Home » Dan at The Movies » A FAMILY MAN (2017)

A FAMILY MAN (2017)

A FAMILY MAN: A SMALL FAMILY DRAMA WITH CRUCIAL ANSWER TO ITS TAGLINE

Sutradara: Mark Williams

Produksi: Zero Gravity Management, Vertical Entertainment, 2017

A Family Man poster

Image: twitter.com/cinema21

Menunggu rilis ‘Transformers: The Last Knight’ bersama 4 blockbuster Lebaran Indonesia, minggu-minggu ini memang seakan jadi minggu tenang buat bioskop, apalagi blockbuster yang minggu ini tayang di AS, ‘Baywatch’ – ditunda hingga selesai Lebaran bersama ‘Cars 3’ entah atas alasan apa, sementara ‘Rough Night’ belum jelas nasibnya. Namun begitu, beralih dari hingar-bingar film-film studio besar itu, ‘A Family Man’ agaknya bisa menjadi variasi yang cukup bagus.

Berjudul awal ‘The Headhunter’s Calling’, film seperti ‘A Family Man’ ini, tak seperti dulunya di  tahun ‘80-90an, merupakan genre yang sekarang sepertinya dijauhi oleh studio-studio besar Hollywood. Bisa dihitung dengan jari, terakhir ada ‘Collateral Beauty’ yang memang tak lagi bisa diterima baik oleh kritikus maupun box office. Ia menjadi sesuatu yang langka di tengah formula teknologi dan film-film independen yang sibuk mengulik bentuk-bentuk baru sinema kontemporer yang hampir wajib harus dipenuhi twists and layers agar bisa dibilang pintar.

Dane Jensen (Gerald Butler), seorang headhunter andalan di sebuah agensi rekrutmen tengah bersaing dengan koleganya Lynn Vogel (Alison Brie) untuk memperebutkan promosi dari pimpinan mereka Ed Blackridge (Willem Dafoe). Kesibukan dan ambisi yang membuatnya kerap menjadi sosok tanpa hati ini juga mau tak mau membuat Dane semakin menomorduakan Elise (Gretchen Mol) dan kedua anaknya hingga sebuah kejadian mulai merubah semuanya; menempatkan Dane dalam persimpangan sulit di antara prinsip; atau mengorbankan semua demi mendapatkan kembali bagian yang hampir hilang dari dirinya. Hati.

Sebagai debut penyutradaraan produser Mark Williams dari ‘The Accountant’ dan film joint venture Indonesia-AS ‘Java Heat’, ‘A Family Man’ mungkin terasa masih dipenuhi sejumlah kekurangan. Skrip dari Bill Dubuque – juga talenta bagus lewat ‘The Accountant’ dan ‘The Judge’ – sayangnya tak sepenuhnya konsisten di atas template yang tak lagi baru; separuh drama profesi dan separuh lagi melodrama keluarga dengan elemen soal penyakit.

Entah mungkin ingin menghindari bentukan-bentukan klise yang biasanya tampil kelewat hitam putih di genre sejenis, sejumlah motivasi dalam bentukan karakternya justru membuat proses penceritaannya sering terasa agak lemah. Tapi untunglah Williams mendapat deretan cast yang cukup baik menutupi kekurangan itu. Ada Gerald Butler; aktor yang bisa bertransformasi dengan baik di genre aksi maupun drama, aktris ’90-an Gretchen Mol, Alfred Molina, Willem Dafoe hingga aktor senior India Anupam Kher. Aktor cilik Maxwell Jenkins juga bermain baik selayak kreditnya yang dibandrol dengan sebutan introducing di posternya. Hanya sayangnya Alison Brie yang terasa masih kurang dieksplorasi.

Tetap, satu hal terpenting yang akhirnya membuat ‘A Family Man’ jadi sangat sayang buat dilewatkan adalah Williams dan timnya tak ragu ke mana mereka akan membawa tagline penting ‘What are you working for?’ yang diusung ‘A Family Man’. Paling tidak, babak akhirnya bisa mengalir begitu emosional terutama buat pemirsa yang tak jauh beda dengan gambaran karakter Dane; yang sehari-hari bisa kita temukan di mana saja termasuk sebagian dari diri kita sendiri. Where you don’t have to be a father with particularly the same problem, tapi mungkin bagian dari keluarga yang sering menenggelamkan harapan anggota-anggotanya di tengah ambisi-ambisi berbeda.

Pada ujung akhirnya, konklusi Dubuque dalam skrip ‘A Family Man’; lewat dua dialog terpenting di dalamnya, mengemas semua sekaligus menjawab tagline tadi dengan sangat manusiawi untuk menyadarkan pemirsanya bahwa dalam kesalahan sebesar apapun masih ada kebaikan yang tersisa buat harapan-harapan itu. Lagi-lagi, buat banyak orang sekarang – moral-moral yang sama soal life victory seringkali dianggap cemen. Padahal kita seharusnya tak pernah berpaling dari karya-karya yang selalu mengingatkan kita terhadap arti keluarga. (dan)