Home » Dan at The Movies » WAR FOR THE PLANET OF THE APES (2017)

WAR FOR THE PLANET OF THE APES (2017)

WAR FOR THE PLANET OF THE APES: THE GLORIOUS FINALE OF THE REBOOT TRILOGY
Sutradara: Matt Reeves
Produksi: Chernin Entertainment, 20th Century Fox, 2017

Image: impawards.com

Tak ada yang menyangka karir Matt Reeves, yang dimulai dari penulis skrip ‘Under Siege 2’ bakal jadi sangat respectable seperti sekarang setelah ia berkolaborasi bersama J.J. Abrams lewat serial ‘Felicity’ ke kursi penyutradaraan ‘Cloverfield’ dan remake romantic horror Swedia ‘Let Me In’. Tapi memang yang benar-benar mengangkatnya ke puncak popularitas itu adalah melanjutkan rebootPlanet of the Apes’ dalam format trilogi: Rise, Dawn dan sekarang finale-nya; ‘War for the Planet of the Apes’.

Sebagai salah satu franchise pentalogi scifi paling dikenal dari 1968 ke 1973 termasuk dua bagian serial TV dari 1974-1976, belum lagi sub-franchise, merchandising dan versi remake 2001 oleh Tim Burton yang sebenarnya bagus tapi dinilai gagal, ‘Planet of the Apes’ memang membawa isu yang relevan atas teori evolusi Darwin yang bisa terkoneksi ke aspek-aspek rasial hingga animal rights yang kian banyak disuarakan.

Inilah yang dengan cermat dituangkan produser Peter Chernin dengan sineas Rupert Wyatt ke dalam reboot awalnya di ‘Rise’ dalam pola fresh reboot – menarik plotnya dari sebelum versi asli, dan Reeves melanjutkannya dengan sukses di bagian kedua; ‘Dawn’, juga dengan cermat meletakkan setup ke puncak konfliknya; peperangan dua spesies yang saling terhubung dalam evolusi manusia. Di sisi lain, teknologi sinematis yang kini bisa menggarap tampilan kera-kera ini lewat motion capture performance secara realistis menjadikan trilogi reboot-nya benar-benar unggul dari sisi teknis.

War’ yang sedikit banyaknya memiliki premis mirip dengan ‘Battle for the Planet of the Apes’, instalmen final franchise aslinya, melanjutkan konflik yang sudah meruncing di ‘Dawn’. Di tengah peperangan yang terjadi antara satuan khusus militer di bawah nama Alpha-Omega (AO) yang dikepalai oleh sang Kolonel (Woody Harrelson) yang terkenal kejam dengan kera-kera pemberontak di bawah pimpinan Caesar (Andy Serkis), Caesar yang sempat membebaskan gorilla Red (Ty Olsson); salah satu kera pengikut Koba (Toby Kebbell) yang kini bekerja untuk AO dan dijuluki ‘Donkeys’ harus menerima konsekuensi yang tak diharapkannya lewat pengkhianatan kera albino Winter (Aleks Paunovic). Kehilangan istri, Cornelia (Judy Greer) dan anaknya, Blue-Eyes (Max Lloyd-Jones), menyisakan putra kecilnya Cornelius (Devyn Dalton), Caesar pun nekad meninggalkan sukunya untuk membalaskan dendamnya terhadap sang Kolonel.

Didampingi orangutan Maurice (Karin Konoval), gorilla penasehatnya Luca (Michael Adamthwaite) dan simpanse Rocket (Terry Notary), mereka terpaksa membawa serta gadis kecil bisu Nova (Amiah Miller) yang orangtuanya terbunuh oleh Caesar serta belakangan bertemu dengan simpanse tua Bad Ape (Steve Zahn), mantan penghuni kebun binatang sebelum virus Simian Flu menyebar, yang punya taraf kepintaran seperti Caesar. Menelusuri jejak sang Kolonel dan AO hingga ke daerah perbatasan misterius, kenyataan yang ditemukan Caesar jauh melebihi apa yang dibayangkannya. Niatnya membalas dendam pun berujung ke motivasi perjuangan yang lebih besar lagi untuk menuntaskan perang suci antara dua spesies primata ini.

