Home » Dan at The Movies » SWEET 20 (2017)

SWEET 20 (2017)

SWEET 20: MORE THAN THE ORIGINAL; A FUN, HEARTFELT & FESTIVE HOLIDAY BLAST
Sutradara: Ody C. Harahap
Produksi: Starvision Plus, CJ Entertainment, 2017

Salah satu letak kehebatan Korsel dengan K-Cinema-nya adalah mereka tak terlalu ambil pusing dengan ide-ide orisinil, tapi mencomot sana-sini dari luar; Hollywood hingga sinema Asia lain, lantas mengemasnya dengan kreatif menjadi sesuatu yang fresh tanpa peduli sebanyak apa jejak asli yang tertinggal di dalamnya. Begitu baiknya sambutannya hingga dalam beberapa kasus, industri aslinya membeli balik IP rights-nya.

Miss Granny’ (Susanghan Geunyeo) dari CJ Entertainment adalah salah satu contoh nyatanya. Film rilisan 2014 yang disutradarai oleh Hwang Dong-hyuk; banting stir dari drama-drama depresifnya; ‘My Father’ (2007) dan ‘The Crucible/Silenced’ (2011) tak hanya berhasil menjadi huge box office hit tapi juga memenangkan banyak awards di negaranya. Mengambil inspirasi kebalikan dari ‘Big’-nya Tom Hanks (1988, Penny Marshall), film yang dibintangi Shim Eun-kyung dan Na Moon-hee ini juga mengimbas banyak negara hingga akhirnya terus bersambut menjadi versi remake ke berbagai negara.

Bagusnya, CJ tetap menggawangi tiap versinya baik dalam supervisi produksi dan sebagai co-financier untuk menjaga loyalitas kontennya, dari China; ’20 Once Again’ (2015), ‘Sweet 20’ (2015) yang menjadi film terlaris dalam sejarah sinema Vietnam, ‘Suspicious Girl / Ayashii Kanojo’ (2016) dari Jepang, ‘Suddenly 20’ (2016) dari Thailand dan Indonesia dengan judul sama ke versi Vietnam, ‘Sweet 20’. Setelah itu masih akan ada versi AS dan Spanyol, serta India dan Filipina.

Walau ada beberapa modifikasi dari skrip besutan Upi untuk mengadaptasinya ke konten serta sematan kultur lokal – termasuk homage ke musik pop klasik kita, secara mendasar, plot-nya memang tetap berada di garis yang sama dengan asli dengan paduan kemasan romance, komedi, drama keluarga serta unsur musikal sebagai bagian yang padu.

Miss Granny versi kita kini hadir dalam sosok Fatmawati (Niniek L. Karim); nenek rempong berusia 70 tahun yang tinggal bersama anak; Aditya (Lukman Sardi), menantu; Salma (Cut Mini) dan dua cucunya; Juna (Kevin Julio) dan Luna (Alexa Key). Sehari-hari melatih tari Melayu dan berkumpul bersama old flame-nya Hamzah/Hamsky (Slamet Rahardjo); duda beranak satu dari putrinya Bunga (Tika Panggabean) yang tak kunjung mendapat jodoh dan Rahayu (Widyawati Sophiaan) yang seolah jadi saingannya merebut perhatian Hamzah, kecerewetan Fatma berujung pada rencana Aditya mengirimkannya ke rumah jompo atas desakan Salma. Merasa terpukul dan pergi dari rumah, secara tak sengaja ia menemukan studio foto ‘Forever Young’ yang menjadi titik balik konflik barunya. Menjelma menjadi gadis berusia 20 tahun (Tatjana Saphira) dalam penyamaran di balik nama artis idolanya, Mieke Wijaya dan jadi anak kos di rumah Hamzah, yang terjadi tentulah serangkaian kekacauan. Bukan hanya Juna yang memintanya menjadi vokalis band, Fatma juga menarik perhatian Alan (Morgan Oey) atas keindahan paras dan suaranya; sementara Aditya yang menyadari kesalahannya terus mencoba menemukan jejak Fatma.

Letak kesuksesan utama ‘Sweet 20’ sebagai – mungkin – salah satu remake lokal terbaik yang pernah dibuat; ada pada performa Tatjana Saphira yang secara mengejutkan melompati level akting dari film-filmnya selama ini. Dengan kecermatan tim casting memilih Tatjana, di tangannya, karakter Fatma muda muncul benar-benar tanpa cacat, meyakinkan semua pemirsa bahwa sosok Niniek sebagai Fatma lansia ada di setiap gestur dan ekspresinya; menyamai kekuatan akting Shim Eun-kyung di versi asli dan Davika Hoorne di versi Thailand-nya, namun dengan kualitas sweetheart lebih lagi.

