Home » Dan at The Movies » ALIEN: COVENANT (2017)

ALIEN: COVENANT (2017)

ALIEN: COVENANT: RIDLEY SCOTT’S COMPROMISED VISION FOR THE FRANCHISE

Sutradara: Ridley Scott

Produksi: 20th Century Fox, Scott Free Productions, 2017

Image: impawards.com

Image: impawards.com

Apapun reaksi inisialnya saat dirilis pertama kali dulu, Ridley Scott bersama kreator/penulis Dan O’Bannon, trio produser Gordon CarrollDavid Giler dan Walter Hill serta yang sangat tak boleh dilupakan; H.R. Giger sebagai creature designer-nya, telah membawa ‘Alien’ sebagai sebuah karya klasik di genre sci-fi horror yang tergolong melawan arus di tahun 1979. Ada begitu banyak cerita menarik di balik sejarahnya, tapi yang kita tahu pasti adalah ‘Alien’ adalah sebuah benchmark yang bukan saja mencetak sukses secara komersil tapi juga meraih Academy Award untuk Best Visual Effects dan sejumlah penghargaan lain. Juga terus berkembang sebagai masterpiece yang dijadikan standar buat genre-nya hingga sekarang.

Namun mungkin, yang benar-benar membawa kelahirannya sebagai franchise dengan status mega blockbuster adalah sekuelnya; ‘Aliens’ yang disutradarai James Cameron. Memoles pakem sci-fi horror-nya dengan sentuhan action yang luarbiasa seru tanpa mengorbankan universe building film pertamanya, sayangnya dua instalmen berikutnya tak mampu mempertahankan kualitasnya sebagai benchmark. ‘Alien 3’ yang disutradarai David Fincher berakhir sangat mengecewakan seperti proses produksinya yang penuh masalah, sementara ‘Alien: Resurrection’ dari Jean-Pierre Jeunet walau sedikit lebih baik dan memperbaiki kekacaubalauan ‘Alien 3’ tak bisa membuat nafas franchise-nya berlanjut dengan rencana sekuel yang terkubur dalam-dalam.

Sempat berekspansi di dwilogi spinoff-joined universeAlien Vs. Predator’ yang juga dihancurleburkan oleh instalmen keduanya, baru di tahun 2012 franchise-nya akhirnya berlanjut ke prekuel yang kembali membawa Ridley Scott. ‘Prometheus’ yang memulai originspace jockey’ di atas kesinambungan ide lebih besar soal penciptaan jelas bukan effort aji mumpung yang jelek, namun bagi beberapa fans yang sudah tercipta dari sejarah panjang franchise-nya, kelewat filosofis dan belum cukup mengembalikan rasa rindu mereka menyaksikan creature legendaris itu melakukan pembantaian di luar angkasa. Sementara desas-desus sekuel versi Neill Blomkamp yang kabarnya bakal menyambung ‘Aliens’ tanpa memperdulikan ‘Alien 3’ dan ‘Resurrection’ masih berstatus pending sebelum akhirnya dibantah Scott baru-baru ini, ‘Alien: Covenant’ adalah bagian kedua dari rencana trilogi prekuelnya.

Ber-setting 10 tahun setelah ekspedisi ‘Prometheus’ dan seluruh timnya dinyatakan hilang secara misterius, di tahun 2104 pesawat koloni ‘Covenant’ melakukan perjalanan menuju planet tujuan Origae-6. Dimonitor oleh android Walter (Michael Fassbender) yang merupakan generasi terbaru dari David di ‘Prometheus’, 15 awak yang saling berpasangan terpaksa dibangunkan saat sebuah insiden menimpa Covenant. Mendapat transmisi dari sebuah planet misterius dalam jarak dekat, Daniels (Katherine Waterston), ilmuwan yang kehilangan suaminya dalam insiden itu mencoba menentang Kapten Oram (Billy Crudup) yang menggantikan suaminya untuk melakukan ekspedisi ke sana. Seketika semua menyadari keselamatannya berada dalam bahaya setelah sejumlah organisme kompleks memangsa mereka satu-persatu.

Menyambung kontinuitasnya dari origin yang di-setup Scott bersama Jon SpaithsDamon Lindelof dalam ‘Prometheus’, skrip dari John Logan (‘Gladiator’, ‘Skyfall’ & ‘Spectre’) dan Dante Harper memulai ‘Covenant’ dengan pertanyaan lebih besar soal penciptaan dan keberadaan Weyland Industries. Sayangnya, skrip itu lantas bergerak melawan visi Scott membesut origin prequel-nya sendiri dengan permainan bantai-membantai yang tak menyisakan jumlah kru yang makin penuh sesak untuk mendapat perhatian cukup lewat pengembangan karakternya. Scott lebih memilih sibuk menggelar cara karakternya mati satu-persatu ketimbang membangun kontinuitas.

Sementara benang merah mitologi asal-usul itu tetap digelar lewat penelaahan mendalam dari karakter android – satu elemen yang memang sudah digagas para kreatornya sejak instalmen inisialnya di tahun 1979 dan juga kerap jadi elemen wajib karya-karta sci-fi Scott; menampilkan double role acts Michael Fassbender sekaligus dalam koherensi jawaban nasib survivorPrometheus’ dan eksistensi The Engineers, namun ini justru menjadi distraksi terbesar di third act dan sematan twist-nya. Lebih lagi, Scott agaknya kelewat asyik bermain dengan simbol-simbol homoerotisme yang walau bisa dilakoni Fassbender dengan meyakinkan namun kerap terasa konyol dan tak bersinergi dengan baik ke filosofi yang digelar Scott. Simbol-simbol lain soal mitologi penciptaan, valhalla dan komposisi Wagner di balik ide awal judul ‘Paradise Lost’ pun tertinggal hanya sebagai sempalan belaka.

