Home » Dan at The Movies » THE BATTLESHIP ISLAND (2017)

THE BATTLESHIP ISLAND (2017)

THE BATTLESHIP ISLAND (군함도): A MASSIVE, TAUT AND GRIPPING KOREAN HISTORICAL WAR EPIC
Sutradara: Ryoo Seung-wan
Produksi: Filmmaker R& K, CJ Entertainment, 2017

Image: hancinema.net

Sinema Korea selalu punya cara untuk mengemas produk-produknya dengan baik, dan seringnya, production values yang terjaga memang membuat tampilannya jadi yang terdepan di sinema Asia. Datang dari sutradara Ryoo Seung-wan, salah satu sineas blockbuster terdepan mereka sekarang ini sejak The Berlin File dan Veteran (sebelumnya ia juga sudah membesut film-film bagus seperti Arahan dan The City of Violence), The Battleship Island memang disiapkan sebagai blockbuster dengan skala raksasa dalam set pieces, adegan-adegan aksinya, sekaligus mengkolaborasikan tiga aktor mereka yang sangat dikenal ke dunia internasional.

Ada aktor terbaik sinema Korsel Hwang Jung-min yang sudah beberapa kali bekerjasama dengan Seung-wan termasuk dalam Veteran, bersama dua aktor yang lebih dikenal sebagai idola drama serial terkenal mereka, So Ji-sub dan Song Joong-ki. Kolaborasi tiga nama ini paling tidak sangat melebarkan potensi jualannya. Selagi penggemar K-cinema sudah jelas mengenal Jung-min, fanbase So Ji-sub dari K-drama fenomenal I’m Sorry I Love You dan Memories of Bali (keduanya produksi 2004) yang lebih besar dari pemirsa film layar lebarnya, jelas tak main-main. Apalagi Joong-ki (A Werewolf Boy) yang tengah sangat bersinar lewat comeback-nya ke drama serial pasca wamil, Descendant of the Sun yang bagaikan jadi tontonan wajib semua pemirsa drakor.

The Battleship Island sendiri bukanlah sebuah film perang historikal biasa. Mengangkat salah satu situs bersejarah mereka yang dimanfaatkan imperialis Jepang sebagai penambangan paksa batu bara, Hashima Island (juga dikenal sebagai Gunkanjima yang artinya Battleship Island atas bentuk pulaunya) yang kini sudah menjadi pulau tak berpenghuni di prefektur perbatasan Nagasaki, sudah pernah juga digunakan sebagai lokasi set dalam sekuel Battle Royale. Latar belakang nyata ini dengan sendirinya sudah membuat The Battleship Island memiliki aspek menarik soal sejarah penjajahan Jepang terhadap Korea era ‘40an, walaupun setnya tak benar-benar berlokasi di Hashima, melainkan dibangun ulang di Chuncheon – dan sempat mengundang sejumlah kontroversi di balik tuduhan-tuduhan sentimen anti-Jepang.

Di masa PD II saat penjajahan Jepang terhadap Korea, sekitar 400 warga Korea tak bisa menolak kala dipaksa menaiki kapal menuju Pulau Hashima, sebuah pertambangan batu bara di perbatasan Nagasaki. Para pria-nya dipekerjakan secara paksa, sementara wanita menjadi wanita penghibur serdadu Jepang atau pembantu. Di antara mereka ada Lee Kang-ok (Hwang Jung-min), seorang pemain terompet dari sebuah homeband hotel yang berusaha menghalalkan segala cara demi melindungi putri kecil sekaligus vokalis band-nya, Lee So-hee (Kim Su-an), preman jalanan Choi Chil-sung (So Ji-sub) yang berjuang menjadi pemimpin tawanan menggeser pimpinan Korea yang sewenang-wenang, dan Oh Mal-nyeon (Lee Jung-hyun), wanita PSK yang kemudian ikut melindungi So-hee. Konflik mulai meruncing kala Park Moo-young (Song Joong-ki), seorang pejuang kemerdekaan disusupkan ke tengah-tengah mereka lewat misi membebaskan salah satu tokoh kemerdekaan yang juga menyimpan rahasia di balik keberadaannya di Hashima. Semuanya berujung ke sebuah gerakan pemberontakan untuk melarikan diri dari kekejaman Jepang saat bom sekutu mulai menghancurkan Hashima menuju Nagasaki.

Seperti gabungan dari dua film prison break Hollywood klasik; Papillon dan The Great Escape, di atas gagasan mendasar soal bagaimana perang membentuk manusia-manusia tak bersalah menjadi monster yang rata-rata ada di genre perang atau historikal yang lebih serius, skrip The Battleship Island yang ditulis sendiri oleh Seung-wan sebagaimana di film-filmnya yang biasa memang membangun atmosfernya lebih pada kekuatan karakter yang dibentuknya menjadi fokus penceritaan. Bersama itu, yang menjadi daya tariknya sebagai blockbuster berbujet besar tentulah adegan-adegan aksi dan kesadisan verbal di genre sejenis. Darah, potongan tubuh, mine disaster dan adegan-adegan penyiksaan berbaur bersama sentuhan-sentuhan action di antara interaksi karakternya, tapi bukan juga jadi suguhan yang eksploitatif. Semua terjaga dalam batasan-batasan yang baik.

