Home » Dan at The Movies » A: AKU, BENCI DAN CINTA (2017)

A: AKU, BENCI DAN CINTA (2017)

A: AKU, BENCI DAN CINTA: A LITE ROMCOM WITH FRESH ASIAN LOOK
Sutradara: Rizki Balki
Produksi: MD Pictures, 2017

Image: mdpictures.co

Baik di film luar maupun film kita, genre romcom memang sudah punya template dan elemen-elemen wajibnya. Mengacu ke subgenre sekolahan pun begitu. Boy meets girl, battle of the sexes, cinta segitiga hingga selipan-selipan melodrama, semua jadi resep klise yang biasa mewarnai plot-nya. Diangkat dari novel laris berjudul unik karya Wulanfadi, A: Aku, Benci dan Cinta ini juga bukan lagi sebuah hal baru. Tema-tema sejenis yang sudah diangkat berulang-ulang sejak era ’80an di zamannya Rano KarnoLydia Kandou, walau tak salah juga, akhirnya hanya menyisakan tiga hal yang jadi faktor penentu keberhasilannya dalam konteks adaptasi layar lebar.

Dua hal pertama adalah bagaimana visi filmmaker dan penulis skrip-nya menuangkan source-nya ke dalam sebuah bentuk visual, dan selanjutnya, kecermatan dalam pemilihan cast. Untungnya, A: Aku, Benci dan Cinta memang punya kekuatan dalam semua hal itu, walau tetap punya sejumlah catatan. On-screen couple yang tengah naik daun; Jefri Nichol dan Amanda Rawles jelas merupakan komoditas paling panas sekarang di genre remaja bahkan ke horor laris Jailangkung lebaran lalu, di sini dipasangkan dengan dua nama yang juga sedang laris-larisnya di film kita; Indah Permatasari yang sebelumnya lebih banyak mengeksplorasi genre lebih dewasa serta Brandon Salim.

Anggia (Indah Permatasari), gadis berwatak keras di SMU National High sejak lama menganggap siswa womanizer Alvaro (Jefri Nichol) sebagai cowok paling menyebalkan. Meski kerap berseberangan, mereka terpaksa bekerjasama sebagai Wakil dan Ketua OSIS terutama dalam rencana prom night yang akan diadakan dalam waktu dekat. Perseteruan ini berujung ke penugasan dari guru yang mengharuskan Jefri menjadi tutor musik bagi Anggia selepas jam sekolah, yang lambat laun mulai membuat satu sama lain mengenal diri masing-masing, lantas mulai berkembang menjadi rasa suka. Namun tak mudah bagi mereka untuk mengakui perasaan ini, karena sebuah rahasia masa lalu juga mengaitkan Anggia dan Alvaro atas keberadaan Alex (Brandon Salim) dan Athala (Amanda Rawles), gadis malang yang masih terbaring dalam keadaan koma.

Skrip yang ditulis oleh Alim Sudio, salah satu scriptwriter paling laris yang cukup all-rounder dalam trend film adaptasi bahkan ke genre-genre reliji bersama Wulanfadi sebagai penulis novelnya sendiri, sebenarnya tak spesial. Selain memang berisikan plot yang mengkombinasikan banyak elemen-elemen generik dalam genre-nya, kelebihan kecil ada pada cara mereka menyusun penceritaannya. Dua karakter utama yang sebenarnya berpotensi selfish dan unlovable ini bisa tertutupi dengan spirit kisah cinta putih abu-abu yang digelar lebih ke ranah ceria buat menghindari belokan-belokan dramatis serba menye-menye dengan pendekatan romcom Asia seperti China atau Thailand yang sedang menjadi trend sekarang.

Dari dialog ke lirik theme song yang dijadikan vehicle ke twist and turn-nya, selain terasa sangat SMU bahkan kadang terdengar konyol, juga terasa cukup realistis sesuai pangsanya tanpa harus dipoles ke mana-mana. Ini membuat skrip Alim dan Wulan terasa hidup dan bisa menghadirkan sparks yang menggemaskan. Mereka juga tetap memberi ruang untuk karakter-karakter sampingan seperti yang diperankan oleh Mario Wiericx dan Syifa Hadju serta cameo Maxime Bouttier sambil meletakkan elemen slapstick-nya ke peran guru yang dimainkan oleh TJ Ruth dalam pendekatan itu.

Dan bagusnya, semua karakter utamanya bisa menerjemahkan spirit dan pendekatan tadi dengan baik. Membentuk chemistry yang juga sangat dinamis, penyampaian semua feel-nya, kapan mereka harus romantis, emosional, hingga konyol-konyolan, dengan sukses dibawakan Jefri, Indah – walaupun beberapa lafal Inggris-nya terasa janggal, Brandon dan Amanda sesuai dengan penempatan karakter masing-masing, walau mungkin ada secuil missed opportunities yang mungkin jadi flaws buat penggemar Jefri dan Amanda sebagai on-screen couple.

Ini, paling tidak, bisa meyakinkan penonton untuk berpihak bersama empati yang tepat terhadap tiap pilihan karakternya, yang tetap dijaga dalam batasan-batasan cukup universal bagi penonton segala usia tanpa harus overkill dan segmented hanya ke pangsa tertentu seperti yang kerap terjadi di romcom-romcom produksi Screenplay, misalnya. Lihat bagaimana Jefri dan Indah men-tackle dialog unyu-unyu di klimaks romantisnya hingga tak jatuh jadi sesuatu yang seringkali terasa awkward dan tak pas di film kita. Dalam kepentingan mutlak ending wrapping secara cantik di genre-nya, A: Aku, Benci dan Cinta sudah membungkus kemasannya dengan baik.

Namun yang paling menonjol di luar itu adalah penyutradaraan Rizki Balki yang baru memulai debut layar lebarnya. Membentuk sinergi yang bagus dengan skrip AlimWulanfadi dengan pendekatan romcom Asia kontemporer tadi, plus scoring apik Donny IrawanAlfa Dwiagustiar yang juga bertolak dari sana dengan elemen-elemen melodik theme song yang liriknya ditulis oleh Alim serta rendisi Terima Kasih Cinta-nya Afgan dari personil CJR Aldy Maldini, storytelling Rizki plus caranya membesut sematan-sematan visual pikiran karakternya secara imajinatif benar-benar membuat Rizki terlihat cukup menguasai referensi terhadap elemen-elemen romcom Asia-nya. Cantik sekaligus menggemaskan, ini membuat A: Aku, Benci dan Cinta bisa menutupi kekurangan-kekurangan yang ada dengan look dan feel yang fresh serta berbeda dari romcom lokal biasa. A lite romcom with fresh Asian look. (dan)

danieldokter

danieldokter

Daniel Irawan adalah pemilik situs ini.
danieldokter

Latest posts by danieldokter (see all)