Home » Dan at The Movies » KING ARTHUR: LEGEND OF THE SWORD (2017)

KING ARTHUR: LEGEND OF THE SWORD (2017)

KING ARTHUR: LEGEND OF THE SWORD: GUY RITCHIE’S MEDIEVAL ROCK N’ROLL RIOTS

Sutradara: Guy Ritchie

Produksi: Warner Bros., Safehouse Pictures, Ritchie/Wigram Productions, Village Roadshow Pictures, Weed Road Pictures, 2017

Image: impawards.com

Image: impawards.com

Here’s the truth. Bukan sekali, bahkan sudah berkali-kali diadaptasi ke film dan platform kultur pop lain dari buku sampai komik, animasi hingga musikal, sosok King Arthur dan Camelot universe-nya yang pasti sudah dikenal baik oleh semua pembaca classic literature di seluruh dunia (di sini, anak-anak ‘80an mengenalnya sebagai Album Cerita Ternama) – tak punya bukti sejarah pasti. Lebih berupa legenda, cerita rakyat atau hikayat-hikayat kuno dengan historical existence yang masih diperdebatkan para ahli sejarah modern, tentu tak ada yang salah dengan bumbu dalam tiap versi adaptasinya.

Tercatat yang paling dikenal adalah animasi klasik Walt DisneyThe Sword in the Stone’ (1963), ‘Camelot’ (Joshua Logan, 1967) yang dibintangi Richard Harris dan Vanessa Redgrave, ‘Excalibur’ (John Boorman, 1981) yang lebih fantastis, ‘First Knight’ (Jerry Zucker, 1994) yang dibintangi Sean Connery dan Richard Gere, serta tentu saja versi 2004 yang diproduseri Jerry Bruckheimer dari sutradara Antoine Fuqua, ‘King Arthur’ yang secara kualitas memang jelek di balik status blockbuster-nya. Masih ada serangkaian expanded universe-nya di kisah-kisah lain yang cukup dikenal dan juga tak kalah sering diangkat ke layar lebar: soal Tristan dan Prince Valiant; serta novel time travel Mark TwainA Connecticut Yankee in King Arthur’s Court’ yang juga jadi salah satu yang mendasari ‘Army of Darkness’-nya Sam Raimi.

Ditambah yang akan kita saksikan dalam waktu dekat, membawa Arthurian Legend ke franchiseTransformers’ terbaru ‘The Last Knight’, ini semua menjelaskan bahwa tak ada patokan pasti ke mana dan bagaimana legenda King Arthur dibentuk. Tanpa harus ditanggapi se-serius sebuah biopik atau adaptasi tokoh sejarah lain yang eksistensi historisnya sudah bisa dipastikan, tanpa pula menanyakan mana Lancelot? Mana Guinevere? Mana Merlin atau tokoh-tokoh lain menurut banyak versi yang ada, bahkan balada cinta segitiga antara Arthur-Lancelot-Guinevere yang mungkin lebih lekat ketimbang legendanya sendiri, pendeknya, dalam adaptasi Arthurian Legend, Romance atau apapun sebutannya, walau satu dua termasuk ini – yang dianggap mengacaubalaukan legendanya; Anything Goes.

Menjadi rencana panjang dari Warner Bros buat mengulang adaptasi versi terbaru melalui banyak proses bahkan direncanakan sebagai 6 instalmen berkesinambungan yang akhirnya jatuh ke tangan Guy Ritchie, versi ‘King Arthur’ yang diberi bandrol ‘Legend of the Sword’ ini memang tetap berupa sebuah medieval legend, namun secara ekstrim dipoles over the top bak versi rock n’ roll dari sosoknya. A mishmash of many elements, hingga fantastic creatures dengan nods jelas ke artwork Death Dealer-nya Frank Frazetta, tapi tetap dikemas dengan struktur naratif dan framing gambar – penceritaan yang terasa sangat Guy Ritchie atas karir panjangnya di dunia video klip, lengkap dengan british jokes khas yang selalu ada di film-filmnya.

Dipecundangi oleh adiknya, Vortigern (Jude Law) yang bekerjasama dengan penyihir jahat Mordred, Raja Inggris Uther Pendragon (Eric Bana) meninggalkan putranya yang belakangan tumbuh besar di sebuah rumah bordil di Londinium dan diberi nama Arthur (dewasanya diperankan Charlie Hunnam). Bersama sahabatnya, Tristan (Kingsley Ben-Adir) dan Backlack (Neil Maskell), Arthur hidup sebagai petarung jalanan hingga akhirnya menemukan asal-usulnya dari ketakutan Vortigern terhadap sebuah ramalan akan pedang sakti yang hanya bisa ditarik dari batu oleh keturunan Raja. Dibantu oleh rekan ayahnya, Sir Bedivere (Djimon Hounsou), buronan Goosefat Bill (Aidan Gillen) serta penyihir wanita misterius (Astrid Bergès-Frisbey), bersama sekumpulan pemberontak termasuk jagoan kung fu George (Tom Wu), Arthur akhirnya menerima takdirnya buat menghadapi Vortigern membalaskan dendam keluarganya. From nothing, comes a King.