Hal terkuat dalam ‘War’ sebagai pamungkas reboot trilogy ini jelas ada pada skrip yang ditulis oleh Reeves bersama Mark Bomback yang juga ikut menulis ‘Dawn’ dan sejumlah sekuel/remake Hollywood lain dari ‘Live Free or Die Hard’, ‘Total Recall’ hingga ‘The Wolverine’. Kecermatan bangunan ide yang sudah terbangun dengan konsisten sejak ‘Rise’ sebagai sebuah scifi medical-thriller mereka lanjutkan dalam ‘Dawn’ yang mungkin kelewat muram nyaris seperti sebuah horor, lantas kini menjadi genre war-action sesuai judulnya.

Namun begitu dalam semua aspeknya, ‘War’ tak lantas bergerak linear bak kisah-kisah vigilante ataupun perang biasa. Skrip itu kemudian secara cerdas membenturkannya ke metafora-metafora pintar yang berbaur antara nafas antiperang, protes lantang soal animal rights, medical issues soal pandemi virus bahkan konsep-konsep society di tengah konflik perang sipil dan antar spesies menuju finale yang adil buat karakter-karakter yang tak juga pernah sekalipun berakhir dengan gambaran hitam putih tapi lebih ke soal konsekuensi dan motivasi personal tokoh-tokohnya secara detil. Semua eskalasi interkoneksi antara karakter-karakter ini mengalir lancar, manusiawi sekaligus menyentuh tanpa sekalipun terasa dipanjang-panjangkan dalam durasi 140 menitnya.

Di situ, permainan emosi dan pameran aksi berbaur di atas keindahan estetika visual yang digelar Reeves sebagai entry paling gemilang yang juga dengan leluasa memuat homage dari original source ke sejumlah film perang klasik seperti ‘Apocalypse Now‘ (di sini secara terus terang tergambar lewat relief bertuliskan ‘Ape-pocalypse Now‘) dan ‘The Great Escape‘, bahkan membuka peluang kelanjutannya ke template persahabatan dua tokoh manusia – kera yang dulunya diperankan Charlton Heston dan Roddy McDowall. Selagi aktor-aktor mocap performance-nya terutama Andy Serkis sebagai Caesar dan Steve Zahn dalam comic relief parts-nya sebagai Bad Ape memainkan karakter-karakter kera ini dengan begitu hidup di atas presentasi hi-tech CGI, karakter manusia yang dibawakan Woody Harrelson dengan kedalaman eksplorasi a la Marlon Brando dalam ‘Apocalypse Now‘ muncul dengan seimbang bersama beberapa side characters-nya. Namun yang paling menarik mungkin adalah aktris cilik Amiah Miller sebagai Nova yang bisa jadi di-plot untuk kontinuitas berikutnya nanti.

Di sisi teknisnya, sinematografi DoP veteran Michael Seresin meng-capture tiap detil lansekap medan perangnya dengan begitu mengagumkan. Sound effect & editing yang juga jempolan membawa tiap gulir finale peperangannya muncul dengan dentuman dahsyat bersama scoring bagus dari Michael Giacchino. Membawa pemirsanya terombang-ambing bak menaiki sebuah rollercoaster seru penuh emosi tanpa pernah lupa excitement factors dari pameran aksi bahkan selipan humornya sebagai sebuah blockbuster dan franchise yang tetap menjual tanpa kehilangan kelas, ini, harus diakui adalah pencapaian terbesar Reeves sepanjang tanjakan karirnya. The ultimate pack of hearts, excitements and visual aesthetics, ‘War for the Planet of the Apesis the glorious finale of the reboot trilogy, and might be the best entry among all the series. This summer’s winner! (dan)

danieldokter

danieldokter

Daniel Irawan adalah pemilik situs ini.
danieldokter

Latest posts by danieldokter (see all)