Home » Dan at The Movies » BAD GENIUS (2017)

BAD GENIUS (2017)

BAD GENIUS: SCHOOL HEIST WITH STRIKING VALUES OF INTEGRITY
Sutradara: Nattawut Poonpiriya
Produksi: Jor Kwang Films, GDH 559, 2017

Image: goldposter.com

Dibanding negara-negara ASEAN lain, film-film Thailand cukup rutin diimpor ke bioskop kita, bahkan sering mendatangkan sineas dan artisnya untuk promo di sini. Datang dari salah satu PH terbaiknya GTH yang kini bertransformasi dengan nama baru GDH 559 sejak One Day (2016), Bad Genius merupakan film mereka yang sangat fenomenal dan bertabur word of mouth bagus belakangan ini.

Tak hanya meraih sukses besar di negaranya dan menjadi film pembuka NYAFF (New York Asian Film Festival) pertama dari negara ASEAN, hingga ke Hong Kong dan Taiwan pun ia mencetak sejumlah rekor box office. Dan ini memang tak seperti biasa di mana film-film Thailand dengan kesuksesan sama atau lebih biasanya lebih menonjolkan formula sinema mereka yang tak jauh beda dengan kita: menjual lead berparas tampan atau cantik luar biasa diselingi komedian-komedian bertampang hancur buat jadi bulan-bulanan di sebuah romcom.

Menyadari penerimaannya di sebuah SMU prestisius terbantu oleh ‘uang pelicin’ dari sang ayah (Thaneth Warakulnukroh) yang hanya bekerja pas-pasan sebagai seorang guru, siswi cerdas Lynn (Chutimon Chuengcharoensukying) dengan cepat masuk ke pergaulan tak jujur yang ditawarkan oleh siswa kaya Pat (Teeradon Supapunpinyo), pacar sahabatnya Grace (Eisaya Hosuwan) atas sejumlah imbalan. Kliennya yang bertambah banyak membuat rahasia ini tercium oleh Bank (Chanon Santinatornkul), siswa cerdas saingan yang jujur yang kemudian mengadukannya ke kepala sekolah. Namun bukannya berhenti, permainan ini justru meningkat ke sebuah rencana penipuan lain dalam ujian penerimaan internasional STIC ke perguruan tinggi Australia. Keteguhan Bank yang juga bekerja mati-matian membantu ibunya yang hanya seorang binatu akhirnya runtuh juga kala sebuah kecelakaan menimpa dirinya hingga gagal memenangkan program beasiswa. Bergabung bersama Lynn sebagai joki, mereka tak menyadari bahwa konsekuensi yang menanti mereka sama sekali tak semudah yang mereka bayangkan, dan sewaktu-waktu bisa menghadapkan mereka pada sebuah pilihan sulit atas integritas di tengah kebohongan, kejujuran serta ambisi masing-masing.

Dengan banyak internet pitch sebagai The Perfect Score (2004; dibintangi Chris Evans dan Scarlett Johansson sebelum bergabung di MCU dan jadi seterkenal sekarang) versi Thailand yang sama-sama bertema school heist, konten-konten selipan ke(tidak)arifan Asia dalam Bad Genius ternyata melangkah jauh lebih kaya dari itu. Skrip yang ditulis sendiri oleh Nattawut Poonpiriya bersama Tanida Hantaweewatana dan Vasudhorn Piyaromna dengan penceritaan back and forth yang bergerak dari sebuah adegan interogasi secara efektif tak hanya mau membuat sebuah school heist, tapi jauh di dasarnya punya fondasi kuat soal protes mereka ke isu-isu di balik sistem pendidikan yang sangat relevan di Asia bahkan sehari-hari kerap kita jumpai di sini.

Memang, sebagai film ber-genre heist movies, resiko-resiko plot hole secara umum yang sulit dihindari tetap terjadi dalam konsekuensi pilihan untuk memunculkan trik-trik penipuan yang beda, seperti dalam latar kursus piano yang hanya akan disadari oleh pemirsa yang benar-benar memahami teknisnya, atau juga soal sterilitas lokasi ujian internasional yang sungguh tak sesimpel yang digambarkan. Belum lagi dengan pilihan-pilihan eksekusi yang sering terpeleset membuat beberapa karakter tambahan jadi kelewat komikal.

