Home » Dan at The Movies » CARS 3 (2017)

CARS 3 (2017)

CARS 3: LIGHTNING MCQUEEN GETS BACK ON THE WRONG TRACK
Sutradara: Brian Fee
Produksi: Walt Disney Pictures, Pixar Animation Studios, 2017

Image: impawards.com

Entahlah Coco yang dari trailer-nya memang sudah terlihat sangat menarik, tapi mungkin, mungkin – Pixar Animation Studios sudah harus mengakui keunggulan banyak studio animasi lain baik dari ide atau box office, bahkan mungkin, rumah besar mereka sendiri. Tradisi merilis dua film dalam setahun dengan hanya satu kemenangan mutlak sejak The Good Dinosaur yang ketinggalan jauh dari Inside Out kini terulang kembali dalam instalmen ketiga salah satu franchise terbesar mereka selain Toy Story; Cars.

Trailer dan promo yang muncul berbeda membawa tone film-film Pixar yang semakin menjauh dari pangsa pemirsa belia yang penuh dengan kesenangan mungkin di satu sisi terlihat bagus, apalagi buat resepsi yang terbagi atas film pertama dan sekuelnya yang berbeda 180 derajat, namun ketakutan sebagian lagi soal keseimbangan fun dengan ide-ide out of the box serta kedalaman storytelling, akhirnya terbukti bahkan tak sampai separuh durasinya, yang rasanya akan lebih membuat penonton larut dalam kebosanan ketimbang kemeriahan rata-rata produk animasi segala umur.

Melanjutkan ending Cars 2 di mana Lightning McQueen (disuarakan Owen Wilson) memilih kembali ke balapan Radiator Springs ketimbang menjadi agen rahasia, Cars 3 membawa kita ke status dan prestasinya sebagai juara Piston Cup 7 tahun berturut-turut yang kini mulai menurun. Mulai tergantikan oleh kedatangan Jackson Storm (Armie Hammer), pembalap rookie generasi baru yang angkuh dengan teknologi canggihnya, ia malah terlibat dalam sebuah kecelakaan serius yang mengharuskannya mundur sementara dari sirkuit balapan. Disemangati kekasihnya, Sally (Bonnie Hunt) dan rekan-rekannya termasuk Mater (Larry the Cable Guy), McQueen mulai mengumpulkan semangatnya di bawah pimpinan Rust-eze baru, Sterling (Nathan Fillion) yang mengharuskannya berlatih ulang bersama pelatih Cruz Ramirez (Cristela Alonzo). Namun perbedaan metode latihan modern ini mulai membuat McQueen jengah hingga memutuskan untuk menelusuri jejak mentor-nya, Doc Hudson (masih disuarakan alm. Paul Newman) lewat mobil tua Smokey (Chris Cooper), mantan mekanik dan pelatih Doc di pedalaman Thomasville, Georgia, hingga akhirnya perlahan mulai menyadari apa sebenarnya yang ia cari selama ini.
Memilih jalur kontemplatif yang bukan lagi merupakan hal baru di sports movie franchise seperti Rocky, skrip yang ditulis oleh Bob Peterson (co-director Up dan Finding Nemo), Mike Rich yang menulis banyak film-film sports dari Miracle, Invincible ke Secretariat, dan Kiel Murray, sayangnya seakan kebingungan meramu beberapa konflik post-power yang sudah dimulai dari bagian plot Rocky III hingga benar-benar berbalik menjadikan Rocky sebagai pemain di balik layar dalam Creed; yang memerlukan lebih dari tiga dekade dan 5 film,  ke dalam durasi sebegitu singkat.

Sementara debut penyutradaraan Brian Fee, storyboard artist/prop designer/animator yang sudah malang melintang di Disney/Pixar sejak Pocahontas II hingga menjadi senior creative team di Inside Out juga seakan ragu-ragu buat menggagas proses estafet berupa ‘passing the torchturnover ini terhadap karakter Lightning McQueen dan Cruz Ramirez. Entah mau terlihat beda dari yang lain, tapi jadinya kerap terasa bertele-tele tanpa juga memberi ruang cukup untuk side characters yang selama ini justru membuat Cars menjadi sangat hidup dan bertabur pengisi suara cukup dikenal.

Apa yang terjadi akhirnya hampir seluruhnya menghilangkan sisi fun yang jelas masih diperlukan untuk kelangsungan nafas franchise-nya, tapi jauh di balik itu, resiko terbesar yang ditanggungnya adalah membunuh karakter kesayangan para penggemar Cars selama ini, bukan hanya fans Lightning McQueen tapi juga karakter-karakter pendukungnya yang sudah begitu akrab ke para pemirsa film-filmnya.

Keraguan ini bahkan masih terlihat hingga bagian-bagian finale-nya di mana mereka masih berusaha menyisakan ruang atas reaksi yang bakal muncul, namun selain membuat kompetisinya terasa tak benar-benar adil atas peraturan yang ada dalam sebuah tim balapan, sayangnya lagi, bentukan karakter yang mereka semat ke Cruz Ramirez – yang disuarakan komedian Meksiko-Amerika Cristela Alonzo pun sama sekali tak bisa menyaingi elemen-elemen menarik yang ada pada Lightning McQueen dan rekan-rekannya terutama Mater atau Doc Hudson. Sulit rasanya kita bisa yakin anak-anak akan berebut mendapatkan mainan Ramirez yang sama sekali tak menarik, malah kemungkinan mereka akan lebih tertarik dengan Jackson Storm yang jauh lebih cantik, mengkilap dan serba hi-tech hanya dari bentuknya saja.

Menyisakan hanya satu adegan seru juga cukup lucu di sebuah dirt track balapan bebas Demolition Derby melawan bus/truk monster, mau tak mau, Cars 3 memang sulit buat menghindari feel depresif yang kian diperparah dari tone suara Owen Wilson yang makin terdengar seperti karakter dalam penanganan depresi berat. Satu-satunya yang masih terasa sangat sakral dan tetap menyentuh adalah pemanfaatan suara alm. Paul Newman yang tak terpakai di film pertama sebagai Doc Hudson di beberapa adegan flashback. Walaupun jelas punya pesan sportivitas yang baik terhadap peranan dan pencarian jati diri seorang juara tangguh, juga effort Pixar yang selalu ingin terlihat beda dari yang lainnya, kehilangan sisi fun hampir pada seluruh aspek penceritaannya ini tentu sangat tak diharapkan bagi penggemar franchise-nya yang tak bisa dipungkiri sebagian besar terdiri dari usia belia dan anak-anak yang tumbuh tak hanya bersama dua film layar lebar tapi juga seluruh franchise dan merchandising-nya.

Kembali lagi pada konsekuensi sebuah pilihan yang memang terpulang pada penggagasnya, Cars 3 memang tak bisa dipandang hanya lewat satu sisi sebagai sebuah kesalahan. Paling tidak, kekuatan brand-nya bersama nama besar Pixar tetap akan mengundang penonton dari berbagai kalangan usia untuk menyaksikannya. Begitupun, dari sisi bisnis terutama di aspek merchandising-nya ke depan, membunuh karakter kesayangan yang jadi jualan utamanya selama ini, ini sulit dipungkiri – adalah sebuah tindakan bunuh diri. Get back, but rather on the wrong track, mungkin lebih baik mereka melanjutkan kiprah McQueen dan rekan-rekannya sebagai agen rahasia dalam petualangan seru serta lucu melawan kemauan kritikus dan para pemirsa dewasanya. Mungkin. (dan)

danieldokter

danieldokter

Daniel Irawan adalah pemilik situs ini.
danieldokter

Latest posts by danieldokter (see all)