Home » Dan at The Movies » TUBELIGHT (2017)

TUBELIGHT (2017)

TUBELIGHT: A MESSAGE TOO IMPORTANT TO IGNORE
Sutradara: Kabir Khan
Produksi: Salman Khan Films, Kabir Khan Films, 2017

Image: firstlookonline.com

Selain di perayaan Diwali, Bollywood juga punya momen spesial perilisan blockbuster di saat Lebaran. Momen ini juga menjadi milik Salman Khan beberapa tahun terakhir sebagai salah satu superstar terbesar mereka selain dua Khan lainnya; Shah Rukh dan Aamir. Absen di 2013 digantikan Shah Rukh lewat ‘Chennai Express’, sejak 2009 dengan ‘Wanted’, lantas ‘Dabangg’ (2010), ‘Bodyguard’ (2011), ‘Ek Tha Tiger’ (2012), ‘Kick’ (2014), ‘Bajrangi Bhaijaan’ (2015), ‘Sultan’ (2016), kini Salman Khan merilis ‘Tubelight’ yang sekaligus menjadi reuninya dengan sutradara Kabir Khan dari ‘Ek Tha Tiger’.

Melepas ikon action hero-nya sejak ‘Bajrangi Bhaijaan’, dalam ‘Tubelight’ yang merupakan saduran resmi dari film rohani Amerika ‘Little Boy’ karya sutradara Alejandro Gómez Montreverde yang mungkin tak banyak terdengar, Salman kembali mengeksplor peran-peran dramatisnya. Sayang mungkin karena terlalu terlena dengan kesuksesannya di ‘Bajrangi Bhaijaan’ dan ‘Sultan’, kali ini ia lupa bahwa predikatnya memerankan Laxman a.k.a.Tubelight’ yang sejak promonya menunjukkan sosok dengan gangguan kecerdasan, bukanlah sesuatu yang diinginkan penggemarnya. Walaupun tetap mengeruk untung, selain dicaci banyak kritikus, ‘Tubelight’ juga mencatat sejumlah rekor pembukaan tak terlalu menyenangkan dibanding film-film Salman yang lain.

Dijuluki ‘Tubelight’ sejak kecil karena gangguan kecerdasan itu, mengacu kepada lampu neon yang kedap-kedip dulu baru hidup, Laxman Singh Bisht (dewasanya diperankan Salman Khan) baru mendapat kepercayaan diri kala adiknya, Bharat (dewasanya diperankan Sohail Khan), yang bertolak belakang dalam disabilitas itu muncul sebagai pelindungnya di sekolah. Sayang kemudian perang Sino-India di awal tahun ’60-an memisahkan keduanya dengan Bharat yang diwajibkan mendaftar wajib militer. Dalam kesepiannya, Laxman yang berhati emas di balik keluguannya mulai bergaul dekat dengan Gu Won (Martin Rey Tangu) dan ibunya – Li Leing (Zhu Zhu) dari keluarga Cina, dan ini mengobarkan kebencian di antara penduduk atas perang yang tengah terjadi antara dua etnis itu. Kerap diprovokasi oleh Narayan (Mohammed Zeeshan Ayyub) sementara yang bisa membelanya hanya tetua desa Banne Chacha (Om Puri) dan putrinya Maya (Isha Talwar), muncul pula masalah baru dengan Bharat yang dikabarkan terperangkap di tengah garis lawan. Namun Laxman, dengan keluguannya, tetap percaya dengan semua harapannya terhadap keselamatan Bharat, and on the bigger scale – perdamaian.

Tak perlu rasanya membanding-bandingkan ‘Tubelight’ dengan ‘Little Boy’ dengan keberadaannya sebagai adaptasi resmi, karena ‘Tubelight’ memang dibesut Kabir Khan sepenuhnya dengan style konvensional melodramatis Bollywood di balik plot-nya yang sekilas memang terdengar luarbiasa naif. Salahnya lagi, skrip dari Kabir Khan dan Parveez Shaika memang di bagian-bagian awalnya tak sekalipun berusaha menutupi guliran plot tersebut dengan effort lebih sebelum babak kedua yang muncul jauh lebih lantang plus secuil twist yang agak berpanjang-panjang mendekati pengujungnya.

Instead, walaupun potensi itu sudah ada dari kehadiran karakter ilusionis Goga Pasha (cameo yang mengesankan dari Shah Rukh Khan sebagai highlighted surprise-nya), separuh plotTubelight’ melulu bergulir dengan preachy dan sama naifnya. Di satu sisi, ada sedikit usaha untuk menyamarkan kondisi Laxman untuk tetap lovable bagi pemirsanya, namun mungkin mereka lupa, untuk superstar sebesar Salman, lagi-lagi, ini bukan hal yang diinginkan – mungkin, banyak fans fanatiknya. Belum lagi, akting Salman juga belum sepenuhnya kuat dalam tendensi itu.

Begitupun, akting pemeran lainnya tetap bisa tampil baik di tengah penceritaan preachy dan naif dengan sisi melodrama over the top-nya. Sohail Khan, Salman’s real life sibling tetap membentuk chemistry yang meyakinkan di tiap scene mereka berdua, kemudian ada Mohammed Zeeshan Ayyub yang walaupun dibentuk sepenuhnya secara komikal tapi bisa terasa tetap proporsional. Yashpal Sharma sebagai Mayor Rajbir cukup mencuri perhatian bersama aktris Isha Talwar dalam peran singkatnya, dan ada Om Puri dalam penampilan terakhirnya sebelum tutup usia; tetap dengan elegansi di balik kualitas keaktorannya.

Namun kredit terbesar memang harus diberikan terhadap aktris/presenter MTV China Zhu Zhu yang memang sudah beberapa kali muncul di film-film joint venture dan internasional seperti ‘Cloud Atlas’ dan ‘The Man with the Iron Fists’, dan aktor cilik Martin Rey Tangu. Meski skrip itu tak pernah benar-benar baik membangun porsi karakter keduanya, bahkan ketika paruh keduanya membalikkan permainan mereka dari penelusuran naif ke thought-provoking morals yang perlahan mulai bisa bergulir menyentuh, mereka bisa membawa sparks yang bagus di setiap kemunculannya hingga ke song & dance sequence dalam ‘Tubelight’.

Kekuatan lain ‘Tubelight’ ada dari deretan lagu-lagu gubahan Pritam termasuk jagoannya; ‘Radio’ dengan koreografi tari yang asyik dan scoring Julius Packlam. Sisi ini paling tidak tetap muncul dengan festive dalam penekanan eksistensi ‘Tubelight’ sebagai blockbuster penuh selebrasi. Seperti banyak film-film Bollywood lain dengan konklusi akhir yang kuat, ketika pada akhirnya kita mulai bisa tergugah melihat keteguhan hati seorang Laxman, sang ‘Tubelight’ – paling tidak, moral kemanusiaan yang dipertanyakan ‘Tubelight’ secara thought-provoking di paruh keduanya, message of bonds and beliefs among diversities, yang juga terjadi di banyak kehidupan sosial termasuk situasi kita sekarang, tetap terasa terlalu penting untuk ditampik begitu saja. Bukankah pada akhirnya film yang baik adalah yang bisa membuat kita semua sebagai pemirsa ikut mendukung perjuangan karakter-karakternya? (dan)

danieldokter

danieldokter

Daniel Irawan adalah pemilik situs ini.
danieldokter

Latest posts by danieldokter (see all)