Skrip yang ditulis Ritchie bersama partner produksinya sejak Sherlock Holmes, Lionel Wigram dan penulis/produser eksekutif Joby Harold dari ‘Edge of Tomorrow’ dan adaptasi Robin Hood berikut dari Lionsgate, memang membawa sentuhan baru ke legenda King Arthur dengan elemen-elemen yang belum pernah kita lihat sebelumnya; bahkan tetap menolak berkompromi saat guliran ending-nya memberi sedikit nods ke beberapa elemen yang sudah dikenal. Lagi-lagi bukan sesuatu yang salah, namun mungkin banyak dipertanyakan pemirsa yang sudah mengenal betul versi demi versi yang ada, Ritchie seakan mencoba keluar dari comfort zone-nya ke ranah mega – high budget blockbuster dengan production values fantastis dari sisi visual plus gimmick 3D-nya – one of the best in years, yang juga harus diakui berhasil menyajikan kemegahan tak main-main dari set, kostum dan keseluruhan desain produksinya. Belum lagi tampilan monstrous creatures-nya; dari gajah, ular raksasa hingga monster laut yang dibalut dengan CGI sangat mengagumkan. Ini jelas bukan ‘King Arthur’ biasanya.

Namun begitu, Ritchie tak lantas melepas style dan signature yang membuatnya menjadi salah satu A-list director sekarang. Fast paced-storytelling dengan struktur narasi dan joke-joke khas-nya, membentuk frame dalam frame pengisahan, juga membuat ‘King Arthur’ versinya begitu asyik buat diikuti. Selagi kita menyadari detil-detil plot itu buat sutradara lain bisa melebar melebihi satu film, di tangan Ritchie, ‘Legend of the Sword’ mengalir kencang seolah memberinya ruang buat menyemat keseruan dengan gayanya menyajikan adegan aksi yang menghentak. Satu yang paling spesial sesuai judul yang akhirnya menggantikan judul awal ‘Knights of the Roundtable: King Arthur’ bersama perubahan visi itu adalah tampilan Excalibur, dengan sentuhan kekuatan luar biasa fantastis, like you’ve never seen before.

Meng-handle gaya Ritchie ini, ensemble-nya pun tak kalah menarik. Charlie Hunnam sebagai street thugs – rags to riches Arthur sangat mengingatkan ke penampilan Heath Ledger di ‘A Knight’s Tale’ dalam banyak presentasi serupa memoles medieval legend ke sentuhan modern yang terasa sangat rock n’roll walau tanpa bantuan rock classic OST. Sebagai Voltigern dan Uther Pendragon, Jude Law dan Eric Bana – walau nama terakhir tampil singkat, juga mengisi kepentingan star factor-nya dengan pas.

Pendukungnya pun digagas dengan kemeriahan diversity yang sama sekali tak terasa dipaksakan. Ada Djimon Hounsou, Aidan Gillen dan Neil Maskell bersama pemeran cilik Bleu Landau sebagai Blue yang paling menonjol, sementara Astrid Bergès-Frisbey yang mungkin tak sejelita female lead film-film King Arthur sebelumnya tetap bisa memberikan sentuhan menarik sebagai pengganti sosok Merlin. Masih ada Tom Wu, aktor Inggris-Asia yang walau mungkin luput dari perhatian namun sudah melanglang buana hingga ke Bollywood dalam ‘Ra-One’ hingga cameo David Beckham di salah satu adegan terpentingnya.

Bersama sinematografi John Mathieson (‘Gladiator’, ‘Kingdom of Heaven’, ‘The Man from U.N.C.L.E.’) dan fast paced-editing James Herbert, juga kolaborator Ritchie sejak ‘Sherlock Holmes’, yang membuat storytelling Ritchie dan seluruh adegan aksinya muncul dengan detil dan luar biasa seru, scoring Daniel Pemberton juga menjadi winning factor terkuat dalam ‘Legend of the Sword’. Tak terlalu banyak mungkin karyanya yang diingat, namun Pemberton yang juga sudah berkolaborasi dengan Ritchie di ‘The Man from U.N.C.L.E.’ menghadirkan komposisi british folk bergaya kontemporer yang sangat menghentak – membuat ‘Legend of the Sword’ tak lagi memerlukan alunan rock classic OST seperti ‘A Knight’s Tale’ buat menekankan stempel ‘Rock N’Roll’ dalam sinergi padu bersama style Guy Ritchie.

So, versi Ritchie ini memang sangat spesial untuk melengkapi entry adaptasi Arthurian Legend yang pernah dibuat. Bekerja sangat maksimal dalam presentasi crazy visuals dan stunning action dalam taraf first class blockbusters, memicu rentang jauh resepsi kritikus dengan rata-rata penonton, sayang sekali rasanya ia berakhir dengan status box office bombs yang flop besar-besaran baik di pasaran domestik maupun internasional. Ini mungkin menjadi kasus tak biasa dari scene yang kita lihat di layar-layar bioskop yang tengah menayangkannya. Bahwa di banyak daerah di sini ia bahkan mengalahkan ‘Alien: Covenant’ yang notabene sudah terbentuk sebagai sebuah big franchise brand, tapi kenyataan BO-nya ternyata tak sejalan. Though if you asked me, I’d say don’t listen to those bad reviews. This is indeed one huge riot, but impressive one. Guy Ritchie’s medieval rock n’ roll riots. Isn’t that sound intriguing? (dan)

danieldokter

danieldokter

Daniel Irawan adalah pemilik situs ini.
danieldokter

Latest posts by danieldokter (see all)