effective acts, ini adalah kecermatan lebih dari usaha Darius, Rifnu dan orang-orang di belakang ‘Night Bus’. Selagi seluruh fokus yang berganti dengan seimbang dari para penumpangnya, dimainkan dengan sangat baik dari nama-nama terkenal hingga yang mereka dapatkan lewat open casting ke sejumlah institusi pendidikan antar daerah, yang paling menonjol adalah duet Yayu – Rifnu – mengulang lagi salah satu dialect acting terbaiknya di ‘Maaf, Saya Menghamili Istri Anda‘, Torro Margens yang kali ini menggunakan performa komikalnya tanpa jadi distraksi, Laksmi Notokusumo yang tampil kuat sekali bersama Lukman Sardi di pengujungnya dan seniman solo performer asal Aceh Agus Nuramal – yang memerankan Luthfy bak seorang narator lewat lantunan etnis buat penyampaian pesan antikonflik itu.

Lagi di dalam ensemble acts yang luar biasa itu, masih ada Ade Firman Hakim, Donny Alamsyah, Alex Abbad, Tyo Pakusadewo, dan Tino Saroengallo yang layak mendapat kredit terbesar dari seluruh performa aktornya. Tampil di puncak ketegangan yang terus menggedor pemirsanya ke batas tanpa kompromi tadi, theatrical act Tino benar-benar membuat pemirsanya bergidik tanpa harus membuat jembatan realismenya jadi berjarak. Pengaturan performa yang efektif dalam sebuah ensemble acts jarang-jarang sekuat ini sekaligus jadi highlight paling sempurna dari ‘Night Bus’, dalam memilah-milih siapa tampil kapan dan di mana, juga siapa yang jadi korban dan bertahan, untuk mendorong semua eskalasi teror berikut emosinya. Kita bisa merasa begitu lega dengan nafas panjang kala filmnya berakhir, tapi tak lupa menangkap esensinya, dan dalam genre yang mereka suguhkan, itu berarti sangat baik.

Sayang sekali kalau lagi-lagi karya sebaik ini harus mengalah dengan kecenderungan pilihan rata-rata penonton kita. Di luar beberapa kekurangan teknisnya, ‘Night Bus’ tetaplah sebuah usaha yang perlu sekali dihargai – bahkan dirayakan lebih lagi. A well constructed and rare edge-of-your-seat Indonesian suspense thriller yang jarang-jarang ada di sinema kita. Semoga usaha untuk menemukan penontonnya tak berhenti hanya sampai di gedung bioskop. (dan)

 

danieldokter

danieldokter

Daniel Irawan adalah pemilik situs ini.
danieldokter

Latest posts by danieldokter (see all)