Home » Dan at The Movies » SPIDER-MAN: HOMECOMING (2017)

SPIDER-MAN: HOMECOMING (2017)

SPIDER-MAN: HOMECOMING; SWINGS SUPER-FUN AND DIFFERENTLY LIKE MARVEL’S JOHN HUGHES
Sutradara: Jon Watts
Produksi: Columbia Pictures, Marvel Studios, Pascal Pictures, 2017

Image: impawards.com

Selagi banyak orang menanyakan untuk apa Spider-Man lagi-lagi di-reboot ke layar lebar setelah trilogi versi Sam Raimi dan dua instalmen Marc Webb, moviegoers yang mengikuti seluk-beluk perkembangan franchise-nya sebelum akhirnya jatuh ke Sony/Columbia lalu kini kembali, walau tak sepenuhnya, ke Marvel, pasti tahu jawabannya. Menjadi instalmen ke-16 MCU (Marvel Cinematic Universe), Spider-Man dalam universe ini, yang diperankan oleh Tom Holland, sebelumnya sudah kita saksikan dalam ‘Captain America: Civil War’.

Tentu, kreativitas Kevin Feige menggagas MCU jadi pemain terdepan di genre paling populer abad ini, tak perlu dipertanyakan lagi. Di tangannya, skrip keroyokan yang ditulis duo scriptwriterHorrible Bosses’; Jonathan GoldsteinJohn Francis Daley bersama Christopher Ford, Chris McKenna (uncredited writerThe Girl Next Door’), Erik Sommers dan sutradara Jon Watts ini bukan lagi menjadi origin story yang sudah tiga kali kita lihat dari TV series ‘70an ke versi Raimi dan Webb, tapi lebih ke bagian yang melekat dari MCU dan ‘The Avengers’. No Uncle Ben, no spider sense, no bit by the spider scene dan banyak lagi, hingga masalah usia, Iron-Man mentoring, hi-tech suit dari Stark Industries dan much hotter Aunt May yang kini diperankan Marissa Tomei, semua membentuk versi yang walau tetap terasa akrab, tapi sama sekali bukan Spider-Man yang biasa kita lihat di film-film sebelumnya.

Dan secara tak terduga juga – dalam cara spesial Marvel Studios dan Feige memilih kandidat talentanya, Jon Watts yang awalnya dikenal dari proyek crowdsource fanmade movie yang digarap serius; ‘Our Robocop Remake’ (2014, scene 6) lantas membesut ‘Clown’ (2014) dan ‘Cop Car’ (2015) terpilih menjadi sutradaranya. Melakukan pendekatan genre dan referensi sebagaimana ciri khas instalmen-instalmen solo MCU, ‘Spider-Man: Homecoming’ kini digarap di atas spirit teen movies ’80-an ala film-film John Hughes lengkap dengan homage yang terbaca jelas ke elemen-elemen wajibnya.

Diawali dengan sepenggal prolog soal Adrian Toomes (Michael Keaton) dan teknologi alien Chitauri dari film pertama ‘The Avengers’, ‘Homecoming’ bergerak secara paralel dengan sekuens ‘Civil War’ ke aftermath-nya. Di tengah kehidupan pribadinya bersama Aunt May (Marissa Tomei), pendidikan SMU dan senior cantik gebetannya – Liz (Laura Harrier), Peter Parker (Tom Holland) yang bosan menunggu panggilan Stark buat menyelamatkan dunia menyuruh sahabatnya Ned Leeds (Jacob Batalon) meretas kostum Spider-Man untuk melacak kelompok Toomes yang menggunakan teknologi Chitauri untuk maksud jahat. Alih-alih menghilangkan jejak dari Tony Stark (Robert Downey, Jr.) dan asistennya Happy Hogan (Jon Favreau), Parker justru mengakses A.I. yang dipanggilnya Karen (disuarakan Jennifer Connely) dan sejumlah kecanggihan baru di kostumnya. Namun Toomes yang beralih rupa menjadi Vulture dengan teknologi itu juga tak main-main merancang terornya. Parker pun terpaksa berusaha menemukan jati diri sebenarya di balik superpower dan kostum yang dikenakannya. No matter what, all for the greater good.

Dengan formula baru yang sama sekali tak melepaskan keberadaan Spider-Man MCU dari keseluruhan universe-nya, tetap dalam semua racikan elemennya, Feige, Watts dan timnya memang berhasil menyuguhkan versi baru dari sosok manusia laba-laba ini. Di tangan mereka, Spider-Man bukan lagi berupa sosok superhero yang berdiri sendiri tapi dirancang sebagai bagian yang melekat ke MCU dan karakter-karakter intinya, dan ini bukan tanpa alasan.

