Home » Dan at The Movies » WONDER WOMAN (2017)

WONDER WOMAN (2017)

WONDER WOMAN: THE PUREST OF SOUL IN NEVER BEFORE SEEN DCEU INSTALLMENTS

Sutradara: Patty Jenkins

Produksi: DC Films, Atlas Entertainment, Wanda Pictures, Cruel and Unusual Films, Tencent Pictures, Warner Bros., 2017

Image: JoBlo.com

Image: JoBlo.com

Langkah DC Comics dengan DCEU (DC Extended Universe) sebagai universe adaptasinya memang lebih sering salah sehingga kalah jauh dari MCU (Marvel Cinematic Universe) baik dari sisi perolehan Box Office maupun resepsi kritikus. Menunggu usaha pertama mereka mengkolaborasikan karakter-karakter superhero-nya di ‘Justice League’ yang bakal diselesaikan oleh Joss Whedon (‘The Avengers’) pasca mundurnya Zack Snyder karena kasus personal, kini perseteruan panjang fans-nya mungkin bisa sedikit mereda dengan ‘Wonder Woman’, instalmen solo tokoh superhero wanita legendaris yang sudah duluan muncul dalam ‘Batman v Superman: Dawn of Justice’.

Juga menjadi blockbuster superhero pertama yang dinakhodai sutradara wanita; Patty Jenkins dari film tahun 2003 berbujet minim ‘Monster’ yang mengantarkan Charlize Theron ke Oscar pertamanya, ini memang sedikit berbeda dari film-film DCEU lainnya, bahkan melawan dark tone yang menjadi ciri khas DCEU. Anggaplah mereka belajar dari kesalahan, skrip yang ditulis oleh Allan Heinberg, penulis sejumlah komik DC bersama Geoff Johns sebagai debut layar lebarnya, memang berhasil membalik skema pertarungan dua produsen superhero terbesar itu, paling tidak dari resepsi bagus dari kritikus dan audiens.

Menjadi kisah originWonder Woman’; kehidupan putri Amazon Diana Prince (Gal Gadot) dari Themysicra seketika berubah dengan kemunculan pilot US Steve Trevor (Chris Pine) yang terdampar ke pulaunya saat menghindari serbuan serdadu Jerman di era Perang Dunia I. Melawan sang Ibu, ratu Hippolyta (Connie Nielsen), Diana pun meninggalkan Themysicra ke London, menggunakan segenap keahlian yang diperolehnya dari Jenderal Antiope (Robin Wright), bibinya, untuk membuktikan sebuah legenda asal-usul yang tak pernah disadarinya atas kebangkitan dewa perang Ares lewat sosok Jenderal Luddendorf (Danny Huston) yang ingin menghancurkan dunia bersama ilmuwan sinting Doctor Maru/Doctor Poison (Elena Anaya).

Hal terbaik dari ‘Wonder Woman’ sebagai instalmen DCEU dalam memperkenalkan salah satu dari ‘DC’s Iconic Trinity’ selain Batman dan Superman, di samping perubahan dark tone-nya adalah skrip Heinberg yang memuat elemen-elemen mendasar sebuah adaptasi komik superhero tradisional – old fashioned yang tak mesti dikotori kedewasaan ini itu atau usaha membuat tokohnya menjadi kelewat realistis. Di situ, lewat penampilan gemilang dari Gal Gadot yang sudah menuai pujian dalam ‘BvS’, ‘Wonder Woman’ dipenuhi dengan innocence, naiveness dan character’s purity yang muncul mengiringi kisah asal-usulnya.

Semua momen-momen tahapan penemuan identitas tokohnya, a newborn superhero yang melangkah buat mengenali sebuah dunia baru; setiap gestur, ekspresi dan cara Gadot meng-handle koreografi aksinya memerankan Wonder Woman benar-benar terasa seperti kali pertama kita semua menyaksikan Christopher Reeve menjelma menjadi Superman di layar lebar dalam ‘Superman The Movie’ (1978); dilengkapi pula dengan tribute ke sana. Sama seperti Reeve, tak terlalu banyak mungkin aktor yang layak disebut dilahirkan buat peran ikoniknya. Sebagai Diana Prince/Wonder Woman, Gal Gadot jelas satu di antaranya.