Namun begitu, kekurangan-kekurangan ini bisa tertutupi oleh kerapian mereka membangun setup serta mengatur tensi permainan dengan luar biasa terjaga. Seolah memindahkan sebuah heist movie ke bangku sekolah dengan kedekatan erat ke hal-hal serta proses yang jelas dialami hampir semua penontonnya, sematan isu sosial soal pendidikannya juga tak hadir hanya sekedar tempelan. Kita, sebagai pemirsanya bisa dibawa ke dalam rentetan ketegangan sambil sekaligus berkaca bahkan menertawakan pilihan-pilihan yang kita ambil selama melewati proses itu. Di situ juga lantas, oleh kecermatan Poonpiriya yang baru menelurkan satu film ber-genre thriller, Countdown – 5 tahun yang lalu, Bad Genius menjadi sebuah tontonan yang sangat tak biasa bahkan mendobrak formula klise yang kita dapatkan dari sinema mereka.

Dan ini semua tak akan terbangun dengan sebaik itu tanpa kecermatan teknis dan cast yang tepat. Di sisi teknis, sinematografi dari Phaklao Jiraungkoonkun merekam semua permainan penuh trik-nya dengan angle dan camera movement yang sangat dinamis. Tone-nya pun terlihat sangat berbeda dalam penekanan genre yang diusung Bad Genius sebagai sebuah heist thriller berlokasi tak biasa. Bersama penyuntingan dari Chonlasit Upaningkit yang juga jagoan, ritme hingga tensi itu jadi muncul begitu mencengkeram tanpa pernah sekalipun melepas perhatian kita dari layar.

Di sisi pemilihan cast-nya, rata-rata bukan Thai idol kelewat terkenal meskipun Santinatornkul dan Supapunpinyo sudah pernah bermain dalam sejumlah musim serial Hormones yang populer, keseluruhan cast dari 4 karakter utama hingga semua pendukungnya bisa muncul dengan kualitas akting sangat terjaga, sementara pendatang baru Chutimon Chuengcharoensukying yang parasnya lebih tergolong eksotis ketimbang jelita menjadi MVP yang menggerakkan roda terkuatnya bersama Santinatornkul.

Kredit lebih juga layak disematkan ke pemeran sang ayah, Warakulnukroh yang menjaga batas empati serta emosi terdalam dari semua proses serta sempalan isu-isu pendidikannya. Bentukan karakternya yang seolah menjadi elemen-elemen penting yang mengemas semua konklusi dari ide Poonpiriya tersampaikan dengan baik; dari soal sosio-edukasi hingga sosio-ekonomi, mostly lewat permainan ekspresi dari awal kemunculan hingga adegan-adegan pamungkas Bad Genius yang membawa sebuah value lebih besar lagi soal orangtua sebagai rumah pertama yang menentukan arah didikan kita. Kita bisa melangkah meninggalkan bioskop dengan satu tujuan; segera pulang dan memeluk orang terdekat kita yang selama ini berjuang tanpa pamrih di tengah semua keterbatasan yang ada.

Selagi sebuah heist movie dengan set apapun biasanya hanya menjual ketegangan lewat tensi permainan serta trik-trik tipuannya, inilah yang pada akhirnya membuat Bad Genius menjadi sebuah one of a kind baik di genre-nya maupun dalam level kualitas sinema negaranya. Bahwa ia, pada akhirnya bukan hanya menghibur dengan elemen-elemen wajib genre-nya. Membawa kedekatan isu sistem pendidikan yang luar biasa relevan di Asia bukan hanya sebagai protes tanpa isi – bahkan mampu membuat kita miris memikirkan kenyataan bahwa kecerdasan dan motivasi/kondisi ekonomi terkadang ada di batas tipis kelangsungan masa depan yang seringkali diwarnai ketidakadilan, ia mampu bicara lantang soal tiap lapis beda dari konsekuensi pilihan serta integritas manusia di atas sebuah nilai sungguh berharga bernama keluarga. School heist with striking values of integrity. (dan)

danieldokter

Daniel Irawan adalah pemilik situs ini.
danieldokter