Home » Dan at The Movies » JAB HARRY MET SEJAL (2017)

JAB HARRY MET SEJAL (2017)

JAB HARRY MET SEJAL: THE RING THAT DOESN’T RING RIGHT
Sutradara: Imtiaz Ali
Produksi: Red Chillies Entertainment, Yash Raj Films, 2017

Image: boxofficetimes.com

Modernisasi dan liberalisasi sinema India, terutama Bollywood, memang tengah menjadi trend sekarang ini. Kebanyakan produk mereka di ranah romcom sebagai salah satu komoditas terbesarnya kini menolak menampilkan stereotip yang sudah berpuluh tahun terkungkung oleh batasan moral. Juga dalam sisi penceritaan yang melangkah ke ranah artsy-fartsy meninggalkan pola konvensional namun tetap dalam keseimbangan komunikatif yang baik, sejumlah gambaran dari kissing scenes ke pre-marital sex, meski bukan juga vulgar, kini bukan lagi hal yang tabu oleh banyak sineas-sineas gen-x-nya.

Imtiaz Ali merupakan salah satu sineas yang ada di generasi itu. Sejak debutnya di Socha Na Tha (2005), sutradara-penulis dan produser ini melaju lewat Jab We Met (2007), Love Aaj Kal (2009), Rockstar (2011) hingga Tamasha (2014) yang semuanya jadi judul-judul wajib dalam sinema Bollywood kontemporer. Tak semua berhasil di box office, namun rata-rata bisa menjadi representasi wajah baru sinemanya. Jab Harry Met Sejal yang awalnya berjudul The Ring sebelum akhirnya menyemat atribut spesial ke romcom Hollywood klasik When Harry Met Sally (bukan remake) bisa dibilang karyanya yang paling ambisius karena untuk pertama kalinya Ali bekerjasama dengan superstar Shah Rukh Khan dan Anushka Sharma di porsi lead-nya. Dan satu yang harus diingat, walaupun karya-karya Ali kerap menyemat modernisasi sinemanya, ia tak pernah lantas jadi terlalu artsy dengan wrapping yang tetap berwujud komersil, hanya saja punya value lebih.

Sebagai lajang tua yang bekerja sebagai seorang guide buat turis-turis India di Eropa, Harindar ‘Harry’ Singh (Shah Rukh Khan) selalu bisa bermuka dua dalam meladeni klien-kliennya. Mengisi waktunya berpindah dari satu wanita ke wanita lain sambil mengisi kerjaannya, ia tak bisa menolak kala Sejal Zaveri (Anushka Sharma) menawarkannya bayaran untuk mencari cincin pertunangannya yang tercecer di tengah tur. Perjalanan kembali mengarungi Eropa ini berlanjut menjadi petualangan penuh kekacauan yang mulai membenturkan pilihan-pilihan antara perbedaan prinsip dan hati di antara keduanya.

Berpegang sepenuhnya pada chemistry Shah Rukh dan Anushka yang memang sudah teruji sejak duet mereka di Rab Ne Bana Di Jodi (2008) sebagai hampir hanya dua karakter yang mendominasi layar, problem terbesar Jab Harry Met Sejal terletak pada skrip yang ditulis sendiri oleh Imtiaz Ali. Kerap terasa dipenuhi inkonsistensi dalam bangunan karakter Harry juga Sejal, ini mungkin terjadi karena perubahan tone dari ide awal Ali yang sebenarnya terdengar depresif soal karakter Harry yang cenderung suicidal. Skrip dan penerjemahan plot yang kita lihat tetap berusaha menampilkan aspek-aspek traumatis dalam latar karakternya namun tak sayangnya tak sekalipun berhasil memperjelas motivasi.

Akibatnya, apa yang kita dapatkan di hasil akhirnya adalah dua karakter bertolak-belakang yang jadinya kerap terasa annoying dengan motivasi serba blur. Shah Rukh dan Anushka sebenarnya sudah terlihat berusaha menerjemahkan dinamika karakternya, terlebih Shah Rukh yang di sini sama sekali tak mementingkan tampilannya yang biasanya dipoles serba muda dan fresh, namun skrip itu tak membawa mereka bergerak ke mana-mana, bahkan dengan sematan latar kultur yang sebenarnya bisa jadi katalis yang kuat. Berkali-kali terasa jalan di tempat dan repetitif, perjalanan plot-nya justru terkadang seakan lari keluar jalur dengan side characters tak masuk akal seolah terpisah dari dunia nyata. Dan ini tetap tak bisa membaik menuju secuil twist dan ending klise yang juga tergarap sangat seadanya.

Salahnya lagi, tatanan lagu yang biasanya bisa sangat membantu dalam film-film sejenis juga tampil tak spesial. Komposisi Pritam plus DJ Diplo yang membawa nafas EDM ke salah satu nomornya, Phurr; mungkin menarik namun tetap tak cukup menutupi kekurangan lain termasuk koreografi tari yang biasa-biasa saja, begitu pula background score dari Hitesh Sonik. Hanya sinematografi dari K.U. Mohanan yang bisa dengan cantik menampilkan panorama perpindahan set-nya mengarungi lokasi-lokasi Eropa, serta tentunya, chemistry di antara Shah Rukh dan Anushka yang paling tidak bisa sedikit membantu penceritaan kacau balau tadi.

So, apa boleh buat. Tak heran kalau rata-rata resepsinya berakhir dengan perolehan box office yang juga jadi pencapaian terendah Shah Rukh di film-filmnya. Mengulang kegagalan Tubelight sebagai sajian eid tempo hari, Bollywood agaknya mesti mulai memikirkan modifikasi yang tepat buat meng-handle superstar mereka setelah tahun lalu menjadi salah satu pencapaian terbaik sinemanya lewat sejumlah karya-karya fenomenal. Jab Harry Met Sejal tetap bisa menghibur terlebih buat fans Shah Rukh dan Anushka, tapi secara keseluruhan, bukanlah karya Ali maupun film yang spesial. The Ring that doesn’t ring right. (dan)

danieldokter

danieldokter

Daniel Irawan adalah pemilik situs ini.
danieldokter

Latest posts by danieldokter (see all)