Akting no-holds-barred yang muncul tanpa batasan-batasan ja’im itu juga membentuk chemistry yang luarbiasa adorable dengan semua pasangan mainnya. Tonal shifting yang juga dengan sempurna diarahkan Ody C. Harahap; salah satu directing talent terbaik kita di genre sejenis (‘Kapan Kawin?’) itu diterjemahkannya dengan baik sebagai kekuatan sentral dari sentuhan-sentuhan komedi nyeleneh ke dramatisasi menyentuh termasuk adegan-adegan flashback efektif dalam tiap sisi penuturannya; bahkan kala harus bernyanyi melantunkan sejumlah nomor-nomor pop klasik; ‘Payung Fantasi’, ‘Layu Sebelum Berkembang’, ‘Bing‘-nya Titiek Puspa plus satu lagu baru karya Bemby Gusti; ‘Meraih Asa’; yang meski sedikit kurang kuat sebagai new theme song-nya namun tetap bisa bekerja dengan baik di bagian-bagian finale-nya.

Bersinergi bersama akting hebat Tatjana dan Niniek; Slamet Rahardjo, Morgan Oey dan surprisinglyKevin Julio, seakan berlomba-lomba mencuri bagian mereka. Slamet Rahardjo belum pernah terlihat sesantai ini memainkan method acting jempolannya – namun tetap begitu terjaga, sementara masing-masing Morgan dan Kevin mengisi sparks karakternya; heartthrob producer dan remaja labil yang jadi anak manja buat sang nenek.

Di lini berikutnya ada Lukman Sardi yang mengisi dramatic climax-nya dengan begitu menyentuh, Cut Mini dan Tika Panggabean sebagai comic relief yang sangat menyegarkan – selagi salah satu kejutan terbesar yang tak kalah hebat muncul dari Widyawati dalam peran yang sangat jarang dan mungkin sama sekali belum pernah kita lihat keluar dari sosoknya yang biasa, apalagi kala ia ber-trio bersama Slamet dan Niniek. Masih ada dukungan cameo dan supporting bertabur bintang a la Starvision dari Alexa Key, Nina Kozok, Ardit Erwandha, Tomy Limmm, Karina Nadila, Barry Prima, Henky Solaiman, Joe P Project, Rudy Wowor berikut aktris senior Rima MelatiRina Hasyim dan satu kejutan menarik di pengujungnya.

Tak boleh dilupakan pula sisi teknis yang hadir dari sinematografi Padri Nadeak, tata artistik dari Vida Sylvia Pasaribu (lihat artistik studio foto ikonik yang dipenuhi poster film klasik kita) plus tata rias dari Novi Ariyanti dan kostum Dara Asvia yang selain memberi penekanan akulturasi lintas era juga nuansa festive dan nostalgiknya bersama scoring Aghi Narottama dan editing Aline Jusria – yang mutlak diperlukan dalam penyuntingan bagian-bagian komedik yang secara mulus hampir nonstop meledakkan semua lontaran jokes-nya. Sementara bersama homage ke scene pop klasik tadi, masih ada versi blues-rock lagu Melayu klasik Lili SuhaeriSelayang Pandang’ dari Gugun Blues Shelter yang sangat membantu semakin menaikkan level kemeriahannya sebagai tontonan menyambut liburan lebaran.

Dalam konteks yang sama, lama setelah ‘Get Married’ yang juga datang dari Starvision, baru ‘Sweet 20’-lah yang mungkin punya level selebrasi sama besar atas eksistensinya sebagai sebuah holiday movie serba meriah. Dalam genre rarities film kita ke tema-tema romcom fantasy yang benar-benar tergarap baik, ia juga standout dibanding yang lain. Dan dalam ragam adaptasi ‘Miss Granny’ pun, terutama buat pemirsa kita, ia unggul dalam sematan kultur lokal yang sama sekali tak terasa dipaksakan serta tetap membawa jiwa asli source-nya dengan begitu hidup. Semua kekuatan yang berpadu membentuk sebuah absolute beauty yang tak hanya mau melucu tapi tetap di ujung akhirnya mengenyakkan kita terhadap makna besar dari interkoneksi dalam keluarga. Got the right amount of laugh and just the perfect heart over such loving ensemble that perfectly kills it, ‘Sweet 20’ tetap konsisten meledakkan tawa di tengah mata berkaca-kaca. Even more than the original, a fun, heartfelt and festive blast! (dan)