Home » Dan at The Movies » GET OUT (2017)

GET OUT (2017)

GET OUT: A RICH AND ACTUAL SUBTEXT IN A GENRE-BENDING THRILLER

Sutradara: Jordan Peele

Produksi: Blumhouse Productions, QC Entertainment, Monkeypaw Productions, Universal Pictures, 2017

get out

Di balik segudang rekor pencapaian box office – hampir 180 juta USD dari bujet hanya 4,5 juta USD, still counting – dan usaha Blumhouse dalam memainkan bisnis di industrinya, which you’ve sure read about it, ‘Get Out’ memang harus diakui sebagai sebuah fenomena. Dari aktor di ‘Little Fockers’ ke penulis/produser di ‘Keanu’, tak ada mungkin yang menyangka Jordan Peele bisa sampai ke sini. Sebuah directorial debut yang sangat kuat, tanpa nama besar di deretan cast-nya pula.

Walau isunya bagi sebagian orang mungkin sangat Amerika, racism memang selalu jadi konteks aktual. Begitu pun, ini sama sekali bukan drama ataupun komedi – walau punya elemennya, yang merupakan platform biasa soal rasisme. Memindahkannya ke sebuah social thriller yang cerdas, amunisinya ada di kombinasi genre dan lagi-lagi – yang sekarang ini tengah mewabah di bangunan ide-ide ‘out of the box’ di Hollywood; referensi. Yet above all, ‘Get Out’ menunjukkan kalau Peele adalah seorang penulis yang penuh eksplorasi.

Get Out’ dimulai dengan pakem yang sudah pernah kita saksikan lewat salah satu film yang berbicara soal interracial relationship paling standar – ‘Guess Who’s Coming to Dinner?’-nya Stanley Kramer yang dibintangi trio Sidney PoitierKatharine HepburnSpencer Tracy dan sempat di-remake dalam pola inverse di ‘Guess Who?’ (2005). Fotografer berkulit hitam Chris Washington (Daniel Kaluuya) merencanakan sebuah weekend trip dengan kekasihnya Rose Armitage (Allison Williams) yang berkulit putih. Berkunjung ke sana, bertemu dengan orangtua Rose – Dean (Bradley Whitford), seorang ahli bedah syaraf dan Missy (Catherine Keener), ahli hipnosis, awalnya semua baik-baik saja hingga serangkaian keanehan mulai muncul dan kian memuncak, menempatkan Chris dalam bahaya besar yang tak pernah dibayangkannya.

50 tahun berselang, isu rasial yang tergambar sangat baik dalam fondasi referensi utamanya itu ternyata masih terus relevan hingga sekarang. Namun Peele – lewat skripnya memang tak tengah membesut romcom sejenis, melainkan social thriller dengan pendekatan genre-bending yang mengarah ke horor ala film-film yang diproduseri Jason Blum, yang kerap terasa sangat thought-provoking – walau tak sepenuhnya baru. Senjatanya pun ada di pola-pola sama; layered twists yang mendasari tiap turnover plot-nya.

Di sinilah kecermatan Peele dalam mengarahkan ide itu diuji. Untungnya, ia memang berperan bak seorang genre-afficionado creator, yang menggerakkan penceritaan itu di atas referensi seperti partitur musik yang penuh improvisasi genre namun tak sekalipun mengubah atau merusak tempo. Dari nuansa interracial romance, ia perlahan menggeser ‘Get Out’ ke Hitchcockian ambience yang mengarahkan pendekatan thriller-nya ke horor lewat mysterious gesture sejumlah karakter, menyentuh voodoo myth di latar dan persepsi-persepsi terhadap etnisnya, sebelum akhirnya membuka satu demi satu twist itu dengan mishmash lebih campur aduk lagi bahkan ke blaxploitation myths, even old fashioned – ’50s classic monsters/crazy physicians dengan elemen science yang kental.