Chris Pine sebagai Steve Trevor pun memberikan sentuhan comic relief yang pas dan sangat efektif, menjaga batasnya sebagai sidekick dan (kali ini) man-love interest dengan eskalasi chemistry yang sangat adorable ke Gadot berikut Said Taghmaoui, Ewen Bremmer dan Eugene Brave Rock masing-masing sebagai Sameer; agen rahasia rekan Trevor, Charlie; sniper Skotlandia dan Chief; oportunis berdarah Indian. Nafas diversity dalam pengaturan karakter-karakter ansambel itu terjaga baik sekali bersama lapis terdasar ‘Wonder Woman’ sebagai produk feminis yang mengusung spirit women’s empowerment dengan kuat.

Di sisi hiburan penuh aksinya, ‘Wonder Woman’ juga muncul tak kalah solid. Walau mungkin masih perlu jam terbang lebih tinggi untuk action staging dan finale yang mesti diakui tak seheboh instalmen-instalmen DCEU lainnya, setiap action sequence-nya digagas Jenkins dan tim-nya dengan energi feminisme kuat serta tak biasa. Menggabungkan banyak genre movies dalam racikannya; dari karakter-karakter komikal wanita ala ‘Brenda Starr’, aksi petualangan Amazonians/jungle warrior ala ‘Hundra’ atau ‘Sheena: Queen of the Jungle’ bahkan ‘The Rocketeer’ di tampilan era latarnya, finale action yang mungkin tak sekuat highlight terbaiknya di pertengahan film bisa tertutup rapi dengan heart factor menyentuh di atas sebuah konklusi menyentak tentang cinta.

Masih ada penampilan David Thewlis, Connie Nielsen, Robin Wright dan Lucy Davis berikut comical villain roles dari Huston dan Anaya bersama scoring Rupert Gregson-Williams – satu yang terbaik di franchise-nya dengan penggalan homage ke Led Zeppelin‘s ‘The Immigrant Song‘ – juga theme song bagus ‘To Be Human‘ dari Sia feat Labrinth. Namun yang jelas, Jenkins, tanpa sekalipun kelihatan ragu-ragu mempersembahkan elemen-elemen mendasar sebagai superhero movies pun membawa ‘Wonder Woman’ menemukan momen-momen terbaiknya sebagai instalmen DCEU yang belum pernah kita saksikan sebelumnya.

Fun, seru sekaligus dipenuhi hati yang mengembalikan esensi film superhero yang belakangan hilang digerus trend serba gelap dan kelewat dewasa, let this be a warm welcome back to DC apapun kelanjutannya nanti. At its purest of soul; ‘Wonder Woman’ membawa kita melihat balik mengapa kita masih perlu lebih lagi dan lagi film-film dalam genre-nya; yang jauh dari kesan kemurkaan saat dunia tengah terpuruk dalam ketakutan-ketakutan yang sama. HOPE. (dan)

 

danieldokter

danieldokter

Daniel Irawan adalah pemilik situs ini.
danieldokter
  • anonymous4GPentingBlog

    Film nya bagus. Agak seperti film Captain America the first Avengers dimana tokoh superhero nya dipenuhi sifat naif akan kepahlawanan dan sama-sama mengalami kisah cinta yg tragis.

    Iya bener… Aku paling suka action waktu mereka menyelamatkan no man’s land city. Keren abis. Kegigihan Diana buat menyelamatkan orang tak berdosa keliatan banget dari raut wajah diana.

    Ga nyangka tokoh steve trevor jadi bagus banget saat diperankan Chris Pine. Ga sekedar love interest penghias layar.