Thus, Scott dalam ‘Covenant’ memang seperti hendak melakukan kompromi seperti apa yang diutarakannya belakangan, terhadap keinginan fans atas tone franchise yang paling mereka inginkan. Benar bahwa effort itu membawa ‘Covenant’ seolah sebuah return to form baik ke ‘Alien’ dan ‘Aliens’ – menonjolkan goryness dan action ke tengah deadly sci-fi horror dalam pakem ‘who dies first and who survived’; sambil memunculkan ragam Alien creatures-nya dari Facehuggers ke inovasi Neomorph dan Protomorph (belum Xenomorph – ‘Xenomorph’ dari penjelasan sumber aslinya).

Dan tak cukup hanya itu, ‘Covenant’ bahkan ingin memberi nods hampir ke semua elemen-elemen yang ada dalam keseluruhan instalmennya termasuk joint universeAvP’; namun sayangnya lebih terasa seperti mash-up yang tumpang tindih ketimbang tersusun rapi sambil mempertahankan filosofi penciptaan dan sedikit ide soal God Complex yang sudah dimulai dengan baik lewat ‘Prometheus’. Pada akhirnya, ia seolah menjanjikan banyak jawaban, tapi nyatanya tak begitu, dan tak juga membawa ‘Covenant’ sebagai reinvent work yang solid.

Menyisakan hanya sejumlah karakter yang diperankan Danny McBride dengan hint ke bentukan karakter Harry Dean Stanton di instalmen awalnya, Billy Crudup dan sedikit Carmen Ejogo, Demian Bichir (yang lagi-lagi dijadikan kepentingan karakter gay demi diversity tanpa relevansi dengan treatment karakter serupa seperti dalam ‘Independence Day 2‘) serta cameo Guy Pearce dan James Francomostly through footage dan meninggalkan yang lain; Amy Seimetz, Jussie Smollett, Nathaniel Dean, Alexander England, Benjamin Rigby dan Callie Hernandez yang memang bukan nama-nama yang dikenal buat mewarnai ansambelnya, Katherine Waterston yang mereka persiapkan menyamai heroisme Ripley lengkap dengan kostum tanktop legendaris andalannya pun gagal karena tak dibangun lewat pengembangan karakter yang baik. Ia mungkin lupa, apa yang membuat ‘Alien‘ jadi sangat spesial dan memicu trend di genre-nya adalah kita, sebagai pemirsanya, tak menyangka sedikitpun karakter Ripley, Sigourney Weaver kala itu, di antara A-list ensemble lain, yang bakal melanjutkannya sebagai franchise.

Tampil sangat tidak meyakinkan lewat gestur dan ekspresi tak sejalan dengan dialog-dialog badass yang digelar seketika, almost without warning dan terasa dipaksakan, meski tak jelek di bagian-bagian awal, Waterston bahkan masih jauh lebih lemah dibanding Noomi Rapace sebagai Elizabeth Shaw di ‘Prometheus’. Selain McBride sebagai MVP yang paling menarik perhatian secara serius namun komikal, ‘Covenant’ agaknya hanya memusatkan perhatian internalnya ke sosok Michael Fassbender yang salahnya – lagi-lagi, menggeser fokus penting antara Alien dengan Android walaupun mungkin bisa dijustifikasi lebih di bagian akhir trilogi prekuelnya nanti.

However, ‘Covenant’ memang sama sekali bukan instalmen yang jelek. Menjadi instalmen yang mungkin masih layak berada sedikit di bawah kualitas ‘Prometheus’ dengan kompromi Scott terhadap visi bagus yang sudah dimulainya di sana, gempuran adegan cat and mouse action dan bloody-gory showdown antara aliens dan spaceship crews-nya masih bisa berlangsung lumayan seru sebagai pelepas rasa kangen buat fans-nya.

Masih ada sinematografi bagus dari DoP veteran langganan Scott, Dariusz Wolski, yang meski memang tak pernah terlalu kuat merekam detil-detil adegan aksinya di bagian klimaks, tapi bekerja dengan baik di gambaran universe dan set-nya secara keseluruhan; membawa petualangan baru ini ke daratan di tengah hutan bak sebuah perang gerilya ala ‘Predator’. Scoring Jed Kurzel – menggantikan Harry Gregson-Williams dengan elemen komposisi asli Jerry Goldsmith di ‘Alien’ juga bekerja tak kalah baik membawa feel nostalgic-nya. Nikmati saja ini sebagai sebuah kompromi untuk mengembalikan ‘Alien’ ke seru-seruan serta pace yang diinginkan banyak fans-nya. Paling tidak, kita masih bisa dibuat gregetan menyaksikan kejar-kejaran di tengah pameran pembantaiannya. Seru, namun tak lebih dari itu. (dan)

 

danieldokter

danieldokter

Daniel Irawan adalah pemilik situs ini.
danieldokter

Latest posts by danieldokter (see all)

  • Mister Hiro78

    alur filmnya simple dan gampang dicerna, cuma bahasa reviewnya mas daniel ini yg luar biasa tdk gampang dicerna 🙂

  • Fariz Sofyan

    twistnya kurang menyentak