Home » Dan at The Movies » THE HITMAN’S BODYGUARD (2017)

THE HITMAN’S BODYGUARD (2017)

THE HITMAN’S BODYGUARD: A LOOSE CANNON AND NO HOLDS BARRED BUDDY ACTION-COMEDY
Sutradara: Patrick Hughes
Produksi: Millennium Films, Cristal Pictures, Lionsgate, 2017

Image: impawards.com

Saat sebagian besar aktor begitu takut terjebak typecast, tak banyak mungkin aktor yang berani memanfaatkan image karakter yang sudah melekat padanya untuk melangkah ke film-film lain termasuk berpromosi di luar film hingga ke sosmed. Ryan Reynolds mungkin adalah salah satu pengecualian itu belakangan ini. Sosoknya yang sudah melekat ke Deadpool yang nyeleneh justru jadi base yang kuat bagi The Hitman’s Bodyguard yang dari jauh-jauh hari sudah memulai viral promotion-nya dalam menjual kegilaan dan tone serba nyeleneh nyaris bak sebuah parodi dari The Bodyguard-nya Kevin CostnerWhitney Houston atau poster promosi a la Dirty Harry.

Bersama Samuel L. Jackson yang pada dasarnya juga bukan komedian namun sudah sangat dikenal lewat peran Nick Fury di MCU, pernah pula berperan di film parodi Lethal Weapon; National Lampoon’s Loaded Weapon Part 1 bersama Emilio Estevez, mix and match keduanya dalam The Hitman’s Bodyguard menjadi daya tarik lebih yang sangat menjual. Seperti Deadpool yang dipasangkan bersama Nick Fury di universe berbeda, deretan trailer berikutnya yang tak kalah nyeleneh semakin menekankan potensi kegilaannya.

Tapi satu yang mungkin terlewat dari perhatian banyak orang adalah nama Patrick Hughes sebagai helmer-nya. Sutradara asal Australia yang mengawali feature layar lebar di film lokal negaranya, Red Hill (2010) sebelum akhirnya mendapat pengakuan internasional sebagai sutradara spesialis film aksi setelah direkrut Sylvester Stallone membesut The Expendables 3 memang punya bakat besar di genre-nya. Sayang ia batal menyutradari remake US The Raid yang dihentikan sebelum memulai masa produksi. Dengan promosi yang lebih menjual sisi komedi, tak ada yang memperhitungkan ke mana Hughes akan membawa The Hitman’s Bodyguard di genre buddy action-comedy-nya.

Proses pengadilan internasional yang akan dilangsungkan terhadap diktator fiktif sebuah negara Eropa Timur, Belarusia; Vladislav Dukhovich (Gary Oldman), berujung kekacauan kala agen-agen interpol yang mengawal seorang saksi; pembunuh bayaran kelas wahid Darius Kincaid (Samuel L. Jackson), diserang oleh sekumpulan algojo misterius. Agen Amelia Roussel (Elodie Yung) yang mencium adanya pengkhianatan dalam satuannya lantas menghubungi mantannya, Michael Bryce (Ryan Reynolds), seorang bodyguard yang kehilangan kredibilitasnya atas sebuah kasus masa lalu, untuk mengawal keselamatan Kincaid, tanpa mengetahui Bryce dan Kincaid adalah musuh abadi dari agensi masing-masing. Mau tak mau terpaksa bekerjasama sambil terus mencoba mempecundangi satu sama lain, misi ini pun berlanjut ke sebuah roadtrip kacau-balau dari Amsterdam menuju Den Haag di tengah kejaran pembunuh bayaran sewaan Dukhovich yang siap melenyapkan mereka kapan saja.

Skrip yang ditulis oleh Tom O’Connor dari produk DTV Bruce Willis – Josh Duhamel, Fire with Fire, tanpa disangka bisa meramu The Hitman’s Bodyguard di atas sebuah reference play dari Hughes yang mengisi interkoneksinya secara campur aduk hingga nyaris berupa sebuah meta, bukan saja dari genre buddy action tapi juga sampai menyenggol parodi a la ZAZ (Zucker-Abrahams-Zucker), trio sineas di balik film-film macam The Naked Gun hingga Hot Shots ke (lagi-lagi) gimmick pop library ’70-‘90an dari Lionel Richie, Foreigner, Ace of Base hingga King Harvest.

