Home » Dan at The Movies » MANTAN (2017)

MANTAN (2017)

MANTAN: A BRIEF NOTE ON THE MOVIE

Sutradara: Gandhi Fernando

Produksi: Renee Pictures, 2017

Mantan Poster

Sudah menjadi kebiasaan beberapa tahun terakhir, bahwa produser film Indonesia memang enggan merilis film di bulan Ramadan; sebelum masa panen raya dengan sejumlah blockbuster Lebaran yang dirilis sekaligus. Selagi memang tak ada larangan dari pihak ekshibitor, Gandhi Fernando dengan Renee Pictures agaknya cukup berani mengambil langkah berbeda buat merilis film terbarunya ‘Mantan’ di minggu kedua Ramadan tahun ini. Apalagi, ia harus bersaing dengan film-film summer blockbuster luar yang hampir bisa dipastikan selalu laku keras di bioskop-bioskop kita. Ada pula anggapan bahwa film lokal tak perlu takut bersaing dengan blockbuster luar selama potensinya ada; seperti misalnya film-film komedi Raditya Dika yang kerap mengambil kesempatan di momen itu.

Di luar hal ini mungkin merupakan sebuah kesadaran yang bagus terhadap sebuah produk dari produsennya, Gandhi mungkin memang menyadari bahwa dalam eksistensi genre yang diusungnya dalam tontonan lokal, ‘Mantan’ lebih berupa sebuah film independen yang juga tak akan mendapat banyak layar, walau bukan berarti sama sekali tak punya daya jual dari ensemble cast-nya. Selain dia, ada 5 aktris yang cukup dikenal di sana; Luna Maya, Kimberly Ryder, Karina Nadila, Ayudia Bing Slamet dan debut dari penyanyi Citra Scholastika. Terpulang lagi pada anggapan sebuah film tetap akan menemukan pangsa pemirsanya sesuai potensi yang ada, ‘Mantan’ memang bukanlah sebuah film dengan bujet rata-rata film kita. Secara taktis, Gandhi menggagas bujetnya berada di kelas jauh di bawah biasanya; meski bukan juga jadi produk asal-asalan seperti kebanyakan yang ada.

Ikut berperan sebagai salah satu karakter kecil atas ajakan Gandhi yang sejak lama saya kenal setelah debutnya di ‘The Right One’, it’s really not my capacity to write a review on the movie. Ini lebih ke sebuah catatan kecil terhadap filmnya, berikut sebagian kecil pengalaman masa produksi yang melibatkan partisipasi saya di dalamnya; saat Gandhi dan kru kecilnya, sutradara Svetlana Dea dan dua kru lulusan IKJ melakukan syuting di kota tempat domisili saya di Medan.

Sebagai pencinta film Indonesia dan juga berada di kapasitas penilai sebagai seorang movieblogger, critics, pengamat – terserah anggapan masing-masing orang sekarang yang membaca ulasan-ulasan saya – termasuk para kolega, tentu saya juga menginginkan hasil film yang melibatkan partisipasi saya di dalamnya; dari sekedar supervisi skrip yang cukup sering saya lakukan, konsultan produksi yang lebih berupa profesi sampingan di salah satu PH lokal MagMA Entertainment, atau ikut berperan di filmnya, merupakan karya yang layak buat disimak.

Premis yang diceritakan Gandhi saat mengajak saya ikut serta tampil sekilas sebagai sahabat dari karakternya di Medan, memang terdengar sangat menarik, dan juga punya potensi untuk dibesut sesuai niatnya membuat sebuah film dengan kapasitas independen dari bujet produksi. Sinopsisnya bisa dibaca di mana-mana, tentang seorang penulis bernama Adi yang berkeliling ke 5 kota menyambangi mantan-mantannya untuk memastikan langkah yang akan ditempuhnya bersama tunangan pilihannya.

Apalagi, Svetlana Dea, sutradara wanita yang cukup jarang kita temukan di film-film kita, juga ada di circle pertemanan beberapa lulusan IKJ yang saya kenal lebih dulu. It’s always good for networking, mengenal lebih banyak kru film kita karena saya juga punya profesi sampingan sebagai konsultan kreatif di industrinya. Melalui proses post-production-nya, dubbing dialog singkat karakter yang saya perankan juga terpaksa diisi oleh seorang teman, blogger/critics turns director Witra Asliga dari ‘3 Sum’ dan the upcoming horror, ‘The Returning’ karena saya berhalangan hadir.

Mendengar juga sedikit prosesnya dari Gandhi dan Vincent Jose, rekan sesama komite pemilih di Piala Maya yang ikut berpartisipasi di proses post-pro sekaligus pembuatan subtitel Inggris-nya, sayangnya saya lagi-lagi tak bisa hadir pada gala premiere-nya yang digelar cukup seadanya di Jakarta. So, saya menyaksikan ‘Mantan’ pada hari pertama penayangannya di Medan dengan sedikit ekspektasi atas beberapa review rekan-rekan blogger yang sudah menyaksikan premiere-nya. Terlebih karena sejak awal saya juga tak terlebih dulu membaca skrip lengkapnya.