Gelap dan realistis, tapi tak sekalipun terpeleset ke tone yang kelewat depresif bahkan nihilistik, sebagaimana di film-filmnya yang biasa, Seung-wan tetap menjaga eksistensi The Battleship Island ada di ranah blockbuster komersil dengan keterikatan kuat ke karakter-karakter utamanya. Di situ pula, signature sinema Korsel yang biasa dalam bangunan emosi membuat The Battleship Island menjadi luar biasa punya ciri sinemanya sendiri.

Tak hanya membentuk kaitan emosi yang kuat di antara karakter-karakter dalam keseluruhan plot yang dibangun soal patriotisme dan pengkhianatan, ia mungkin kerap membentuk pihak Jepang sebagai antagonis murni yang komikal dan kejamnya bukan main, sementara sebagian karakter-karakter intinya bukanlah heroik secara stereotip, tapi di dasarnya, membentuk semangat patriotisme bela negara yang luar biasa kuat dalam intensitas yang meningkat secara rapi dan benar-benar dilepas tanpa kompromi menjelang klimaks yang menghentak. Dalam konteks dasar regional negara asal produksinya, tak semua film bisa memunculkan spirit atau semangat-semangat yang sama.

The Battleship Island pun tak lupa menyemat kultur sebagai ciri kuat sinemanya. Dari berbagai aspek sosiokultur hingga sematan karakter Sang-ok dan homeband-nya, berikut musik jazz ala Amerika yang dilarang oleh imperialis Jepang, Hwang Jung-min sekali lagi menunjukkan kualitas keaktorannya untuk diserahi peran apa saja. Ia tak perlu dibentuk seputih-putihnya menjadi lead protagonis, tanpa pula mesti dikaruniai paras seganteng aktor-aktor Korea lain yang menjadi idola di mana-mana, tapi bekerja di tiap sisi penerjemahan karakter itu untuk mengundang empati yang pas dari pemirsanya. Dukungan kuat yang muncul dari pasangan main utamanya, aktris cilik Kim Su-an, juga sama luar biasa, membuat kita begitu memihak karakter mereka kemanapun skrip itu membawa plotnya bergulir.

Sementara So Ji-sub, semakin bertransformasi ke tipikal karakter-karakter yang jauh lebih badass di karir layar lebarnya meninggalkan typecast menye-menye di drama serial lewat postur berikut gestur, muncul secara mengejutkan; bukan hanya di adegan-adegan aksi baku hantam tapi juga dalam bagian-bagian yang menuntutnya bermain penuh emosi sebagai sosok antihero with hearts yang beralih perlahan lewat situasi.

Mengisi satu-satunya karakter yang lebih dibentuk secara total sebagai protagonis, Song Joong-ki mungkin masih setingkat di bawah mereka, namun bukan berarti tak membaur sama kuat sebagai kesatuan ansambelnya. Semua akting bintang-bintang pendukungnya, termasuk Lee Jung-hyun pun sama, membentuk kekuatan ansambelnya di atas dasar gagasan kuat soal interaksi, motivasi dan harapan-harapan manusia dalam sebuah kisah tersembunyi dari keberadaan Pulau Hashima dan sejarahnya.

Dari sisi teknis pun, The Battleship Island muncul sebesar skala produksi itu dalam menghidupkan semua ambisinya. Selain desain produksi menghidupkan kembali set Pulau Hashima dan semua props-nya, yang paling menonjol adalah sinematografi DoP peraih award Lee Mo-gae dari banyak film-film Korsel legendaris dari The Good, the Bad, the Weird, A Tale of Two Sisters, My Way hingga I Saw the Devil merekam semua atmosfer Hashima dengan mencekam sebagai latar yang kuat.

Namun tetap, pada akhirnya, sisi paling menonjol dari The Battleship Island adalah keterikatan semua unsurnya untuk membentuk aspek reaksional dari para pemirsanya; sebuah extreme patriotism yang memang berhasil dimunculkan dengan baik di balik semua kekuatan tata produksi dan akting para pendukungnya. Sebuah karya yang bisa membayar semua ambisinya dengan guliran emosi yang tak pernah melepas kita sebagai pemirsanya. A massive, Korean historical war epic with taut and gripping emotions that never let go, yang jelas akan diingat lama dan bertengger di banyak list karya-karya terbaik sinema Korea. (dan)

danieldokter

danieldokter

Daniel Irawan adalah pemilik situs ini.
danieldokter

Latest posts by danieldokter (see all)