Dikenal seolah sebagai salah satu dari ‘the holy trinity of the most well-known superheroes‘ bersama Batman dan Superman, melebihi karakter-karakter The Avengers lainnya, mereka tahu bahwa porsi Spider-Man dalam kolaborasi Sony dan Marvel harus ditahan untuk tak melangkahi tokoh-tokoh superhero dalam ansambelnya. Di situlah, karakternya lantas dibentuk sebagai seorang rookie-kid yang geeky, naif, more like a Spider-Boy yang kerap mesti didampingi Iron-Man di bawah Stark Industries dalam sebuah kisah pencarian jati diri ala film-film remaja ‘80an ala John Hughes. Di sisi lainnya, pengembangan story-arc yang beda ini berhasil pula memunculkan banyak elemen-elemen baru yang luar biasa menarik dalam tiap titik eksplorasinya, sementara kostumnya dirancang dengan bentuk lebih mendekati versi klasik serial TV ‘Spider-Man‘ yang dibintangi Nicholas Hammond (yang di sini dan beberapa negara Asia juga menjadi trilogi buat konsumsi bioskop) namun detilnya jauh lebih hi-tech. Super-fun dan luar biasa hilarious.

Menokohkan Peter Parker, Tom Holland muncul dengan gestur, ekspresi dan intonasi akting yang sesuai dengan gambaran karakternya. Mungkin tak selugu Tobey Maguire, tak setampan Andrew Garfield, tapi Peter Parker versinya tetap punya banyak sisi komikal Spidey yang masih belum kita temukan di adaptasi lainnya, dan ini dibawakan dengan pas termasuk kecerewetan Spidey yang lebih lagi saat beraksi menumpas musuh-musuhnya. Sementara Robert Downey, Jr., Jon Favreau bahkan Gwyneth Paltrow dan Chris Evansmostly as cameos, dimanfaatkan dengan pas buat mendampinginya bersama Marissa Tomei, aktor berdarah Hawaii Jacob Batalon yang menjadi scene stealer terkuat bersama Laura Harrier dan Tony Revolori buat mengisi character-arc wajib di film-film remaja serta penyanyi Zendaya dengan hint menarik sebagai karakter inti yang berbeda ke instalmen selanjutnya.

Bermain-main dengan characters diversity dengan euforia berlebih, almost runs amok like never before – yet in a good way, di luar mereka masih ada nama-nama lain yang cukup dikenal seperti Donald Glover, Tyne Daly, Bokeem Woodbine dan penampilan singkat Logan Marshall-Green, keduanya sebagai sosok villain komik ‘The Shocker’. Namun di atas semuanya, satu nama yang digagas Feige dan timnya di atas full respect ke sosok dan kualitas keaktorannya adalah Michael Keaton sebagai villain utama ‘Homecoming’. Skrip itu bahkan seolah sengaja menempatkan karakternya dengan balance of empathy dalam sosok villain menggantikan pola konflik serupa yang di dua versi sebelumnya dimuat ke dalam sosok Harry Osborn lewat peran James Franco dan Dane DeHaan; membuat Toomes/Vulture menjadi villain yang cukup kuat buat bentukan karakter Spider-Man di ‘Homecoming’.

Selebihnya, masih ada scoring Michael Giacchino yang menggabungkan komposisi asli Alan Silvestri di ‘The Avengers’ dengan main theme klasik versi animasi 1967 komposisi Paul Francis Webster dan Robert Harris plus beberapa part komposisi baru buat ‘Homecoming’, serta dua after credit scenes yang satunya luar biasa lucu. Namun yang jelas, di luar penyutradaraan Watts yang begitu berhasil menampilkan keseruan baru bersama kekuatan karakter di instalmennya, ‘Spider-Man: Homecoming’, swings differently like Marvel’s John Hughes, lagi-lagi menjadi trademark Feige sebagai seorang konseptor jempolan di ranah permainan yang benar-benar dikuasainya. Terserah Anda mau menempatkan ‘Homecoming’ ada di peringkat keberapa film-film MCU atau adaptasi layar lebar Spider-Man, dengan instalmen ke-16 dan film solo ‘Spider-Man’ pertama MCU ini, both the character and the universe are still in good hands. (dan)

danieldokter

danieldokter

Daniel Irawan adalah pemilik situs ini.
danieldokter

Latest posts by danieldokter (see all)