And I could say I was relieved melihat hasil yang ada. Gandhi, yang berproses cukup panjang sejak debutnya di ‘The Right One’ memang adalah sosok sineas yang cukup mau belajar dan berusaha untuk menciptakan film-film yang variatif lewat rumah produksi Renee Pictures yang dulunya digagasnya bersama Laura Karina. Dari ‘The Right One’ yang punya banyak sekali kekurangan namun tetap berusaha tampil beda lewat full english-dialogues yang sayangnya tak tersampaikan dengan baik, lantas muncul ‘Tuyul: Part 1’ yang sama sekali tak jelek sebagai sebuah remake dari creature feature legendaris di film kita.

Diversifikasi genre itu lantas kembali ditampilkan Gandhi lewat komedi ‘Pizza Man’ dan thriller gialloThe Midnight Show’ yang mungkin menjadi produksinya yang paling baik. Meski ambisinya lebih buat menjadi aktor ketimbang produser/sutradara, hingga sering dicemooh sebagian orang, rasanya sah-sah saja buat seorang pemain di sebuah industri memutuskan menjemput gayung ketimbang menunggu. Tak ada yang salah dengan itu asalkan ada proses pembelajaran yang terlihat di dalamnya. Eskalasi film-film Renee Pictures, paling tidak menunjukkan niat itu.

Mantan’ pun tak terlepas dari sejumlah kekurangan. Niat Gandhi untuk menampilkan sesuatu yang beda sebagai sebuah dialogue-driven romantic comedy, memang belum sepenuhnya memiliki skrip yang rapi. Selagi sebagian dialog-dialognya memang cukup cermat membidik konflik-konflik yang akrab di ranah relationship para audiensnya, tak jarang – dalam durasi kurang dari 80 menit, pengembangannya terasa cukup bumpy. Motivasi dari tiap karakternya pun tak seluruhnya bisa terbaca dengan baik. Namun, bentukan karakter yang digagas Gandhi dari 5 karakter mantan itu rasanya termasuk cukup rapi buat membedakan satu dengan yang lain termasuk ke inti konflik masing-masing dengan karakternya.

Beruntung ia mendapatkan cast yang bisa menyampaikan karakter-karakter ini dengan cukup baik. Highlight-nya ada di penampilan Luna Maya sebagai Tara dan Kimberly Ryder – lewat keputusan tepat bangunan karakter Juliana dengan dialog full berbahasa Inggris di lini teratasnya, lantas Ayudia dan Karina Nadila di bawahnya, sementara Citra Scholastika agaknya masih perlu jam terbang lebih dan sayangnya tak didukung bagian yang kuat dari skrip terlebih dari pilihan twist yang digelar Gandhi. Dan ini juga tertebak lewat gestur Gandhi memerankan Adi sejak awal. Aktingnya menunjukkan peningkatan, namun mungkin lebih baik kalau clue lewat gestur itu sedikit lebih disamarkan demi twist yang ditampilkan lewat post credits di pengujungnya.

Selebihnya memang ada pada masalah keterbatasan dalam bujet produksi, yang membuat penceritaannya akhirnya hanya mengandalkan set sejenis ditambah insert-insert landmark dan bandara tiap kota yang dibesut Svetlana dengan cara gerilya. Di beberapa bagian, sinematografi dari Petir dan Rendra Yusworo terlihat cukup berusaha memanfaatkan indoor set serba sempit di tiap kamar hotel tempat Adi bertemu dengan para mantannya, dan bisa dimengerti pula, editing dari Andhy Pulung sudah cukup baik menyunting kesinambungannya walau scoring-nya kerap kurang mendukung, tak sekuat pilihan lagu sebagai soundtrack yang digunakan Gandhi – termasuk lagu luar ‘Something Beautiful’ dari Tim Halperin yang sebelumnya sudah digunakan di salah satu film kita yang lain.

Begitupun, keseluruhannya tetap terasa sangat menarik di tengah premis sederhana yang mengandalkan dialog-dialog panjang para karakternya. Berpegang ke konsep itu, ‘Mantan’ tetap mengedepankan kekuatan well-known cast dan tak kelewat asyik tenggelam sendiri sebagai produk obscure a la arthouse yang sulit diikuti public audience kita. Gandhi memilih tampilan akhirnya sebagai light indie film dengan flow yang cukup komunikatif dengan sempalan-sempalan komedi yang sebagian besarnya bisa meledakkan tawa; salah satunya saat ia melakukan self mocking terhadap etnis dan kultur darah asalnya sendiri. Ini tetap menunjukkan kiprah Gandhi dan Renee dalam diversifikasi genre yang diusung rumah produksinya dengan eskalasi kualitas di beberapa sisi meski berhadapan dengan keterbatasan tak terhindarkan, dan itu artinya harus dihargai lebih. (dan)

danieldokter

danieldokter

Daniel Irawan adalah pemilik situs ini.
danieldokter

Latest posts by danieldokter (see all)