Home » Dan at The Movies » THE MUMMY (2017)

THE MUMMY (2017)

THE MUMMY: A RATHER WEAK SETUP FOR UNIVERSAL’S DARK UNIVERSE

Sutradara: Alex Kurtzman

Produksi: Perfect World Pictures, Secret Hideout, Conspiracy Factory, Sean Daniel Company, Universal Pictures, 2017

Image: JoBlo.com

Image: JoBlo.com

Dalam usaha revamp, menghidupkan kembali salah satu cinematic universe terbesar ‘Universal Monsters’ yang kini dibandrol studionya, Universal Pictures dengan nama ‘Dark Universe’, reboot kedua ‘The Mummy’ (pertama adalah versi Stephen Sommers yang berjumlah tiga instalmen – yang terakhir disutradarai Rob Cohen) ini memang dimaksudkan menjadi proyek inisial untuk pengembangannya nanti.

Setelah sempat gagal dengan ‘Dracula Untold’ (2014, Gary Shore) yang urung berlanjut, rencana baru itu sudah dipublikasi dengan nama-nama A-list actors, selain Tom Cruise dan Russell Crowe di ‘The Mummy’, di antaranya ada Javier Bardem dan Johnny Depp. Ini jelas menjadi salah satu dream project dengan brand para monster yang sudah dikenal ke mana-mana dari ‘Dracula’, ‘Frankenstein’, ‘The Wolfman’, ‘Invisible Man’ dan banyak lagi yang akan dikolaborasikan dalam satu cinematic universe.

Deretan penggagas/penulisnya juga dipenuhi nama-nama seperti Alex Kurtzman (kolaborator Roberto Orci yang sudah me-rebootStar Trek’ dan berada di balik franchise besar dari ‘Transformers’, ‘The Amazing Spider-Man 2’ hingga ‘Now You See Me’, Christopher McQuarrie (‘The Usual Suspects’, ‘Jack Reacher’), David Koepp (‘Jurassic Park’, ‘Mission: Impossible‘, ‘Spider-Man’), Jon Spaihts (‘Prometheus’, ‘Passengers’, ‘Doctor Strange’) dan Jenny Lumet, putri sineas Sydney Lumet dari skrip pemenang awardRachel Getting Married’. Bergerak dengan nama-nama besar ini, Universal tampaknya tak main-main dengan sejumlah judul yang sudah disiapkan dalam proyek shared universe-nya.

Nick Morton (Tom Cruise), tentara AS di Perang Irak secara tak sengaja menemukan mumi berusia ribuan tahun bersama partnernya Chris Vail (Jake Johnson) di sebuah situs kuburan kuno berdasar peta harta karun yang dicurinya dari arkeolog Jenny Halsey (Annabelle Wallis), yang juga ikut menyusul ke sana. Alih-alih mau mengamankan benda bersejarah yang sudah dicurigai oleh Jenny dan belakangan diketahui merupakan sosok putri Mesir Kuno Ahmanet (Sofia Boutella), serangkaian teror menyusul menempatkan mereka semua, termasuk dunia, dalam keadaan bahaya, sementara satu-satunya petunjuk ada di balik sosok misterius Dr. Henry Jekyll (Russell Crowe) dengan sepasukan lengkap pemburu monsternya.

Alasan Universal memanfaatkan nama Tom Cruise dan Russell Crowe ke dalam usaha revamp franchise mereka ini mungkin merupakan hal tepat atas predikat keaktoran keduanya – terutama di ranah status blockbuster komersil. Sayangnya, dasar plot dan skrip yang dibesut secara keroyokan dari nama-nama besar itu seakan tak mampu mempertahankan jalinan cerita yang kuat sebagai proyek inisial ‘Dark Universe’.

Dalam usaha tipikal sebuah Tom Cruise-driven movie, di mana ia selalu jadi sentral yang paling dieskploitasi di film-filmnya, turnover karakter Nick yang digagas kelewat abu-abu itu juga kerap terasa unlovable dan annoying. Sementara eksplorasi ke karakter-karakter selebihnya, terutama dr. Jekyll, Jenny Halsey dan Chris Vail – yang sebenarnya masing-masing berpotensi jadi inisiator ala Nick Fury di MCU, love interest yang bukan sekedar damsel in distress, dan sidekick  yang menarik, tak pernah terasa punya motivasi cukup kuat. Yang sedikit lebih parah adalah Sofia Boutella sebagai villain utama sekaligus pengantar setup karakter Cruise ke universe-nya. Aktris berdarah Algeria yang dikenal lewat ‘Street Dance 2’ dan kemudian begitu menarik perhatian lewat ‘Kingsman’ ini tak bisa mengulang auranya di kedua film itu, apalagi menyaingi penampilan Arnold Vosloo di dua instalmen awal ‘The Mummy’ versi Sommers.

CGI action highlights yang sudah kita saksikan lewat trailer-nya pun hampir tak menyisakan selebihnya secara berimbang, membuat setup menarik di bagian-bagian awal yang cukup menarik berbalik semakin kacau balau, berjalan seperti versi PG-13 dari ‘Lifeforce’, scifi horror-nya Tobe Hooper, menuju klimaks yang selain tak cukup kuat juga seakan tak pernah mampu menghadirkan balance yang baik antara horor – dengan penggunaan jump scares agak berlebih, action dan sempalan komedi yang tetap dipertahankan seperti versi Sommers. Beberapa gimmick popped-up versi 3D-nya juga tak sepenuhnya bisa membantu.

Kekurangan-kekurangan ini mau tak mau membuat kelangsungan nasibnya sebagai proyek inisial dalam rencana besar shared universe tadi menjadi sangat dipertanyakan. Meski tak sepenuhnya jelek sebagai sekedar tontonan hiburan, sejumlah hasil awal BO di Korsel yang memecahkan rekor pembukaan film impor dan presale di China paling tidak masih menyisakan kekuatan nama Cruise sebagai vehicle utama untuk membawa penonton ke bioskop.

Hasil BO-nya yang lagi-lagi akan menentukan pengembangannya berlanjut atau tidak, namun yang jelas Universal harus bekerja lebih keras lagi dalam bangunan konsepnya. Sementara, versi 2017 ini justru membuat kita semakin kangen untuk menyaksikan kembali dua instalmen awal versi Sommers dengan fun-adventure factor yang kuat bersama chemistry jempolan Brendan FraserRachel Weisz dan pendukung-pendukungnya; John Hannah, Oded Fehr ataupun DwayneThe Rock Johnson di sana. This is a rather weak setup for the shared ‘Dark Universe’. (dan)