Di sinilah sebenarnya Peele agak sedikit tersandung dengan ambisinya sendiri. Meletakkan fondasi plot dengan subteks aktual di gambaran real life, walaupun secara perlahan mengalihkannya ke arah horor dengan cukup rapi lewat soal hipnosis yang berada di tengah-tengah mistis dan science – tetap saja, scientific explanations itu sedikit keluar jalur. Tetap terasa clumsy dalam konteks walau elemennya dalam sebuah fantasi bisa ke mana saja. Layered twists-nya pun berada di konsistensi naik turun – kadang bisa sangat tertebak dengan beberapa turnover yang terasa dipaksakan dari sisi logika internal karakterisasinya.

Namun untungnya, Peele bisa mempertahankan subteks yang sudah disematnya dari awal untuk membawa pemirsanya tetap nyaman mengikuti kegilaan itu. Dalam konteks-konteks aktual soal rasisme yang masih terus kita ikuti dari pemberitaan-pemberitaan nyata, satire-satire sosialnya di banyak sisi tetap muncul dengan referensi kuat hingga ke komposisi scoring dari Michael Abels yang juga dipenuhi genre-bending di atas influence African American music lintas zaman hingga blues. Kita bisa tertawa keras melihat sindiran-sindirannya, tapi juga dengan cepat terpaku dengan guliran suspense dan no-holds-barred showdown yang menanti di pengujungnya.

Dan semua itu digagas di kekuatan utama yang dimiliki Peele lewat bentukan karakter-karakternya, juga semakin sempurna dengan pemilihan cast yang dipilihnya. Meski sudah bermain dalam sejumlah film-film yang cukup dikenal – silahkan cek sendiri filmografinya, Daniel Kaluuya merupakan vehicle sempurna untuk ‘Get Out’. Parasnya jauh dari menawan walau buat ukuran black actors, namun Kaluuya bisa menyampaikan semua sisi karakterisasinya buat menaikkan tingkatan tensi yang digelar Peele ke tengah-tengahnya – terlebih lewat permainan sorot mata dan mimik yang sangat liar untuk menyampaikan ketakutan. Sebagai pendampingnya, Allison Williams (‘GirlsTV series) yang punya paras mirip Jennifer Connely pun tampil kuat sebagai Rose, juga Bradley Whitford dan dua nama yang lebih dikenal – Caleb Landry Jones dan Catherine Keener.

Namun yang paling juara sebagai distraksi-distraksi genre-bending itu, muncul sebagai scene stealers yang kuat adalah komedian Lil Rel Howery sebagai Rod, aktor/rapper LaKeith Stanfield dan aktris yang mengawali karirnya sebagai play-actress/stage performer – dancer Betty Gabriel. Tak banyak mungkin film yang lebih mengutamakan pemilihan cast yang tepat lebih dari popularitas nama, dan ‘Get Out’ jelas ada di salah satu yang terbaik dalam pola idealisme yang sama.

So, debut penyutradaraan Jordan Peele ini memang spesial. Tak salah juga kalau banyak sekali prediksi-prediksi sejak awal yang menyebutkan efforts-nya bahkan layak mengantarkannya ke deretan awards nominee tahun depan walau mungkin masih terlalu dini untuk itu. Meski sedikit ceroboh di salah satu elemen dan peletakan referensi terpenting dalam lapisan teratas twist di pengujungnya, yang mungkin lebih bisa disadari oleh pemirsa-pemirsa yang mempelajari seluk-beluk keahlian ilmu yang hendak disampaikan Peele, ‘Get Out’ tetaplah sebuah usaha dengan pencapaian di atas rata-rata. Ada banyak thriller yang menggunakan genre-bending efforts, dengan elemen-elemen yang tak sepenuhnya baru, tapi ‘Get Out’ tetap terasa sebagai ‘one of a kind’ dalam permainan mishmash-nya, bahkan bukan tak mungkin bisa bergulir sebagai franchise baru lagi dari Blumhouse. A rich and actual subtext in a genre-bending thriller. (dan)

danieldokter

danieldokter

Daniel Irawan adalah pemilik situs ini.
danieldokter

Latest posts by danieldokter (see all)