Bangunan komedi situasional yang memang sudah terbentuk dari premis buddy comedy-nya, membuat Jackson jadi jagoan tangguh di tengah peran objek penderita pakem komedinya ke Reynolds, masih diramaikan lagi dengan beragam bentuk lain dari slapstick hingga screwball comedy, kadang tumpang tindih, kacau serta unpredictable, terasa sangat seenaknya, dan memang memerlukan waktu untuk benar-benar bisa menyatu dengan baik bersama permainan adrenalin yang juga sudah dimulai dari awal dengan guliran adegan-adegan action yang digarap seru bahkan cenderung sadis.

Lewat plot roadtrip yang diwarnai panorama Eropa terutama Amsterdam lewat sinematografi Jules O’Loughlin, sejumlah pengenalan karakter yang ada bersama side characters lain juga disemat dengan baik sebagai pemicu yang perlahan mulai menaikkan tensi bersama eskalasi interaksi karakter Bryce – Kincaid ke titik temu persimpangan genre-nya. Ada Salma Hayek yang dimanfaatkan sangat menarik sebagai Sonia, istri Kincaid yang menjadi motivasinya sebagai saksi, termasuk lewat sebuah adegan flashback yang jadi salah satu highlight scene, juga Joaquim de Almeida dan eksplorasi lebih ke karakter-karakter intinya.

Uniknya, di tengah predisposisi komedik yang luar biasa nyeleneh, dasar premis dan karakter-karakter villain-nya tetap terjaga tak ikut menciptakan banyolan, sekaligus membawa Gary Oldman kembali ke porsi salah satu karakter villain terkuat yang dulu sempat kita lihat dalam The Professional-nya Luc Besson. Selipan-selipan adegan aksinya pun tertata serius dengan peningkatan intensitas yang rapi di tengah signature Hughes, sinematografi O’Loughlin dan fast-paced editing dari Jake Roberts (Hell or High Water).

Namun memang, The Hitman’s Bodyguard benar-benar menemukan momentum-nya di sepanjang paruh keduanya, di mana erratic comedy sekaligus high octane action-nya dilepas bak loose cannons tanpa penghalang buat meledakkan tawa di tengah pacuan adrenalin luar biasa kencang dan terus menanjak hingga finale showdown-nya yang sangat intens, bahkan bisa dengan leluasa tetap mempertahankan aspek screwballbattle of the sexes comedy bercampur romantisasi yang sesekali bahkan muncul dengan menyentuh.

Meramu semua elemen itu dengan adegan-adegan aksi baku hantam, duel senjata hingga chasing action lengkap dengan mobil, motor bahkan boat sepanjang kanal Amsterdam, semua rangkaian keseruannya benar-benar terasa unpredictable dan muncul tanpa peringatan, dan inilah kekuatan terbesar The Hitman’s Bodyguard menjadi sebuah kejutan di pengujung film-film musim panas tahun ini.

Sekarang, sebut semua referensi yang bercampur aduk di genre buddy movie; dari Midnight Run ke Lethal Weapon di adegan penutup lengkap dengan hint scoring blues a la Michael KamenEric Clapton dari penata scoring Atli Örvarsson, self-reference dari aktor-aktor yang tampil macam Desperado ke film-film Reynolds dan Jackson, bahkan film-film parodi trio ZAZ macam Airplane! berikut feel ke genre movies era ’80 – ‘90an di atas plesetan kolaborasi 4 karakter dalam genre superhero; DeadpoolNick FuryElektra ke Komisaris Gordon, ini juga sekaligus jadi sisi paling menarik dalam menguak referensi yang ditampilkan Hughes ke dalam racikan penuh kejutannya. Komedi gokil tanpa sekalipun kehilangan keseriusan aksi dengan tensi luar biasa tinggi, a loose cannons and no holds barred buddy action-comedy! (dan)

danieldokter

danieldokter

Daniel Irawan adalah pemilik situs ini.
danieldokter